Kamis, 26 Mei 2022
25 Syawal 1443

Laba BNI 2021 Meroket Tiga Kali Lipat Lampaui Ekspektasi Pasar

Antarafoto Public Expose Bni Q3 2021 251021 Riv 2 - inilah.com
Foto; Antara

Di tengah pandemi Covid-19, PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk berhasil mencatatkan laba bersih 2021 sebesar Rp10,89 triliun. Angka ini tumbuh 232,2 persen atau tiga kali lipat dibanding tahun 2020.

“Kami menutup tahun 2021 dengan peningkatan laba bersih tiga kali lipat dari perolehan 2020 dan kami yakin itu sudah berada di atas ekspektasi pasar. Kami pun sepenuhnya memahami bahwa ada ruang untuk peningkatan lebih baik lagi ke depan,” kata Direktur Utama BNI (Persero) Tbk Royke Tumilaar saat konferensi pers secara daring, Rabu (26/1/2022).

Royke menyampaikan laba bersih tersebut mampu melampaui ekspektasi pasar. Pencapaian laba bersih tersebut dihasilkan dari Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) yang tumbuh 14,8 persen (yoy) menjadi Rp31,06 triliun.

Pencapaian tersebut, lanjutnya, lebih tinggi dari pendapatan operasional sebelum pandemi. Selain itu upaya perbaikan kualitas kredit melalui monitoring, penanganan dan kebijakan yang efektif membuat cost of credit membaik menjadi 3,3 persen.

Baca juga
Aksi Borong Saham-saham Teknologi Buat Wall Street Pesta

“BNI mempercayai bahwa masih terdapat ruang untuk terus tumbuh kedepannya,” ujarnya.

Lebih lanjut Royke menyampaikan peningkatan pendapatan operasional bank dihasilkan dari pertumbuhan kredit 5,3 persen (yoy) menjadi Rp582,44 triliun, Net Interest Margin (NIM) di level 4,7 persen, serta pendapatan berbasis komisi (FBI) yang pada akhir tahun 2021 tercatat tumbuh 12,8 persen.

Royke melanjutkan pendorong utama kredit 2021 adalah penyaluran sektor business banking terutama pembiayaan ke segmen korporasi swasta yang tumbuh 7,6 persen (yoy) menjadi Rp10,4 triliun, segmen large commercial yang tumbuh 10,4 persen menjadi Rp 40,9 triliun, dan segmen kecil juga tumbuh 12,9 persen dengan nilai kredit Rp 95,8 triliun. Secara keseluruhan kredit di sektor business banking  tumbuh 4,5 persen menjadi Rp 82,4 triliun.

Baca juga
Foto: Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyak Goreng Rp. 11.500 Berlaku Hari Ini

Sementara di sektor consumer, kredit terbesar yang tumbuh adalah kredit payroll yang naik 18,3 persen (yoy) menjadi Rp35,8 triliun, kemudian kredit kepemilikan rumah (mortgage) tumbuh 7,7 persen menjadi Rp 49,6 triliun, sehingga secara keseluruhan kredit consumer tumbuh 10,1 persen menjadi Rp 99 triliun.

Pada kesempatan yang sama Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini memaparkan peran pendapatan nonbunga juga tergolong semakin kuat pada pencapaian 2021. FBI pada  2021 tumbuh 12,8 persen (yoy) menjadi sebesar Rp13,64 triliun. FBI tahun 2021 didukung oleh fee consumer dan fee business banking yang masing-masing tumbuh 6,0 persen dan 10,7 persen.

“Pertumbuhan kredit ditopang oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp29,17 triliun atau tumbuh 15,5 persen (yoy) dan membawa BNI pada situasi likuiditas yang sangat mencukupi dan jauh melampaui pertumbuhan kredit tahun lalu,” katanya.

Baca juga
Minyak Goreng Rp14 Ribu per Liter, Mendag: Tak Perlu Panic Buying

Penghimpunan DPK tersebut, kata Novita, menguat di kuartal 4 tahun 2021, meskipun suku bunga simpanan terus menurun. Bekal DPK tersebut membuat BNI memiliki cadangan likuiditas yang tangguh dan siap digunakan jika permintaan kredit meningkat atau pasar obligasi berubah menjadi lebih baik tahun 2022.

“Dana murah atau CASA BNI juga masih mendominasi DPK, yaitu terjaga pada level 69,4 persen dari seluruh DPK. CASA terdongkrak hingga 17,1 persen (yoy) menjadi Rp506,06 triliun. Pertumbuhan dana murah ini mendorong perbaikan cost of fund dari 2,6 persen pada akhir tahun 2020 menjadi 1,6 persen tahun 2021,” jelas dia.

 

Tinggalkan Komentar