Senin, 06 Februari 2023
15 Rajab 1444

KTT G20, Dewan Komisi Eropa Tegaskan Setop Impor Energi dari Rusia

Selasa, 15 Nov 2022 - 14:43 WIB
Presiden Dewan Komisi Eropa (European Council), Charles Michel. (Foto: Indopos).

Memanasnya hubungan Eropa dengan Rusia dampak invasi ke Ukraina, bakal sulit menemukan jalan keluar. Termasuk melalui momentum KTT G20 di Bali. Uni Eropa bertekad setop impor gas dari Rusia.

Presiden Dewan Komisi Eropa (European Council) Charles Michel di sela KTT G20 di Bali, Selasa (15/11/2022), sudah menabuh genderang perang. Seluruh pembelian energi dari Rusia dihentikan.

“Kami akan menghapus ketergantungan kami pada pasokan energi dari Rusia. Kami memiliki sumber kekuatan yang lebih besar, yaitu masyarakat dan kami akan mempercepat pembangunan energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi energi kami,” ujar Michel.

Dia mengatakan, komitmen ini sejalan dengan semangat dengan kesepakatan Paris atau Paris Agreement yang menuntut semua negara beralih ke energi bersih, meninggalkan energi fosil.

Baca juga
Pengiriman Ribuan Detonator Bom Berkedok Nelayan Berhasil Digagalkan

Saat ini, kata Michel, isu ketahanan energi menjadi tantangan semua negara. Apalagi perang antara Rusia dan Ukraina yang ia nilai semakin membuat stabilitas rantai pasok dunia menjadi terganggu.

Dikatakan bahwa Eropa masih komit dengan kesepakatan Paris yang menargetkan capaian net zero karbon pada 2050. Dan, Eropa berada di garda depan kontributor utama terbesar dalam pertahanan iklim.

“Saya yakin pertemuan G20 kali ini juga bisa membawa kesepakatan dan kerjasama yang baik antar negara untuk menciptakan iklim dan lingkungan yang lebih baik. Kami akan terus mendukung negara lain dalam agenda dekarbonisasinya,” tambah Michel.

Baca juga
Sore Ini, Presiden Jokowi dan Jinping Saksikan Uji Dinamis Kereta Cepat Rp112,5 Triliun

Michel menjelaskan, Eropa memiliki banyak keilmuan maupun pengembangan teknologi terdepan dalam transisi energi dan agenda dekarbonisasi. Ia menegaskan Eropa akan selalu membuka tangan untuk bisa mengawal agenda transisi energi.

“Kami siap membantu negara negara untuk mempercepat transisi energinya melalui reformasi teknologi, peralihan ke teknologi yang lebih hijau dan juga pengembangan investasi yang ramah lingkungan,” tegas Michel.

 

Tinggalkan Komentar