Kisah Sukardi Menjadi Saksi, P2G Harap Nadiem Tidak Ingkar Janji

Kisah Sukardi Menjadi Saksi, P2G Harap Nadiem Tidak Ingkar Janji - inilah.com
(foto:kemendikbud)

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim berharap Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim tak ingkar janji soal pemberian nilai afirmasi berdasarkan status durasi pengabdian sebagai bentuk keberpihakan negara terhadap guru honorer.

“Semoga Mas Nadiem tidak ingkar janji. Harapan kami, hari ini itu betul-betul diumumkan oleh Kemendikbudristek sesuai dengan harapan kami, yakni adanya afirmasi tambahan atau penurunan passing grade,” ujar Satriwan Salim saat dihubungi INILAHCOM, Jumat (08/10).

Seperti diketahui, Pria yang akrab disapa Mas menteri itu bertemu Sukardi Malik. Ia seorang guru honorer yang telah mengabdi selama 25 tahun. Guru SMP Negeri 1 Praya Timur itu merupakan salah satu peserta seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Baca juga  Usai Frasa Agama Muncul Dana BOS, Menteri Nadiem Bikin Gaduh (Lagi)

Saat berbincang dengan Nadiem, Sukardi menceritakan suka dukanya selama menjadi guru honorer. Ia menuturkan selama menjadi guru honorer perlu memiliki berbagai pekerjaan sampingan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, sambil terus mengajar.

Ia mengaku sudah menjajal beragam pekerjaan, seperti pembuat anyaman bambu, tukang, hingga ojek. Tak jarang ia diprotes rekan di pekerjaan sampingannya karena sering mengutamakan mengajar anak-anak terlebih dahulu. 

Namun, bagi Sukardi, menjadi seorang guru merupakan panggilan jiwa. “Saya pernah bekerja di Kalimantan, jadi mandor di kebun. Penghasilannya banyak, tapi batin saya kurang sreg. Rasanya kurang berkah. Beda saat menjadi guru,” ujarnya seperti dikutip dari keterangan Humas Kemendikbudristek.

Nadiem lantas bertanya mengenai tes seleksi ASN PPPK yang telah dilalui Sukardi beberapa waktu lalu. Guru honorer berusia 50 tahun itu mengaku bisa mengerjakan soal dan melaporkan bahwa nilainya memenuhi ambang batas (passing grade) yang ditetapkan Panitia Seleksi Nasional (Panselnas).

Baca juga  Lagi, Bogor Sulap TPS Jadi Hutan Kota

Sukardi mengatakan bahwa kebijakan Seleksi ASN PPPK telah memberikan kesempatan bagi seluruh guru honorer dari berbagai kategori. Namun, ia meminta agar ada kebijakan khusus bagi guru-guru peserta seleksi yang sudah berusia lanjut.

“Kami bersyukur ada kebijakan pengangkatan seperti ini. Begitu juga dengan program yang lain, kalau dulu hanya bisa diikuti oleh yang PNS, sekarang guru honorer juga bisa. Tapi, kalau bisa tolong ada kebijakan khusus buat guru-guru yang usianya tidak muda,” ujarnya.

Nadiem Makarim menyebut bahwa pemerintah mendengarkan masukan dari berbagai pihak dan terus memperjuangkan yang terbaik. Ia meminta agar guru-guru honorer yang mengikuti Seleksi ASN PPPK tetap tenang dan tidak terhasut informasi tidak jelas. “Sebentar lagi kami akan umumkan kebijakan afirmasi tambahan bagi guru-guru yang sudah senior dan memang layak,” ujarnya.

Baca juga  Gerakan Kembali Sekolah Dorong Perubahan Paradigma Pendidikan

Menteri Nadiem mengklaim pemerintah serius memikirkan kesejahteraan para guru honorer. “Tahun ini pertama kalinya pemerintah membuka kesempatan bagi guru honorer untuk mengikuti seleksi ASN PPPK dalam jumlah yang besar yaitu sampai 500 ribu formasi,” tuturnya.

Sosok guru-guru honorer seperti Sukardi Malik yang dinilainya inspiratif, layak diberikan kesejahteraan selayaknya pendidik Pegawai Negeri Sipil. “Inilah kenapa kami perjuangkan 500 ribu formasi (ASN guru PPPK) tahun ini. Sebuah rekor baru untuk Indonesia,” kata Nadiem.

Tinggalkan Komentar