Jumat, 20 Mei 2022
19 Syawal 1443

Kritik Menag Yaqut soal Toa Masjid, Ustaz Adi Hidayat Ajak Bertaubat

UAH - inilah.com
Ustaz Adi Hidayat (Foto Inilah.com)

Ulama kharismatik Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengajak kepada umat Islam untuk bermuhasabah di tengah banyaknya konflik serta kegaduhan yang terjadi belakangan terlebih masih di masa pandemi virus corona atau COVID-19. Karena, menurutnya, di antara pemicu munculnya bencana, musibah dan wabah adalah dosa dan kezhaliman manusia.

“Di tengah-tengah kondisi bangsa ini yang banyak diuji dengan beragam musibah tentunya ini menguji ketangguhan kita dalam bernegara, bermasyarakat dan berbangsa,” ungkap UAH dalam membuka tayangan yang dirilis di akun Youtube Adi Hidayat Official berjudul ‘Pesan Kebangsaan UAH !! Dari TOA sampai Taubat Nasuha’, Kamis (24/2).

Selain belum tuntasnya musibah Pandemi COVID-19, UAH menambahkan masih ada musibah-musibah alam, baik erupsi-erupsi gunung merapi baik di area-area wilayah-wilayah tertentu.

“Juga longsor bahkan ada jembatan-jembatan di beberapa daerah ada yang terputus bahkan hancur, gempa bumi atau juga persoalan-persoalan di masyarakat tampak terlihat makin terpolarisasi,” katanya.

Baca juga
City vs Liverpool Tanpa Pemenang, Kans Juara Masih Terbuka Lebar

Penulis Kitab At-Taisir ini turut bersuara mengenai polemik tentang pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang mencontohkan suara azan dengan lolongan suara anjing. Ia mengatakan tidak pantas jika suara azan diilustrasikan dengan binatang tertentu yang tidak sesuai dengan logika.

“Rasanya tidak pantas bila persoalan toa (masjid) diilustrasikan dengan binatang tertentu atau hal-hal lain yang tidak sejalan dan tidak senafas bahkan tidak sampai kepada logika,”ujar UAH.

UAH pun mengajak siapa pun untuk memohon ampunan hanya kepada Allah SWT dengan taubat nasuha.

Pendiri Quantum Akhyar Institute itu pun mempertanyakan pejabat publik yang melontarkan pernyataan yang bernada kontraproduktif tersebut. Menurut UAH, bagaimana mungkin pesan-pesan toleransi bisa sampai ke masyarakat jika pejabat mengeluarkan pernyataan yang tidak produktif bahkan cenderung menyakit umat beragama tertentu.

Ustaz kelahiran Pandeglang Banten ini lanjut menjelaskan, masih banyak persoalan lain yang harus diselesaikan oleh bangsa ini. Mestinya, ujar UAH, pejabat publik bisa membuat kebijakan-kebijakan yang substansial, yang esensial, yang tepat guna dan memang dibutuhkan. di masyarakat dalam konteks bersinergi. Dia pun meminta agar para pejabat memperbaiki narasi yang disampaikan saat berkomunikasi dengan masyarakat.

Baca juga
Han So Hee jadi Pemeran Utama pada Drama Soundtrack #1

UAH pun mengingatkan kepada siapa pun bahwa jabatan hanya sementara.

“Pada saatnya, siapa pun akan berpulang kepada Allah SWT, pastikan pada saat pulang itu ada legacy terbaik yang ditinggalkan yang bermanfaat untuk kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan jariyah yang mengalir sampai kehidupan akherat kita,” pesannya.

Untuk itu, UAH berpesan kepada semuanya berkaca dari masalah ini untuk tidak saling menghujat.

“Kita juga tidak perlu saling menghujat, saling menyalahkan. Kita hanya perlu saling mengoreksi diri kita apakah masih mencintai negeri ini, apakah masih mencintai bangsa ini,” tanya UAH.

Dilanjutkannya, bila memang mencintai tak perlu hanya kata-kata semata. “Bila memang Anda mengatakan Saya Pancasila, Saya NKRI, Saya mencitainya maka cinta tidak hanya dibuktikan dengan kata-kata, cinta dibuktikan degan tindakan, dengan kebijakan, dengan persatuan dan sikap perilaku yang mulia dalam berkehidupan,” pesan UAH.

Baca juga
Rizky Nazar Ditangkap Polisi dengan Bukti Ganja 1 Gram

Untuk itu, UAH kembali berpesan kepada semuanya berkaca dari masalah ini untuk tidak saling menghujat.

“Kita juga tidak perlu saling menghujat, saling menyalahkan. Kita hanya perlu saling mengoreksi diri kita apakah masih mencintai negeri ini, apakah masih mencintai bangsa ini,” tanya UAH.

Dilanjutkannya, bila memang mencintai tak perlu hanya kata-kata semata. “Bila memang Anda mengatakan Saya Pancasila, Saya NKRI, Saya mencitainya maka cinta tidak hanya dibuktikan dengan kata-kata, cinta dibuktikan degan tindakan, dengan kebijakan, dengan persatuan dan sikap perilaku yang mulia dalam berkehidupan,” kata UAH.

Tinggalkan Komentar