Rabu, 29 Maret 2023
07 Ramadhan 1444

Kurang Gaul Ternyata Berisiko Terkena Stroke dan Jantung

Minggu, 18 Des 2022 - 01:45 WIB
stroke jantung
Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan jika orang yang kurang bersosialisasi cenderung berisiko tinggi mengalami stroke dan terkena penyakit kardiovaskular bahkan mengalami kematian dini. (foto: iStock)

Anda kurang gaul? Berhati-hatilah karena penelitian terbaru mengungkapkan jika orang yang kurang bersosialisasi cenderung berisiko tinggi mengalami stroke dan terkena penyakit kardiovaskular bahkan mengalami kematian dini.

Dalam sebuah studi terungkap bahwa hubungan sosial yang buruk dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan kardiovaskular (PJK) sebesar 29 persen dan peningkatan risiko stroke sebesar 32 persen. Para peneliti menemukan hubungan antara hubungan sosial yang buruk dan faktor risiko psikososial lainnya, seperti kecemasan dan tekanan pekerjaan.

Penelitian tentang hubungan kurang gaul dengan penyakit jantung dan stroke ini terungkap dalam jurnal Heart, bertema ‘Kesepian dan Isolasi Sosial Sebagai Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner dan Stroke: Tinjauan Sistematis dan Meta-analisis Studi Observasi Longitudinal’. Para peneliti mengatakan bahwa orang dewasa yang memiliki lebih sedikit kontak sosial berisiko lebih tinggi mengalami kematian dini.

“Pengaruh hubungan sosial terhadap kematian sebanding dengan faktor risiko yang sudah mapan, termasuk aktivitas fisik dan obesitas. Namun, dibandingkan dengan pemahaman kita tentang faktor risiko ini, kita tahu lebih sedikit tentang implikasi kesepian dan isolasi sosial untuk etiologi penyakit,” kata studi tersebut yang muncul di Times of India, pekan ini.

Para peneliti telah menyarankan bahwa untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, harus mempertimbangkan kesepian dan isolasi sosial. Para peneliti mengambil 35.925 catatan untuk penelitian ini. Studi tersebut mencatat total 4.628 penyakit jantung dan 3.002 kejadian stroke selama periode antara 3 hingga 21 tahun.

Baca juga
4 Risiko Cedera Olahraga pada Lansia

Meskipun insiden serangan jantung dan stroke meningkat karena isolasi sosial, analisis subkelompok tidak mengidentifikasi perbedaan gender.

Dalam pernyataan resmi American Heart Association tentang salah satu studi penelitiannya disebutkan isolasi sosial dan kesepian dikaitkan dengan sekitar 30 persen peningkatan risiko serangan jantung atau stroke, atau kematian akibat keduanya.

“Risiko isolasi sosial meningkat seiring bertambahnya usia karena faktor kehidupan, seperti menjanda atau pensiun. Hampir seperempat orang dewasa AS berusia 65 tahun ke atas terisolasi secara sosial, dan prevalensi kesepian bahkan lebih tinggi, dengan perkiraan 22 persen hingga 47 persen,” ucapnya juga.

Studi ini juga berfokus pada dampak lockdown, terutama pada usia 18-25 tahun. Penguncian nasional diberlakukan di AS dan banyak negara untuk mengendalikan penyebaran virus corona. Orang-orang diminta untuk tinggal di dalam rumah. Dalam beberapa kasus orang yang telah bermigrasi ke tempat yang berbeda tidak dapat kembali ke tempat asalnya dan tidak dapat bersama keluarga lagi.

Gejala stroke dan serangan jantung

Di Indonesia, 80 persen masyarakat tidak mengetahui gejala penyakit stroke. Akibatnya masyarakat, sering terlambat membawa penderita stroke berobat ke RS.

Mengutip laman Kementerian Kesehatan RI, gejala stroke terbagi dua yakni gejala stroke sumbatan, sikenal dengan singkatan ‘SEGERA KE RS’ yaitu SEnyum tidak simetris, GErakan tangan dan kaki menjadi lemah, dan bicaRA menjadi pelo/sulit bicara/bicara tidak nyambung/ tidak mengerti kata-kata.

Gejala lainnya yaitu KEbas/baal-baal sesisi tubuh, Rabun/gangguan penglihatan, Sempoyongan/vertigo/pusing berputar/gerakan sulit dikoordinasi, gangguan menelan, gangguan daya ingat. Gejala SEGERA KE RS terjadi pada satu sisi tubuh dan secara mendadak.

Baca juga
Dorce Gamalama Meninggal Dunia, Simak Ini Gejala COVID-19

Sementara gejala stroke perdarahan adalah penurunan kesadaran, nyeri kepala hebat, kejang dan muntah tanpa didahului mual yang terjadi secara mendadak. Gejala ‘SEGERA KE RS’ dapat juga ditemukan pada penderita stroke perdarahan. Apabila terjadi gejala-gejala tersebut di atas, penderita harus dibawa segera ke RS. Jika penderita terlambat dibawa ke RS lebih dari 3-4,5 jam, maka gejala-gejala stroke akan bertambah berat.

Sedangkan masalah jantung yang paling ditakuti adalah serangan jantung, secara medis dikenal sebagai infark miokard. Hal ini terjadi ketika suplai darah ke jantung tiba-tiba tersumbat, biasanya oleh gumpalan darah. Kekurangan darah ke jantung bisa sangat merusak otot jantung, yang mengancam nyawa.

Anda sebenarnya bisa mengenali tanda-tanda serangan jantung sebulan sebelum terjadi. Misalnya terjadi sesak di dada. Nyeri dada bisa meluas menjadi sensasi tidak nyaman di satu atau kedua lengan (lebih sering di lengan kiri), rahang bawah, leher, bahu, atau perut. Ini mungkin memiliki karakter permanen atau sementara.

Tanda-tanda lainya adalah kelelahan yang ekstrim, kurangnya energi dan motivasi, baik secara fisik maupun mental, dan itu meningkat pada akhir hari. Tanda berikutnya adalah sesak napas. Gejala ini didiagnosis pada 40 persen kasus, biasanya ditandai dengan tidak dapat menarik napas dalam-dalam.

Waspadai juga jika mengalami detak jantung tidak teratur. Gejala ini terjadi tanpa pengaruh faktor eksternal. Biasanya sering kali disertai dengan serangan panik dan kecemasan, terutama di kalangan wanita. Keringat yang tidak biasa atau berlebihan bisa menjadi tanda peringatan dini serangan jantung. Gejala ini digambarkan sebagai mirip flu, kulit berkeringat, atau berkeringat yang tidak dipengaruhi suhu udara atau aktivitas fisik.

Baca juga
RSUD Mataram Lakukan Operasi Bedah Jantung Terbuka Perdana

Ada lagi tanda lainnya yakni sakit pada perut. Perut terasa kosong atau penuh, rasa kembung, atau sakit perut adalah gejala yang paling umum, dan mungkin terjadi pada pria dan wanita. Tanda lainnya adalah insomnia dan juga dapat mencakup tingkat kecemasan.

Jika mengalami rambut rontok, bisa jadi merupakan gejala masalah jantung pada pria berusia di atas 50 tahun. Ini dapat dianggap sebagai indikator penyakit jantung yang terlihat, dan kebotakan juga dapat dikaitkan dengan peningkatan kadar hormon kortisol.

Sudah saatnya masyarakat semakin peduli dengan risiko kesehatan jantung dan stroke ini. Selain mengontrol kesehatan, menjaga asupan yang bergizi seimbang, gaya hidup sehat, serta berolahraga teratur, jangan lupa untuk tetap bersosialisasi alias bergaul.

 

Tinggalkan Komentar