Senin, 30 Januari 2023
08 Rajab 1444

Ketika Piala Dunia Qatar 2022 Penuh Intrik Geopolitik

Rabu, 30 Nov 2022 - 13:42 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Piala Dunia Qatar Geopolitik
Seorang penonton menyusup ke lapangan dalam pertandingan antara Portugal dan Uruguay di penyisihan Grup H Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail, Qatar, Selasa (29/11/2022) dini hari WIB. (Foto: Gettyimages/Richard Sellers)

Piala Dunia, ajang terbesar sepak bola, ternyata tak steril dari ulah konflik di luar dari ajang olahraga. Berbagai intrik mulai dari dugaan pelanggaran HAM, kampanye LGBTQ, rasisme hingga perselisihan antarnegara ikut terbawa dalam turnamen olahraga empat tahunan ini.

Hal terbaru terjadi ketika adanya Penerobosan (pitch invasion) di laga Portugal versus Uruguay pada penyisihan Grup H Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail Iconic, Lusail, Qatar, Selasa (29/11/2022) dini hari WIB. Wasit Alireza Faghani (Iran) menghentikan sementara laga itu pada menit ke-51 karena seorang lelaki berkaus logo Superman masuk ke lapangan sambil mengibarkan bendera pelangi simbol LGBTQ.

Sebelum berulah lebih jauh, lelaki yang bernama Mario Ferri (35), warga Italia, itu lantas tertangkap petugas keamanan sipil atau stewards yang berjaga. ”Saya kembali!” ungkap Mario di Instagram menjelaskan tindakan nekatnya tersebut pada laga itu.

Mario menyebut ia sebagai ”pembajak modern” karena sering melakukan ulah serupa sebelumnya, antara lain pada laga Piala Dunia Antarklub 2010 dan Piala Dunia Brasil 2014. Dia punya alasan melakukan hal nekat itu.

”FIFA melarang kapten memakai ban lengan pelangi dan bendera hak asasi manusia. Mereka melarang semuanya, tetapi bukan aku yang seperti Robin Hood,” ungkap Mario.

Baca juga
BEM Siap Demo Besar Minta Jokowi Tunda IKN dan Proyek Strategis yang Tak Perlu
Gettyimages 1245183371 612x612 - inilah.com
Petugas keamanan tengah menangkap seorang penonton yang menyusup ke lapangan pada pertandingan antara Portugal dan Uruguay di fase Grup H Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail, Qatar, Selasa (29/11/2022) dini hari WIB. Portugal menang 2-0.

Di Qatar, Mario menyuarakan sejumlah persoalan sosial-politik, mulai dari perang Rusia-Ukraina, hak-hak kaum LGBTQ, dan diskriminasi hak perempuan di Iran. ”Saya punya beberapa teman perempuan di sana yang menderita. Mereka tidak dihargai,” ujar pria berjuluk ”Si Elang” itu.

Ulah Ferri di sana, apa pun alasannya, mencoreng wajah Italia, negara yang absen di Piala Dunia Qatar. Kementerian Luar Negeri Italia pun menyatakan, pria yang pernah bermain sepak bola di banyak negara itu sempat ditahan kepolisian Iran. Namun, ia lantas bebas tanpa syarat.

Respons Pemain

Gelandang Portugal, Ruben Nevez, mengatakan, penerobosan ke lapangan adalah hal normal. Pemain klub Inggris, Wolverhampton Wanderers, itu bisa memahami alasan aktivis melakukannya.

”Kami tahu apa (isu-isu sosial-politik) yang terjadi di sekitar Piala Dunia Qatar,” katanya.

”Tim Merasakan (hal) yang dialami para perempuan Iran. Kami paham pesannya, seluruh dunia juga,” ujar Neves mengenai isu diskriminasi hak-hak perempuan di Iran.

Seperti Nevez katakan, masuknya suporter ke medan laga bukanlah hal aneh. Ajang paling bergengsi sejagat, Piala Dunia, bahkan tidak luput dari penerobosan itu.

Pergeseran Geopolitik

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran yang juga pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman mengatakan, atmosfer geopolitik di Piala dunia 2022 ini sangat terasa, karena ia melihat ajang tersebut merupakan panggung strategis untuk menyuarakan suatu pandangan. Ia menyoroti bagaimana Iran dan Qatar bersatu mendukung Palestina. Sementara negara barat menyebarkan liberalisme yang terus memunculkan perlawanan.

Baca juga
Empat Saham Cuan Saat IHSG Berbalik Naik ke 6.950

“Karena, tidak semua negara mau menerima liberalisme ala Barat. Banyak bangsa yang punya nilainya sendiri,” ungkap Dina dalam sebuah utas di Twitter, Rabu (30/11/2022).

“Yang sedang terjadi sekarang adalah pergeseran geopolitik global. Pemaksaan “nilai” yang AS/Barat lakukan sudah mendapatkan perlawanan yg serius dari “Selatan”. Unilateralisme AS sudah bergeser ke multilateralisme. Rusia, China, Iran, meski tak seragam ideologinya, tapi ada kesamaan nilai,” katanya lagi.

Pemandangan bendera Palestina sudah menjadi hal biasa selama Piala Dunia 2022 di Qatar [Foto: Al Jazeera/Hafsa Adil/]
Pemandangan bendera Palestina sudah menjadi hal biasa selama Piala Dunia 2022 di Qatar [Foto: Al Jazeera/Hafsa Adil/]

Laga Iran vs AS pada Rabu (30/11) dini hari kemarin yang berakhir dengan kemenangan Iran juga turut membawa isu politik dalam gelaran Piala Dunia kali ini menyusul permusuhan sengit antara kedua negara selama ini.

Baca juga
Cakupan Vaksinasi COVID-19 pada 2021 Sebesar 280 Juta Dosis

Permusuhan Teheran dan Washington makin terlihat setelah Iran melayangkan protesnya kepada Federasi Sepakbola AS melalui FIFA soal pemasangan bederanya yang tidak sesuai.

Federasi sepak bola Iran pada Minggu (27/11) mengajukan protes ke FIFA setelah US Soccer menghapus lambang di tengah bendera Iran dalam unggahan media sosial.

Bendera Iran terdiri dari tiga bagian horizontal berwarna merah putih, dan hijau, serta lambang nama Tuhan di tengahnya. Lambang itulah yang kena hapus dari bendera Iran dalam unggahan akun US Soccer di Twitter dan Instagram.

“Aksi menghina lambang negara lain ini melanggar aturan FIFA dan seharusnya tim AS dihukum,” kata Dina.

Tinggalkan Komentar