Senin, 08 Agustus 2022
10 Muharram 1444

KPAI Minta Pengadilan Beri Vonis Maksimal ke Pemerkosa 12 Santriwati

Kamis, 09 Des 2021 - 15:53 WIB
Penulis : Ajat M Fajar
Editor : Ibnu Naufal
Komisioner Kpai, Putu Elvina - inilah.com
Komisioner Kpai, Putu Elvina

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kepada pengadilan yang menangani kasus pemerkosaan 12 satriwati oleh gurunya untuk menjatuhkan vonis maksimal kepada pelaku.

Sebab guru sebagai pendidik seharusnya bisa melindungi para muridnya bukan malah bersikap bejat dengan melakukan tindakan asusila.

“Belum ada pengaduan korban ke KPAI untuk kasus ini, namun tentu saja KPAI sangat berharap kepada jaksa agar tuntutan terhadap terdakwa bisa maksimal begitu juga harapan kita terhadap vonis hakim nantinya dengan pemberatan hukuman,” kata Komisioner KPAI, Putu Elvina kepada wartawan, Rabu (8/12/2021).

Putu mengatakan, pertimbangan jaksa untuk menjatuhkan hukuman juga bisa dilihat dari banyaknya murid yang jadi korban dari pelaku tersebut.

Baca juga
Kang Emil Kembali ke Swiss karena Ada Perkembangan Terbaru Pencarian Eril

“Mengingat perbuatan biadab yang dilakukan dengan korban yang lebih dari 1 anak, dan terdakwa merupakan pendidik yang seharusnya dapat melindungi anak-anak tersebut,” jelasnya.

Selain itu KPAI, janjut Putu meminta kepada Pemerintah daerah (Pemda) setempat untuk mengevaluasi seluruh sekolah berasramah dan pesantren. Hal ini dilakukan agar kasus serupa tidak terjadi kembali di masa depan.

“Kita juga minta agar ada evaluasi terhadap pesantren maupun sekolah berasrama untuk memastikan dan menerapkan prinsip keselamatan anak sehingga kasus seperti di Pesantren Cibiru tidak terulang kembali,” katanya.

Putu menegaskan, proses rekrutmen tenaga pengajar harus jadi perhatian karena pengajar harus memiliki perspektif perlindungan anak.

Baca juga
Pemerintah Antisipasi Kenaikan Kasus Harian COVID-19 Bergeser ke Luar Jawa-Bali

“Prinsip keselamatan anak sudah harus diterapkan mulai dari rekrutmen pegawai/pengajar yang memiliki perspektif perlindungan anak yang baik sehingga lingkungan sekolah yang aman bisa terbangun,” sebutnya.

Sebelumnya, kasus asusila ini terbongkar setelah salah satu korbanya bercerita kepada orang tuanya soal perbuatan gurunya. Hal ini langsung ditindaklanjuti dengan melaporkan sang guru ke polisi karena korbannya ada belasan santriwati.

Kasus ini juga sudah masuk dalam persidangan di pengadilan Jawa Barat (Jabar). Selain itu kepolisan dan Kementerian Agama (Kemenag) juga sudah menutup pesantren ini.

Tinggalkan Komentar