Selasa, 07 Februari 2023
16 Rajab 1444

Konspirasi Sebabkan Antivaksin di Tengah KLB Polio

Jumat, 25 Nov 2022 - 21:19 WIB
Antivaksin Polio
Ilustrasi antivaksin di tengah KLB polio, sumber Istockphoto.

Kelompok yang menolak vaksinasi dinilai sebagai salah satu penyebab meningkatnya kasus polio pada anak-anak. Gerakan antivaksin disebut-sebut dimulai sejak awal program vaksinasi polio.

Sebagaimana The Codex karya Rizky Ridyasmara, pandangan masyarakat terhadap keberadaan konspirasi tertentu memengaruhi sikap yang diambil.

Menurut Ahli Epidemiologi asal Griffith University Australia Dicky Budiman, gerakan antivaksin makin lumrah pada masa pandemi COVID-19 yang disinyalir terkendali akibat cakupan vaksinasi yang juga makin merata.

“Sekarang semakin memburuk dengan adanya masa pandemi ini bahwa rendahnya infodemis dan juga adanya banyak teori konspirasi,” kata Dicky kepada Inilah.com, Jakarta, Jumat (25/11/2022).

Menurutnya, teori konspirasi yang beredar mengenai vaksin mengurangi kemampuan pemerintah untuk mendorong masyarakat melakukan vaksinasi. Terlebih, konspirasi tersebut juga mempengaruhi para orang tua yang enggan memberikan vaksin kepada anak-anaknya.

Baca juga
7 Fakta Suga BTS Positif COVID-19

Tidak tercapai target vaksin karena ada antivaksin polio

Dicky menegaskan tidak tercapainya target cakupan vaksin polio tentu akan berdampak jelas secara nasional dan mengakibatkan timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) polio saat ini.

“Satu kasus kelumpuhan atau lumpuh layu mewakili setidaknya 200 kasus infeksi yang terjadi di masyarakat,” papar Dicky.

“Jadi, ini tanda serius, makanya satu kasus saja sudah menjadi dasar penetapan KLB polio,” sambung dia.

Dicky juga berharap masyarakat bisa patuh dan melakukan vaksinasi agar penyebarannya tidak makin meluas.

“Ingat, polio ini adalah salah satu dari tiga penyakit yang dinyatakan oleh WHO sebagai public health emergency international concern,” tambah Dicky.

Baca juga
Ini Sebab Orang Obesitas Suka Mendengkur

Perkembangan kasus polio

Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan sudah menyatakan status KLB polio. Meningkatnya risiko KLB ini muncul karena kasus anak berumur 7 tahun yang terkena polio di Kabupaten Pidie, Aceh.

Perkembangan kasus polio di Indonesia hingga saat ini terdapat tiga anak dengan hasil pemeriksaan lab dari sample fesesnya ternyata positif virus polio tipe 2.

Plt Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, dr. Endang Budi Hastuti menyebut virus polio yang terdapat di Pidie, Aceh terdeteksi pada feses tiga anak yang terkena virus polio.

”Sekarang jadi tiga anak ya, kami periksa laboratorium ternyata positif polio tipe 2. Kami ambil dari feses anak yang awalnya sehat,” kata Endang saat temu media expert, Jakarta, Jumat (25/11/2022).

Baca juga
Dokter Tirta Ungkap Derasnya Informasi Pandemi Bikin Masyarakat Bingung

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso sebelumnya sudah memprediksi bahwa sejarah akan berulang mengingat Polio salah satu penyakit Penyakit yang Dapat Disembuhkan Dengan Imunisasi (PD3I).

“Penyakit sebelumnya kan sudah mendahului, difterinya sudah duluan ada, campaknya. Nah seakarang yang kita takutkan itu polio sebetulnya,” tutur Piprim.

Tinggalkan Komentar