Sabtu, 02 Juli 2022
03 Dzul Hijjah 1443

Komisaris Garuda Mundur, Anggota DPR Nilai Tak Selesaikan Masalah

Jumat, 29 Okt 2021 - 21:55 WIB
Penulis : Ajat M Fajar
Komisaris Garuda Mundur, Anggota DPR Nilai Tak Selesaikan Masalah - inilah.com

Anggota Komisi VI DPR Achmad Baidowi mengkritik pernyataan mantan komisaris PT Garuda Indonesia, Peter F. Gontha, yang membeberkan sejumlah permasalahan di internal Garuda Indonesia.

Menurut dia, sebagai komisaris seharusnya bisa ikut membantu jajaran direksi untuk keluar dari permasalahan keuangan yang saat ini sedang melanda perusahaan penerbangan plat merah tersebut.

“Komisaris-komisaris yang mundur itu, kan harusnya dia di dalam bisa memperbaik sistem, kalau mundur kan tidak menyelesaikan masalah. Apakah dengan komisaris mundur membuat Garuda lebih baik kan tidak. Paling honor atau gajinya mereka tidak usah dibayar sehingga pengeluaran garuda itu berkurang itu kan yang paling bisa. Tapi kan tidak bisa menyelesaikan secara keseluruhan,” ujar Baidowi kepada Inilah.com, Jumat (29/10/2021).

Dia menjelaskan, permasalahan Garuda Indonesia saat ini sangat kompleks sehingga harus diselesaikan secara bersama-sama. Namun, yang paling krusial adalah permasalahan keuangan yang cukup membebani perusahaan.

Baidowi menilai, Garuda Indonesia harus membenahi seluruh sistem yang ada saat ini mulai dari rute penerbangan hingga karyawannya.

Baca juga
Isu PHK, DPR Minta Citilink Segera Selesaikan Ketimbang Tercoreng Kredibilitasnya

“Cara penanganannya lagi renegosiasi terhadap leasing-leasing pesawat yang harganya mahal, terus evaluasi terhadap rute-rute penerbangannya yang selama ini menyebabkan kerugian. Itu kan banyak rute-rute luar negeri yang membuat rugi,” katanya.

Dia menilai, Garuda Indonesia tidak mempertimbangkan secara matang dalam membuka rute penerbangan internasionalnya. Sebab Garuda Indonesia hanya mengikuti tren-tren yang dilakukan maskapai besar di luar negeri yang beberapa diantaranya juga mengalami kerugian.

“Garuda itu gaya-gayaan ikut tren maskapai besar seperti Turki, Etihad, Qatar, Emirate tidak bakal mampu bersaing ke situ. Wong sekelas Air France aja rugi, makanya Air France diambil sama KLM kerja sama itu,” katanya.

Sejumlah Komisaris Mundur Garuda Indonesia

Mantan Komisaris Garuda Indonesia, Peter F. Gontha, membeberkan adanya ketidakberesan di internal Garuda Indonesia yang menyebabkan perusahaan penerbangan plat merah tersebut terjerat hutang hingga Rp70 triliun.

Peter mengaku dirinya dituduh memperlambat dana Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk Garuda karena sempat menolak meneken persetujuan penarikan uang sebesar Rp1 triliun dari nilai PMN Rp7 triliun.

Baca juga
Terjebak Utang Ratusan Triliun, Garuda dan BUMN Karya Diprediksi Bangkrut Cepat

“Pada tanggal 27 Desember 2020 yang lalu pada waktu saya tengah berlibur di Bali, saya dituduh memperlambat atau mempersulit pencairan uang PMN ( Penyertaan Modal Negara) pada Garuda. Saya Dipaksa menyetujui penarikan Rp1 triliun dari Rp7 triliun yang dijanjikan. Saya akhirnya tanda tangan, tetapi saya tahu itu sama dengan buang garam di laut,” kata Peter dalam akun media sosial Instagram @petergontha yang dikutip Kamis (28/10/2021).

Peter menyebut pada tahun 2020 dirinya sudah memberikan masukkan kepada seluruh jajaran direksi bahwa satu-satunya upaya untuk menyelamatkan Garuda adalah melakukan negosiasi dengan para lessor asing.

“Sejak Februari 2020 saya sudah katakan satu satunya jalan adalah Nego dengan para lessor asing yang semena-mena memberi kredit pada Garuda selama 2012-2016 yang juga saya tentang,” katanya.

Baca juga
Profil Pelita Air Anak Usaha Pertamina, Calon Pengganti Garuda Indonesia

Namun, sambung Peter, para direksi Garuda Indonesia tak ada yang menggubris sarannya tersebut dan tetap menjalankan apa yang mereka yakini.

“Direksi tidak ada yg mau mendengar, data jejak digital ada pada saya. Di situ pun saya dimusuhi,” ungkapnya.

Peter mengaku sudah menyatakan niatnya ingin mundur sebagai komisaris sejak Februari 2021 karena merasa tidak berguna lagi mengabdi namun masih menerima gaji.

“Saya minta berhenti bulan Februari 2021 karena saya tidak ada guna saya di Garuda dan masih digaji terus dan dianggap selalu menghambat dan terlalu keras. Sekarang kita harus tanggung kebodohon-kebodohan itu,” katanya.

Tinggalkan Komentar