Rabu, 25 Mei 2022
24 Syawal 1443

Lewat Lagu, Warga Kejawen Bojonegoro Deklarasi Airlangga Capres 2024

Lewat Lagu, Warga Kejawen Bojonegoro Deklarasi Airlangga Capres 2024
Lewat Lagu, Warga Kejawen Bojonegoro Deklarasi Airlangga Capres 2024

Masyarakat penganut ajaran Samin Bojonegoro mendeklarasikan dukungan untuk Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai capres 2024.

Mereka yang mendeklarasikan dukungan berasal dari sebagian besar warga Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.

Deklarasi dipimpin Rusmini, putri dari sesepuh masyarakat Samin, Harjo Kardi. Rusmini berhasil mengumpulkan beberapa tokoh masyarakat Samin dari desanya untuk mendukung Airlangga menjadi presiden pada Pemilu 2024 di Pendopo Samin, Dusun Jepang, Bojonegoro, Minggu (10/4/2022).

Dukungan disampaikan melalui lagu yang dinyanyikan masyarakat Samin dari wilayah pedalaman Bojonegoro. Lirik lagu tersebut yakni, ‘Yo ayo poro sedulur, supaya urip kito tambah makmur, Pak Airlangga itu pilihan kita, 2024 presiden Indonesia.’

“Lagu itu lho saya spontanitas dan mendadak sekali, tadinya gak ada kepikiran, Insya Allah setelah Hari Raya, pada saat ada event di sana mereka mau nyanyi, dan saya juga mau menyanyi terkait Pak Airlangga, lewat gamelan Jawa,” tuturnya dalam keterangan, Senin (11/4/2022).

Baca juga
Jokowi Ucapkan Selamat Peringati Isra Miraj 1443 H

Sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rusmini menilai Airlangga adalah tokoh yang bisa meneruskan kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

“Pak Airlangga bisa mengatasi masalah ekonomi akibat pandemi Covid-19, kerja-kerja yang dilakukan Pak Airlangga membuat rakyat masih bisa bertahan hidup di tengah himpitan dampak pandemi selama lebih dari dua tahun,” tegasnya.

Masyarakat Samin adalah komunitas warga yang ada di sejumlah wilayah di Blora, Bojonegoro, hingga Pati. Mereka merupakan pengikut ajaran yang disebarkan Samin Surosentiko.

Sosok Samin Surosentiko menyebarkan ajaran sedulur sikep untuk mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah Belanda. Melalui ajaran ini, perlawanan masyarakat terhadap Belanda dilakukan bukan dengan kekerasan, tetapi ketidaktaatan pada pemberlakuan pajak maupun upeti.

Tinggalkan Komentar