Minggu, 22 Mei 2022
21 Syawal 1443

MAKI Desak Kejagung hingga KPK Dalami Kesaksian Mardani H Maming di Sidang Korupsi Tambang

MAKI Desak Kejagung Hingga KPK Dalami Kesaksian Mardani H Maming di Sidang Korupsi Tambang
Mantan Bupati Tanah Bumbu Mardani H Maming (tengah, Baju Biru) Hadir Di Persidangan Pn Banjarmasin.

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) meminta Kejagung dan KPK mendalami kesaksian Mardani H Maming dalam sidang lanjutan dugaan suap izin usaha pertambangan (IUP) batu bara dengan terdakwa Raden Dwijono, Senin (28/4/2022).

“Yang tidak bisa dibantah dalam kesaksian Mardani H Maming adalah surat untuk pengalihan izin usaha pertambangan batu bara memang ditandatangani Maming selaku bupati,” kata Koordinator MAKI, Boyamin Saiman kepada Inilah.com, Jumat (29/4/2022).

Meskipun selanjutnya ada perbedaan siapa yang lebih dulu menandatangani pengalihan izin tersebut, Boyamin menekankan satu hal yang tak bisa dibiarkan. Bahwasanya, pengalihan izin tambang melanggar UU Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Baca juga
Pemprov Sudah Perbaiki Makam Ambles di Rorotan

“Kunci persoalannya adalah surat pengalihan izin telah dilakukan bupati. Padahal berdasarkan ketentuan UU Minerba (Mineral dan Batubara) itu tidak bisa dialihkan. Yang benar itu dicabut, baru kemudian diberikan ke pihak yang lebih bagus,”  ungkapnya.

Selain itu, kata Boyamin, ada satu poin lagi yang menarik untuk didalami. Yakni profil perusahaan yang mendapat pengalihan IUP tersebut, yakni PT Prolindo Cipta Nusantara (PCN). Di mana, Raden Dwidjono mengaku kenal dengan pemilik PCN, Henry Soetijo dikenalkan Mardani H Maming.

“Nyatanya Raden Dwijono mengatakan yang pertama kali mengenalkannya dengan Henry Soetijo (alm) adalah Mardani H Maming. Jadi perlu didalami peran Mardani H Maming untuk bisa dikembangkan oleh Kejagung maupun KPK,” tegasnya.

Baca juga
Diperiksa sebagai Tersangka, Haris Azhar: Ini Upaya Pembungkaman

Boyamin juga mendapat info adanya perusahaan X yang menjalin kerja sama dengan perusahaan Henry Soetijo. Anehnya, perusahaan X tersebut tidak setor modal namun bisa mendapatkan keuntungan hingga puluhan bahkan ratusan miliar.

“Tidak setor modal dan atau tidak melakukan pekerjaan, tapi malah mendapat bagian. Jadi harus didalami siapa yang menikmati terakhir,” tandasnya.

Tinggalkan Komentar