Senin, 23 Mei 2022
22 Syawal 1443

Tabrak dan Buang Sejoli ke Sungai, Kolonel Priyanto Dituntut Penjara Seumur Hidup

0103 094437 Bd8f Inilah.com  - inilah.com
Kolonel Piyanto (kiri) saat reka adegan pembunuhan sejoli.

Terdakwa kasus pembunuhan Kolonel Infanteri Priyanto dituntut penjara seumur hidup oleh Oditur Militer Tinggi II Jakarta Kolonel Sus Wirdel Boy. Hal ini mengemuka dalam sidang di Pengadilan Militer Tinggi II, Jakarta, Kamis (21/4/2022).

Wirdel saat membacakan tuntutan menyampaikan majelis hakim Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta harus memberikan hukuman maksimal terhadap terdakwa. Sebab, semua unsur dakwaan primer dan sekunder terpenuhi.

Artinya, Kolonel Priyanto terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana. Selanjutnya, menculik dan menyembunyikan kematian sejoli, yaitu Handi Saputra dan Salsabila.

Wirdel menyampaikan, fakta persidangan menunjukkan perbuatan Priyanto itu terbukti telah memenuhi unsur-unsur dakwaan primer, yaitu Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP tentang pembunuhan berencana. Kemudian dakwaan sekunder yaitu Pasal 328 KUHP tentang penculikan, dan Pasal 181 KUHP yang mengatur pidana menyembunyikan mayat/kematian korban.

Baca juga
Presiden Jokowi Dorong Penguatan Talenta TNI-Polri di Sektor Teknologi

“Kami memohon kepada Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta agar menjatuhkan pidana terhadap Kolonel Infanteri Priyanto pidana pokok penjara seumur hidup, dan pidana tambahan dipecat dari dinas militer di TNI Angkatan Darat,” kata Wirdel, dikutip Antara saat membacakan tuntutan.

Kolonel Priyanto bersama dua anggota TNI Angkatan Darat (AD) lainnya terlibat dalam kasus tabrak dua remaja di Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 8 Desember 2021

Bukannya membawa korban ke rumah sakit, Kolonel Priyanto dkk malah membawa korban Handi Saputra dan Salsabila keluar dari Jabar dan membuang tubuh kedua korban ke anak Sungai Serayu.

Baca juga
2.420 TNI-Polri Siap Kawal Jokowi di NTT

Dalam tuntutannya, Oditur juga meminta majelis hakim tetap menyimpan sejumlah barang bukti dalam berkas perkara. Namun, untuk barang bukti berupa mobil Wirdel meminta penetapan dari majelis hakim.

Kemudian, Oditur juga meminta majelis hakim yang dipimpin Brigjen TNI Faridah Faisal, memerintahkan agar Kolonel Priyanto tetap ditahan.

Unsur Meringankan dan Memberatkan

Wirdel menyampaikan tuntutannya itu telah mempertimbangkan unsur yang meringankan dan memberatkan. Hal-hal yang meringankan, antara lain terdakwa berterus terang sehingga memudahkan pemeriksaan, terdakwa belum pernah dihukum, dan terdakwa menyesali perbuatannya.

Sementara itu, hal yang memberatkan Kolonel Priyanto melibatkan dua anak buahnya saat melakukan tindak pidana. Usai pembacaan tuntutan, Hakim Ketua menjadwalkan sidang berikutnya dengan agenda pembacaan pledoi atau nota pembelaan Kolonel Priyanto.

Baca juga
Jenderal Andika Pilih Mabes TNI AL dalam Kunjungan Perdana Sebagai Panglima

Majelis hakim menetapkan jadwal sidang berikutnya pada 10 Mei 2022 pukul 09.00 WIB di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta.

“Terdakwa hadir lagi pada 10 Mei untuk (memberi) kesempatan kepada kuasa hukum dan terdakwa menyampaikan nota pembelaan, termasuk (jika) ada kuitansi pembelian dan STNK (mobil yang jadi barang bukti) dibawa saat sidang,” kata Faridah ke Priyanto dan penasihat hukumnya.

Tinggalkan Komentar