Minggu, 03 Juli 2022
04 Dzul Hijjah 1443

Langgar Privasi Pengguna, AS Denda Twitter Rp2,1 Triliun

Jumat, 27 Mei 2022 - 03:32 WIB
Denda Twitter
(ilustrasi)

Twitter menghadapi denda yang dijatuhkan oleh Departemen Kehakiman AS dan juga Komisi Perdagangan Federal (FTC) sebesar US$150 juta, atau setara Rp2,1 triliun, karena dianggap melanggar privasi pengguna berupa penggunaan data nomor telepon untuk penargetan iklan.

Akibat pelanggaran privasi tersebut, tentunya keamanan data pengguna kini dipertanyakan dan maka dari itu Pemerintah AS melalui FTC menggugat Twitter atas kesalahannya tersebut.

Mengutip Reuters, Twitter telah menyetujui pembayaran denda bernilai besar itu karena telah menyalahgunakan data pengguna di rentang waktu Mei 2013 hingga September 2019.

“Twitter menyatakan kepada pengguna bahwa mereka mengumpulkan nomor telepon dan alamat email mereka untuk mengamankan akun mereka, namun ternyata Twitter gagal mengungkapkan bahwa itu juga menggunakan informasi kontak pengguna untuk membantu pengiklan dalam menjangkau audiens pilihan mereka,” ungkap dokumen pengadilan membahas tuntutan itu.

Baca juga
Hukuman Kebiri Kimia, Seperti Ini Cara Kerjanya

Selain penyelesaian moneter, perjanjian tersebut mengharuskan Twitter untuk meningkatkan praktik kepatuhannya.

Kepala privasi Twitter Damien Kieran mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dengan penyelesaian itu dilakukan dengan menyelaraskan bersama para agensi iklan mengenai pembaruan operasional dan peningkatan program untuk melindungi privasi dan keamanan pengguna.

Twitter adalah layanan gratis yang menghasilkan uang terutama melalui iklan.

Miliarder Elon Musk yang baru membeli layanan tersebut seharga US$44 miliar pun berjanji bahwa di bawah kepemimpinannya Twitter akan mendiversifikasi sumber pendapatan tak cuma dari iklan.

“Jika Twitter tidak jujur ​​di sini, apa lagi yang tidak benar? Ini berita yang sangat memprihatinkan,” kata Musk dalam cuitannya pada Rabu (25/5/2022), mengomentari praktik iklan perusahaan media sosial dan denda.

Baca juga
Perayaan Tahun Baru 2022 Tetap Dilarang

Pejabat AS menunjukkan bahwa dari US$3,4 miliar pendapatan yang diperoleh Twitter pada 2019, sekitar US$3 miliar di antaranya berasal dari iklan.

Pada 2021, perusahaan berlogo burung biru itu pun telah menghasilkan US$5 miliar dan akhirnya mereka menyetujui denda yang diberikan oleh FTC senilai US$150 juta.

“Twitter memperoleh data dari pengguna dengan dalih memanfaatkannya untuk tujuan keamanan, tetapi akhirnya juga menggunakan data tersebut untuk menargetkan pengguna dengan iklan,” kata Ketua FTC Lina Khan dalam sebuah pernyataan.

Lebih lanjut ia menambahkan, “Praktik ini memengaruhi lebih dari 140 juta pengguna Twitter, sekaligus meningkatkan sumber pendapatan utama Twitter.”

Tinggalkan Komentar