Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

Kiat Melindungi Data Diri di Internet, Aman Bermedia Sosial

Jumat, 23 Sep 2022 - 20:04 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Kiat aman berinternet
Foto: Istock

Tingginya aktivitas masyarakat dengan teknologi internet dan media sosial menimbulkan isu penting yang harus diwaspadai, yakni terkait keamanan digital. Apalagi modus-modus kejahatan di internet terus berkembang dan tanpa disadari bisa menghampiri pengguna lewat berbagai aktivitas di ruang digital. Menjaga data pribadi dan sehat berinternet dengan tidak berlebihan mengumbar informasi pribadi menjadi salah satu upaya terhindar dari kejahatan siber.

Demikian yang mengemuka dalam webinar bertema “Jaga Data Pribadi Agar Diri Aman di Ruang Digital” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi di Pontianak, Kalimantan Barat, baru baru ini. Hadir sebagai narasumber adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia Cut Meutia Carolina; jurnalis dan content writer Achmad Rafiq; dan Anggota RTIK Indonesia Dasep Purnama Hidayatullah.

Dalam webinar tersebut, Cut Meutia Karolina menyampaikan materi kecakapan digital dengan tema ‘Cakap Bermedia Digital (Yuk, Lindungi Data Pribadi di Dunia Digital)’. Perangkat digital dan media sosial adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan kita saat ini. Pengguna internet terus bertambah. Infrastruktur digital juga terus dibangun. Sayangnya, semua kemajuan itu tidak diikuti dengan literasi digital. Padahal pengguna internet perlu membekali diri dengan kecakapan digital, agar terhindar dari dampak buruk internet dan media sosial.

Salah satu kecakapan yang diperlukan adalah mampu melindungi data pribadi meliputi nama lengkap, alamat email, KTP, identitas lengkap vaksin, foto KK, foto kartu kredit, data lokasi, data kesehatan, dan penghasilan.

Baca juga
Google Belum Lengkapi Data PSE, Kominfo Beri Tenggat Waktu Sebulan

“Cara melindungi data pribadi yaitu dengan membuat kata sandi yang aman, jangan sembarangan memberikan data pribadi, jangan sembarang mengklik tautan, hargai privasi dan data pribadi orang lain, waspada dalam menggunakan WiFi, lakukan setting privasi pada media sosial kita,” ucapnya dalam keterangan yang diterima inilah.com, Jumat (23/9/2022).

Kemudian, Achmad Rafiq menyampaikan materi keamanan digital dengan tema ‘Hati-hati Rekam Jejak Digital’. Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan teknologi internet membuat orang percaya begitu saja, menerima begitu saja, tanpa melihat risiko, adakah bahaya yang mengancam. Padahal ada potensi bahaya seperti penipuan ataupun pencurian akun. Karena itulah diperlukan pemahaman akan keamanan digital, baik daring maupun luring.

Baca juga
Menteri Johnny Plate Akui Ganti Nomor Ponsel Amerika, Bertolak Belakang dengan Program Kominfo

Tidak hanya untuk melindungi data yang dimiliki, tetapi juga data pribadi yang bersifat rahasia. Keamanan digital meliputi kompetensi mengamankan perangkat dan identitas digital, mewaspadai penipuan digital, memahami rekam jejak digital, serta keamanan digital bagi anak.

“Cara merawat jejak digital yaitu cari tahu jejak digital dengan mengetik nama di mesin pencarian, atur privasi di perangkat dan media sosial, periksa cookies perangkat, gunakan kombinasi kuat untuk kata sandi, hapus aplikasi tidak dipakai, unggah hal-hal positif, gunakan akun berbeda untuk berbagai keperluan, dan selalu perbarui sistem dan antivirus,” jelasnya.

Terakhir, Dasep Purnama Hidayatullah menambahkan materi keamanan digital dengan tema ‘Aman Bermedia Digital’. Belakangan banyak muncul kasus kebocoran data. Dari Januari 2022 saja, ada kasus kebocoran data yang dialami Bank Indonesia, data pasien Kemenkes, Ditjen Pajak dan Kartu Prakerja, BIN, PLN, serta pelanggan Indihome. Dampak dari kebocoran data antara lain munculnya potensi kejahatan penyalahgunaan data pribadi. Diperjualbelikan di forum-forum.

Digunakan untuk profiling politik, penipuan online, dan lain-lain. Pencurian data menggunakan berbagai modus, misalnya malware (virus, worm, trojan horse, ransomware, spyware), phishing dan scamming (peretasan akun, impersonasi, penjual palsu, loker palsu, dan modus percintaan), serta social engineering.

Baca juga
Waspada Praktik Phising Menjerat Penonton Spider-Man: No Way Home

“Tidak ada yang aman 100 persen di dunia digital. Selalu berpikir kritis, tidak mudah percaya dengan semua yang kita dapat di internet,” pungkasnya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Tinggalkan Komentar