Sabtu, 21 Mei 2022
20 Syawal 1443

Krisis Rusia-Ukraina bakal Menjalar ke RI melalui Tiga Jalur

Krisisi Rusia-Ukraina bakal Menjalar ke RI melalui Tiga Jalur - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Perang Rusia versus Ukraina belum juga berujung pada perdamaian. Sejak Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan invasi skala besar ke Ukraina, sejumlah negara tetangga bahkan mulai cemas bakal menjadi sasaran Putin selanjutnya.

Kekhawatiran pun mencuat terkait potensi perang besar Eropa kembali pecah dengan kegusaran negara-negara di benua itu merespons invasi Rusia. Di antaranya adalah respons siaga negara-negara Nordik yang selama ini dikenal dengan kebijakan anti-konfrontasi. Seorang pejabat pertahanan senior Eropa mengatakan, “Jika Putin sukses di Ukraina, lantas kita mulai bertanya siapa selanjutnya?”

Adapaun terkait pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina, juru bicara delegasi Rusia mengatakan, Ukraina yang netral dengan angkatan bersenjatanya sendiri (tidak bergabung dengan NATO) adalah kompromi yang mungkin dapat dicapai. Di lain sisi, delegasi Ukrania mengatakan Ukrania butuh jaminan keamanan dari Rusia.

Dari sisi ekonomi, the Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menyatakan, konflik Rusia-Ukraina dapat menurunkan pertumbuhan global lebih dari 1% dan menambah 2,5% inflasi.

Bagaimana dampak krisis tersebut terhadap perekonomian Indonesia? Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE Indonesia mengatakan, ada beberapa jalur transmisi krisis sebagai dampak perang Rusia-Ukraina yang bisa sampai ke dalam negeri.

Baca juga
Jokowi Dicurhati Rumitnya Izin KEK Bintan, Menteri Bahlil Kerja Apa?

Akan tetapi, kata dia, sejauh mana pengaruhnya terhadap peluang krisis ekonomi di Tanah Air sangat tergantung kepada besaran guncangan (magnitude) dan intensitas perang tersebut. Bukan hanya perang fisik, tapi juga aksi balas-membalas embargo.

Sejauh ini, banyak negara melakukan embargo ke Rusia dan Rusia melakukan pembalasan yang sama. “Semakin intens aksi tersebut, semakin besar dampak krisisnya ke Indonesia. Begitu juga dengan durasinya. Semakin lama, maka semakin besar transmisi krisisnya ke dalam negeri,” katanya kepada Inilah.com di Jakarta, Kamis (17/3/2022).

Tiga Jalur Transmisi Krisis

Faisal pun merinci beberapa jalur transmisi krisis tersebut:

  1. Perdagangan

Salah satu transmisi krisis adalah melalui jalur langsung perdagangan. Sebab, ketiga perang berlangsung pasokan otomatis terganggu untuk sejumlah barang komoditas yang Indonesia perdagangkan baik ekspor maupun impor ke dan dari kedua negara yang sedang berkonflik.

Impor gandum Indonesia otomatis terdampak. Sebab, Ukraina merupakan salah satu negara terbesar pemasok gandum Indonesia.

  1. Kenaikan Harga Energi

Di luar efek langsung dari perdagangan, dampak terbesar adalah lewat kenaikan harga energi. Meski hubungan dagang Rusia dan Ukraina dengan Indonesia tidak terlalu erat dalam tataran global, kedua negara itu merupakan major player untuk energi.

Baca juga
Breaking News: Gempa Bumi Guncang Banten, Terasa hingga Jakarta

Rusia-Ukraina merupakan negara mitra dagang Indonesia dengan rangking di atas 20. Akan tetapi, Rusia merupakan produsen nomor 2 minyak mentah dan no 3 untuk minyak olahan. “Rusia juga pemain utama untuk batu bara dan gas,” ungkap Faisal. “Untuk minyak mentah, Rusia berkontribusi 11% terhadap pasokan dunia.”

Perang Rusia-Ukraina akan memacu kenaikan harga minyak dan harga energi secara umum akan melambung dengan harga minyak menjadi leading-nya. Sejauh ini, harga minya sempat naik cepat ke level US$130 per barel. Jika melihat secara historis, harga minyak berpeluang ke US$150 per barel.

Jika Pertamina dan pemerintah tidak mampu menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, krisis Rusia-Ukraina akan bertransmisi ke Indonesia. Apalagi, untuk BBM non-subsidi yang sudah menyesuaikan dengan harga pasar karena floating.

“Untuk kenaikan BBM bersubsidi kita khawatirkan efeknya ke masyarakat. Khawatir, kenaikannya sangat signifikan,” tuturnya.

  1. Kenaikan Inflasi

Transmisi selanjutnya adalah dampak dari tingginya inflasi global, terutama dari AS. Tingginya harga minyak akan mendorong pengetatan moneter dari Bank Sentral AS, the Fed.

“Sebelum konflik saja, inflasi AS sudah mencapai 7,5% jauh di atas inflasi Indonesia di atas 2%. Apalagi dengan adanya perang Rusia-Ukraina,” timpal Faisal.

Baca juga
Mafia Minyak Goreng Bebas Berkeliaran 'Ditutup' BLT Rp300 Ribu

Bank Indonesia (BI) biasanya akan merespons dengan kenaikan tingkat suku bunga acuan. Ketatnya moneter ini akan kembali mengerem pemulihan ekonomi domestik.

“Ekonomi semakin susah bergerak karena penyaluran kredit semakin terhambat. Padahal, fiskal sekarang pun sudah didesain lebih ketat dibandingkan tahun lalu,” ucapnya tandas.

Krisis masih Jauh tapi Stagflasi Menakutkan

Untuk saat ini, menurut Faisal transmisi krisis memang masih jauh. Pertumbuhan ekonomi masih tetap positif. Untuk kuartal I-2022, Faisal yakin Produk Domestik Bruto (PDB) masih positif. “Yang saya khawatirkan sudah terlihat perlambatan,” tuturnya.

Pertumbuhan ekonomi lambat, tapi inflasi tidak terlalu tinggi. Ini belum krisis. Definisi krisis adalah seperti 2020 saat pandemic di mana Indonesia mengalami tiga kuartal berturut-turut pertumbuhan minus. Selama belum minus tiga kuartal berturut-turut, Indonesia belum krisis.

Akan tetapi, yang paling buruk ditakutkan sekarang adalah stagflasi di AS. Stagflasi adalah kondisi di mana inflasi sangat tinggi tapi pertumbuhan turun ke level yang sangat rendah bahkan bisa minus. “Sekarang, inflasi Indonesia masih rendah. Tapi, hati-hati Maret inflasi sudah mulai naik signifikan,” imbuh Faisal mewanti-wanti.

Tinggalkan Komentar