Kisah Akhlak Para Wali: Seratus Dinar untuk Mengajar Al-Quran

Kisah Akhlak Para Wali: Seratus Dinar untuk Mengajar Al-Quran - inilah.com
(ist)

Seorang sufi menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru. Ketika sang anak sudah dapat membaca Al-Quran dengan baik hingga surat Ar-Rahman, sang ayah memberi guru tersebut uang berjumlah seratus dinar sebagai hadiah. Akan tetapi guru tersebut menolaknya dan menganggap pemberian itu terlampau banyak. Melihat sikapnya, sang sufi berkata, “Maaf, serahkan putraku kepadaku, aku tidak berkenan engkau mendidiknya lagi.”

“Mengapa demikian?” tanya guru tersebut keheranan.

“Karena engkau tidak memuliakan Al-Quran. Engkau menganggap pemberianku sebesar seratus dinar terlampau banyak. Sebenarnya, seandainya kuberikan seluruh hartaku kepadamu sebagai hadiah atas jasamu mengajarkan Al-Quran kepadanya, maka semua itu masih sedikit,” jawabnya.

Baca juga  Kisah Akhlak Para Wali: Ceramah Putra Syeikh Abdul Qadir Al Jailani

Sufi tersebut kemudian menyerahkan pendidikan Al-Quran anaknya kepada guru yang lain. Dan guru yang menolak pemberiannya tersebut menyesali sikapnya.

Hikmah Di Balik Kisah

Generasi terdahulu sangat memperhatikan pendidikan Al-Quran anak-anak mereka. Jika salah seorang anak telah mengkhatamkan Al-Quran tiga puluh juz dengan baik di bawah bimbingan seorang guru, maka orang tuanya segera menyelenggarakan pesta khatmul Quran.

Mereka mengundang para ulama, tokoh masyarakat, kerabat serta teman-teman terdekat, layaknya undangan pesta perkawinan.

Lain halnya dengan umat Islam dewasa ini untuk pesta ulang tahun, mereka siap mengeluarkan dana yang tidak sedikit, akan tetapi, ketika anaknya mengkhatamkan Al-Quran, mereka tidak berbuat apa-apa.

Baca juga  Bea Cukai Sita 3 Juta Batang Rokok Ilegal di Dumai dan Kediri

Tidak sedikit orang tua yang melalaikan pendidikan Al-Quran anaknya. Sungguh suatu hal yang menyedihkan, demi mendapatkan nilai yang tinggi dalam berbagai mata pelajaran di sekolah, orang tua rela mengeluarkan jutaan rupiah.

Akan tetapi, demi pendidikan Al-Quran, orang tua sering kali menganggap terlampau mahal. Terhadap penyanyi yang menghibur dalam sebuah acara perkawinan, tuan rumah rela membayar mahal, akan tetapi, terhadap qari yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan suara merdu, ia merasa keberatan untuk membayar mahal.

[Kalam Habib Ali bin Muhammad Al-habsyi]

Tinggalkan Komentar