Komnas PA Desak Kapoldasu Menangkap Penculik Anak di Medan

Komnas PA Desak Kapoldasu Menangkap Penculik Anak di Medan - inilah.com

Anak 11 tahun korban penculikan diikuti dengan serangan kekerasan seksual dalam bentuk Sodomi yang diduga dilakukan oleh 10 pria bertopeng di Medan mendapat atensi dari Komnas Perlindungan Anak. 

“Mengingat serangan kekerasan seksual dalam bentuk sodomi yang dilakukan lebih dari sepuluh orang pelaku  (gengRAPE)  terhadap  anak 11 tahun  ini merupakan tindak pidana khusus setara dengan tindak pidana khusus narkoba, terorisme, dan korupsi  dan dapat pula dikenakan dengan hukuman pemberatan berupa  kebiri melalui suntik kimia, dengan demikian, sudah selayaknya Kapolda Sumatera Utara memerintahkan Kaporestabes Medan untuk menangkap dan menahan pelaku,” ujar Arist Merdeka Sirait Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak dalam keteranganya kepada INILAHCOM di Jakarta Rabu (01/09).

“Tidak ada alasan bagi Kapoldasu untuk tidak menangkap dan menahan segera 10 pria bertopeng itu,” lanjutnya. 

Baca juga  Jakarta Susul Jatim di Detik Akhir, Pembina KONI DKI: Gubernur Anies Bawa Spirit untuk Atlet

Menurut keterangan ibu korban FN kepada sejumlah media bahwa dirumahnya, bahwa peristiwa serangan kejahatan seksual ini terjadi  saat anaknya menuju  warung  untuk jajan namun tiba-tiba korban disekap kemudian  diseret dan dipak dimasukkan kedala mobil pickup laku dilarikan ke jalan gelap tanpa penerangan. di atas mobil pickup itulah terjadi serangan seksual sodomi itu terjadi  korban diminta untuk membuka baju dan celananya dibawah ancaman pisau oleh pelaku.

Dengan ancaman pisau terpaksa korban  membuka baju dan celana kemudian para predator kejahatan seksual melakukan serangan seksual secara bergantian dengan posisi korban diminta duduk di paha pelaku dan sebagian lagi pelaku meminta melalui mulut dan memasukkan melalui mulut.

Baca juga  BMKG Ingatkan Banjir Rob di Pesisir Utara Jawa

Dengan bersusahpayah korban sempat menarik topeng dengan paksa salah seorang pelaku, korban mengenali salah seorang pelaku diantara dari 10 orang sebagai tetangganya.

Mengingat Sumatera Utara khususnya kota Medan merupakan zona darurat pelanggaran terhadap anak khususnya kejahatan seksual terhadap anak maka selayaknya Kapoldasu segera menindaklanjuti laporan korban yang telah dilaporkan kepada Polrestabes Medan dan menjadikan prioritas penanganan sebagai upaya untuk memutus mata rantai kejahatan seksual yang terus meningkat di Sumatera Utara khususnya di kota Medan.

Inilah kesempatan bagi walikota Medan untuk membangun gerakan perlindungan anak berbasis keluarga dan komunitas. Sebab tidak ada toleransi terhadap kejahatan dan serangan persetubuhan bagi anak-anak di kota Medan.

“Atas peristiwa kejahatan biadap ini, Komnas Perlindungan Anak sangat berharap Kapoldasu memberikan perhatian serius terhadap situasi anak di Sumatera Utara, ” desak Arist.

Baca juga  Ditemukan Bukti Sejumlah Peran Muhammadiyah Hilang dalam Sejarah Nasional

Untuk memastikan kasus ini ditangani secara serius, cepat dan berkeadilan, Komnas Perlindungan Anak segera membentuk tim advokasi dan Litigasi untuk mengawal proses hukum secara cepat dan tepat untuk sebuah keadilan bagi korban Komnas perlindungan Anak juga akan memberikan perhatian dan pengawalan mulai dari proses pemeriksaan,  penuntutan, dan vonis sesuai dengan harapan korban.

Komnas Perlindungan Anak juga  meminta Polrestabes Medan untuk menerapkan Undang-undang Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan perpu nomor 1 tahun 2016 mengenai perubahan kedua atas Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman seumur hidup bahkan dapat ditambahkan dengan hukuman pemberatan berupa kebiri melalui suntik kimia.

Tinggalkan Komentar