Kamis, 01 Desember 2022
07 Jumadil Awwal 1444

Ketindihan Saat Tidur Bukan Ulah Makhluk Halus, Ini Kata Medis

Senin, 05 Sep 2022 - 04:02 WIB
Ketindihan Tidur
(ist)

Mungkin Anda pernah mengalami sulit bangun dari tidur padahal tubuh dan pikiran menyadari bahwa sebenarnya sudah bangun. Selama ini orang sering menyebutnya terkena gangguan makhluk halus. Kondisi ini disebut dengan ketindihan, kelumpuhan tidur atau bahasa ilmiahnya sleep paralysis. Berbahayakah?

Ketindihan atau orang Sunda menyebutnya dengan eureup-eureup, merupakan gejala yang cukup umum. Peneliti memperkirakan antara 5 hingga 40 persen orang pernah mengalami kondisi ini. Menurut American Academy of Sleep Medicine, penderita ketindihan biasanya mengalami kondisi ini untuk pertama kalinya di usia 14 sampai 17 tahun.

Episode gejala ini dapat terjadi bersamaan dengan gangguan tidur lain yang dikenal sebagai narkolepsi. Narkolepsi merupakan gangguan tidur kronis yang menyebabkan rasa kantuk luar biasa dan ‘serangan tidur’ mendadak sepanjang hari. Namun, banyak orang yang tidak menderita narkolepsi masih bisa mengalami ketindihan.

Apa Saja Gejala Kelumpuhan Tidur?

Kelumpuhan tidur bukanlah keadaan darurat medis karena itu kondisi tersebut tidak berbahaya. Meskipun dapat terasa mengkhawatirkan bagi sebagian orang, biasanya tidak diperlukan intervensi medis. Namun, ada baiknya Anda mengenal gejalanya sehingga dapat memberikan ketenangan pikiran.

Karakteristik paling umum dari episode kelumpuhan tidur adalah ketidakmampuan untuk bergerak atau berbicara. Kejadian ketindihan ini dapat berlangsung selama beberapa detik hingga sekitar 2 menit. Biasanya terjadi merasa seolah-olah ada sesuatu yang menekan tubuh. Bisa juga merasa takut atau pengalaman hipnagogik dan hipnopompik (HHE), yang digambarkan sebagai halusinasi selama, sebelum, atau setelah tidur.

Baca juga
Ini Alasan Tukul Harus Jalani Fisioterapi Tiga Kali Sehari

Gejala lain mungkin termasuk sulit bernafas, merasa seolah-olah Anda akan mati, berkeringat, nyeri otot, sakit kepala, atau paranoia. Episode ketindihan biasanya berakhir dengan sendirinya, atau ketika orang lain menyentuh atau membangunkan Anda.

Anda mungkin menyadari apa yang terjadi tetapi masih tidak dapat bergerak atau berbicara selama terjadinya ketindihan. Anda mungkin juga dapat mengingat detail episode setelah ketindihan sementara menghilang.

Dalam kasus yang jarang terjadi, beberapa orang mengalami halusinasi seperti mimpi yang dapat menyebabkan ketakutan atau kecemasan, tetapi halusinasi ini tidak berbahaya.

Faktor Risiko Sleep Paralysis

Anak-anak dan orang dewasa dari segala usia dapat mengalami gejala ini. Namun, kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi. Mengutip Healthline, kelompok yang berisiko tinggi termasuk orang dengan kondisi insomnia, narkolepsi, kecemasan, depresi mayor, gangguan bipolar dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Kelumpuhan tidur juga biasanya disebabkan oleh keterputusan antara pikiran dan tubuh, yang terjadi selama tidur.

Penyebab lain bisa meliputi kebersihan tidur yang buruk. Atau tidak memiliki kebiasaan tidur yang baik yang diperlukan untuk tidur berkualitas. Juga gangguan tidur seperti sleep apnea, serta memiliki jadwal tidur yang terganggu. Contoh jadwal tidur Anda dapat terganggu termasuk bekerja shift malam atau jet lag.

Dalam beberapa kasus, kelumpuhan tidur tampaknya diturunkan dalam keluarga. Namun, ini jarang terjadi. Tidak ada bukti ilmiah yang jelas bahwa kondisi berasal dari turun-temurun. Penyebab lainnya mungkin tidur telentang yang dapat meningkatkan peluang mengalami episode ini. Kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko sleep paralysis.

Bagaimana Mendiagnosis dan Mencegahnya?

Tidak diperlukan tes medis untuk mendiagnosis kelumpuhan tidur. Dokter biasanya akan menanyakan pola tidur dan riwayat kesehatan. Mungkin juga meminta Anda untuk membuat buku harian tidur, mendokumentasikan pengalaman selama episode sleep paralysis.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin menyarankan berpartisipasi dalam studi tidur semalam untuk melacak gelombang otak dan pernapasan selama tidur. Ini biasanya hanya disarankan jika kelumpuhan tidur menyebabkan Anda kurang tidur.

Baca juga
Jisoo Blackpink Alami Benjolan di Leher, Apakah Semua Benjolan Berbahaya?

Gejala kelumpuhan tidur biasanya sembuh dalam hitungan menit dan tidak menyebabkan efek fisik atau trauma yang bertahan lama. Namun, pengalaman itu bisa sangat meresahkan dan menakutkan.

Anda bisa meminimalkan gejala atau frekuensi episode dengan beberapa perubahan gaya hidup sederhana, seperti mengurangi stres, istirahat yang cukup serta berolahragalah secara teratur tetapi tidak mendekati waktu tidur.

Anda juga sebaiknya mempertahankan jadwal tidur yang teratur serta memantau reaksi obat apapun yang Anda minum.

Bukan Gangguan Makhlus Halus

Sementara dokter dari Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) dr Citra Fitri Agustina memaparkan, sleep paralysis terjadi di saat mekanisme otak dan tubuh saling bertubrukan, tidak berjalan selaras saat tidur. Sehingga menyebabkan tubuh tersentak bangun di tengah siklus REM (rapid eye movement).

Baca juga
Kemenkes Tetapkan Harga Tes Antigen jadi Rp99 Ribu

“Ketindihan itu kondisi di mana seseorang setengah tidur setengah sadar. Itu terjadi ketika otak belum siap menerima sinyal untuk bangun dari tubuh. Jadi, bukan karena makhluk halus,” ujar dr Citra dikutip dari NU Online.

Banyak orang menganggap ketindihan saat bangun tidur disebabkan oleh gangguan makhluk halus, ditunggangi oleh entitas gaib, bahkan serangan santet. Padahal kondisi ini dapat dijelaskan secara medis. Jadi tak perlu takut dan khawatir lagi.

Tinggalkan Komentar