LADI Ngutang Rp300 Juta ke Lab Qatar, Pihak Menpora Buru-buru Melunasi

LADI Ngutang Rp300 Juta ke Lab Qatar, Pihak Menpora Buru-buru Melunasi - inilah.com

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam laporannya telah membantu melunasi tunggakan tagihan Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) ke Anti-Doping Lab (ADL) Qatar.

Pembayaran tagihan tersebut merupakan satu dari sejumlah poin hasil rapat koordinasi pada Kamis (21/10/2022).

Baca Juga: Sekjen KOI Buka-bukaan LADI Nunggak Bayar Biaya Sampel Doping

LADI bersama sejumlah pemangku kepentingan lainnya, termasuk Kemenpora, juga bekerja sama dalam percepatan penyelesaian sanksi dari Badan Anti-Doping Dunia (WADA).

Dalam keterangan tertulis, tunggakan tagihan LADI kepada ADL Qatar dari tahun 2017 berjumlah 21.220 dolar (sekitar Rp300 juta).

“Hal itu baru diketahui oleh kepengurusan LADI yang baru pada saat melakukan peninjauan kembali terhadap MoU dengan ADL Qatar,” kata Wakil Ketua Umum LADI, Rheza Maulana.

Baca juga  Tidak Dalam Naungan IOC dan WADA, Superbike Mandalika dan MotoGP Tetap Bisa Kibarkan Merah Putih

Walaupun tanggungan kepada ADL Qatar dilunasi, proses investigasi terkait penyebab tunggakan tagihan itu bisa terjadi.

Selain itu, Kemenpora juga meminta transparansi informasi terkait surat maupun surat elektronik yang dikirimkan WADA kepada LADI.

Hal tersebut diinginkan untuk memudahkan Kemenpora untuk menyelesaikan pending matters sesegera mungkin.

Sebelumnya, Ferry J Kono (Sekretaris Jenderal NOC Indonesia) yang masuk Satgas Tim Percepatan Pelepasan Sanksi WADA menyebut ada 24 pending matters yang harus dipenuhi.

“Rinciannya tak dapat kami sebutkan tetapi secara umum menyangkut hal administratif dan teknis,” ucap Ferry.

“Kami mendorong LADI untuk menyelesaikan pending matters agar mendapat status compliance (patuh) secepatnya.”

Baca juga  Tak Hanya Nasabah, Pinjol Ternyata Juga Tipu Karyawannya

“Salah satu pending matters ada yang menyangkut tunggakan biaya ke laboratorium Qatar. Kenapa bisa ada tunggakan, kami pun masih mendalami.”

“Namun, situasi ini urgent sehingga pemerintah sepakat membayar dulu sambil investigasi tetap berjalan dan LADI menyelesaikan hal-hal teknis yang perlu diselesaikan,” ujarnya.

Indonesia saat ini belum memiliki laboratorium anti-doping yang memenuhi standar sehingga masih perlu mengirim sampel ke luar negeri, di antaranya Qatar.

Tinggalkan Komentar