LBP Pamer Capaian Pemulihan Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) menononjolkan sejumlah capaian pemulihan ekonomi sebagai bukti keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan kasus COVID-19.

Indikator capaian tersebut dilihat dari aktivitas manufaktur Purchasing Managers Index (PMI) hingga hilirisasi minerba. Demikian disampaikan saat memberikan kuliah umum bagi siswa Sekolah Staf dan Komandan Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/11/2021).

“PMI Manufaktur Indonesia mencetak rekor pada Oktober 2021 dan merupakan salah satu yang terbaik di negara ASEAN,” kata LBP dikutip Antara, Jumat (19/11/2021).

PMI Manufaktur Indonesia pada Maret dan April 2020 sempat mengalami penurunan yang sangat signifikan pada angka 27,5.

Sementara pada saat PPKM diberlakukan awal Juli 2021 lalu, terjadi sedikit penurunan namun langsung mengalami peningkatan yang signifikan pada Oktober mencapai 57,2.

Baca juga  Usai Terinfeksi COVID-19 Belum Tentu Terdiagnosa Reumatik Autoimun

Selain PMI manufaktur, indeks keyakinan konsumen dari Bank Indonesia yang sempat turun ke tingkat pesimis karena penerapan PPKM, kini telah kembali pada tingkat optimis hanya dalam waktu tiga bulan.

Saat ini Indeks Keyakinan Konsumen Oktober 2021 berada pada tingkat tertinggi di masa pandemi, yakni mencapai 113,4 dengan skala nilai optimis lebih dari 100.

Pascapandemi, lanjut LBP, Indonesia dihadapkan pada tantangan ekonomi yang lebih besar. Dibutuhkan pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen untuk dapat mencapai visi Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi sebelum tahun 2045.

Maka, untuk mencapai sasaran tersebut, Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan model ekonomi masa lalu, yang hanya mengandalkan ekspor komoditas. Indonesia harus bergerak menjadi negara industri, salah satunya dengan upaya hilirisasi sumber daya alam.

Baca juga  Berseteru Dengan Habib Bahar, Begini Masa Kecil Ryan Jombang

LBP menyebut Indonesia memiliki cadangan sumber daya alam yang besar untuk kebutuhan energi bersih, misalnya, nikel, bauksit, tembaga, dan timah yang permintaannya akan meningkat seiring dengan komitmen banyak negara untuk mengatasi perubahan iklim.

Melalui hilirisasi nikel, Indonesia menjadi bagian dari rantai pasokan baterai di dunia untuk mewujudkan visi penurunan emisi pada 2030 melalui penggunaan kendaraan listrik (electric vechicle/EV) atau kendaraan listrik.

“Hilirisasi sumber daya alam dapat mengurangi defisit transaksi berjalan Indonesia,” ujar LBP.

Sebagai dampak dari hilirisasi sumber daya alam, ekspor besi dan baja Indonesia yang pada 2014 baru sebesar 1,1 miliar dolar AS pun kini meningkat pesat.

Baca juga  Varian Omicron Sudah Sampai di Bandara Changi Singapura

Sepanjang Januari-Oktober 2021, ekspor besi dan baja telah mencapai lebih dari 16 miliar dolar AS.

“Jika ekspor tetap bertumbuh seperti sekarang, total ekspor besi dan baja sepanjang tahun 2021 bisa mencapai 20 miliar dolar AS,” ujarnya.

Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi di daerah yang melakukan hilirisasi sumber daya alam pun akan mampu meningkat tinggi. Pada triwulan III 2021, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara mampu mencapai masing-masing sebesar 10,2 persen dan 10,4 persen, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3,5 persen.

Tinggalkan Komentar