Sabtu, 21 Mei 2022
20 Syawal 1443

Lockdown di China Buat Harga Minyak Terpangkas ke US$100 per Barel

Lockdown di China Buat Harga Minyak Terpangkas ke US$100 per Barel - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Negara-negara konsumen minyak dunia mengumumkan rencana untuk merilis rekor volume minyak mentah dan produk minyak dari stok strategis mereka. Pada saat yang sama, lockdown (penguncian) di China juga berlanjut.

Harga minyak turun lebih dari dua dolar di sesi Asia pada Senin (11/4/2022) sore. Ini memperparah penurunan mingguan kedua berturut-turut.

Minyak mentah Brent terpangkas 2,05 dolar AS atau 2,0 persen, menjadi berakhir di 100,73 dolar AS per barel pada pukul 06.20 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan 2,17 dolar AS atau 2,2 persen. Angkanya menjadi berakhir di 96,09 dolar AS per barel.

Pekan lalu, Brent merosot 1,5 persen dan minyak mentah AS turun 1,0 persen. Selama beberapa minggu, kedua kontrak acuan berada pada posisi paling fluktuatif sejak Juni 2020.

Baca juga
Harga Minyak Goreng di Malang Jauh di Atas HET

Pasar telah mengamati perkembangan di China, di mana pihak berwenang telah mengunci Shanghai, sebuah kota berpenduduk 26 juta orang, di bawah kebijakan “tanpa toleransi” untuk COVID-19. China adalah importir minyak terbesar dunia.

Kecemasan tentang pertumbuhan China adalah alasan utama jatuhnya harga minyak pada hari itu. Kekhawatiran ini muncul lantaran penguncian Shanghai yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan pemerintah cabut dan Guangzhou ingin memulai pengujian virus massal, kata Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA.

“Ketakutan meningkat sekarang jika gelombang Omicron China menyebar ke kota-kota lain, kebijakan nol-COVID-nya akan menyebabkan penguncian massal yang diperpanjang yang berdampak negatif pada produksi industri dan konsumsi domestik,” tambahnya.

Baca juga
Inilah Berbagai Inisiatif KPEI Dukung Pengembangan Pasar Modal

IEA Bakal Lepas 60 Juta Barel

Negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) akan melepaskan 60 juta barel selama enam bulan ke depan, dengan Amerika Serikat mencocokkan jumlah itu sebagai bagian dari pelepasan 180 juta barel yang diumumkan pada Maret. Langkah tersebut bertujuan untuk mengimbangi kekurangan minyak mentah Rusia setelah Moskow terkena sanksi berat menyusul invasinya ke Ukraina.

“Kami memperkirakan volume Cadangan Minyak Strategis (SPR) ini –total sekitar 273 juta barel dan 1,3 juta barel per hari (mbd) selama enam bulan ke depan– akan berjalan jauh dalam jangka pendek untuk mengimbangi 1 juta barel per hari minyak Rusia yang kami perkirakan akan tetap offline secara permanen,” kata analis JP Morgan dalam sebuah catatan.

Baca juga
Tiba-tiba Menteri Sandi Kunjungi Kampung Halaman Jokowi, Ada Apa?

Namun, tidak jelas apakah itu akan sepenuhnya mengimbangi kekurangan minyak Rusia karena ekspor terus berlanjut, dengan India, yang terpikat oleh diskon besar-besaran, meningkatkan impor.

Pada Senin, Presiden Joe Biden akan bertemu secara virtual dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, Gedung Putih mengatakan, pada saat Amerika Serikat telah menjelaskan bahwa mereka tidak ingin melihat peningkatan impor energi Rusia oleh India.

Di Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan energi pekan lalu menambahkan rig minyak dan gas alam untuk minggu ketiga berturut-turut karena Washington mencari lebih banyak produksi untuk membantu sekutunya menghentikan minyak dan gas Rusia.

Tinggalkan Komentar