Selasa, 28 Juni 2022
28 Dzul Qa'dah 1443

Marah-marah Jadi Kebiasaan, Pemicu Tingginya Angka Hipertensi?

Senin, 23 Mei 2022 - 02:45 WIB
Marah Hipertensi
(iStockphoto)

Sikap emosional atau marah-marah sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Di jalanan, di pasar atau di manapun orang sering mudah tersulut emosinya. Apakah ini ada hubungannya dengan penderita hipertensi di Tanah Air yang mengalami lonjakan?

Kita sering melihat di media sosial, orang marah-marah gara-gara kendaraannya tersalip. Marah-marah karena ditilang polisi, suami istri marah-marah hingga tetangga turun tangan, dan lain sebagainya. Marah-marah seperti menjadi sebuah kebiasaan dan budaya di keseharian kita.

Sikap emosional dan marah-marah ini sering dihubung-hubungkan penyakit darah tinggi atau hipertensi. Saat seseorang sedang marah, seringkali teman-teman kita atau orang lain mengatakan ‘darah tinggi kamu sedang kambuh ya?’ Banyak orang beranggapan bahwa darah tinggi memicu seseorang untuk marah-marah. Atau sebaliknya sering marah-marah bisa memicu peningkatan tekanan darah.

Banyak literatur yang mengungkapkan, jika memiliki hipertensi, Anda lebih mungkin mengalami masalah suasana hati, seperti kecemasan dan depresi ketimbang mereka yang memiliki tekanan darah normal. Sehingga membuat kita lebih mudah marah. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penderita hipertensi cenderung cepat marah dan mudah berubah mood-nya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Punjab, mengeksplorasi hubungan marah dengan hipertensi. Sampel diambil dari dari 237 peserta terdiri dari pasien hipertensi 137 dan non-hipertensi 100 orang. Analisis mengungkapkan hubungan positif yang signifikan antara dimensi kemarahan dan hipertensi. Kemarahan ternyata menjadi prediktor psikologis hipertensi dalam analisis regresi logistik biner.

Yang jelas kemarahan bukanlah satu-satunya hal yang dapat meningkatkan tekanan darah Anda. Marah-marah juga bukan satu-satu faktor dari akibat menderita hipertensi. Banyak faktor yang mempengaruhi tekanan darah tinggi Anda. Hal ini penting kita ketahui mengingat angka penderita hipertensi di Indonesi sangat tinggi.

Baca juga
Heboh Karantina di Rumah Dhani-Mulan Jameela, Pemerintah Ciptakan Aturan Diskriminatif

Tingkat penderita hipertensi di Indonesia memang sangat tinggi. Sebanyak 19,5 juta penduduk Indonesia merupakan penderita hipertensi. Bayangkan saja, jumlah penduduk di DKI Jakarta saja sekitar 11 juta jiwa. Tentu saja jumlah penderita yang sangat besar. Jumlah penderita hipertensi ini berdasarkan hasil prevalensi Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) periode 2007-2018.

Yang perlu diwaspadai, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun mencapai 20 persen dan pada kelompok usia 35-44 tahun mencapai 34 persen. Kenaikan prevalensi hipertensi pada milenial ini berhubungan erat dengan pola hidup tidak sehat dan stres serta berkurangnya aktivitas fisik.

Tekanan pada Dinding Arteri

Tekanan darah tinggi merupakan situasi yang menggambarkan tekanan yang mendorong dinding arteri. Hal ini memberi tekanan ekstra pada pembuluh darah, jantung, dan organ lain, seperti otak, ginjal, dan mata. Tekanan darah normal untuk semua remaja, dewasa, dan orang dewasa yang lebih tua adalah di bawah 120/80 mmHg.

Angka 120 mmHg adalah tekanan darah sistolik. Angka ini menunjukkan tekanan dalam pembuluh darah saat jantung berkontraksi dan mengerahkan tekanan maksimum. Angka 80 mmHg adalah tekanan darah diastolik. Angka ini menunjukkan tekanan dalam pembuluh darah saat jantung beristirahat di antara kontraksi.

Jika salah satu dari dua angka (sistolik dan diastolik) terlalu tinggi, maka, tekanan darah dianggap tidak normal. Anda dianggap prehipertensi jika sistolik secara konsisten berada di antara 120-140 mmHg dan diastolik berada di antara 80-90 mmHg. Jika lebih dari 140/90 mmHg, maka berisiko mengidap hipertensi.

Hipertensi patut diwaspadai karena meningkatkan risiko penyakit jantung koroner 2 kali, risiko gagal jantung 1,5 kali dan stroke 2,6 enam kali lipat. Penyakit ini juga menjadi komorbid atau penyakit penyerta teratas yang mengikuti penderita COVID-19.

Baca juga
Foto: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Terima Audiensi Taruna Akmil

Tinggi Konsumsi Garam

Tingginya angka penderita hipertensi juga terkait dengan tingginya konsumsi garam (natrium). Kelebihan garam membuat tubuh menahan air, sehingga memberi tekanan ekstra pada jantung dan pembuluh darah.

Menurut data, sekitar 52,7 persen penduduk Indonesia mengonsumsi natrium di atas 2.000 mg per hari atau melebihi batas yang dianjurkan yakni 500 mg. Rata-rata asupan natrium penduduk Indonesia mencapai 2.764 mg per orang per hari. Sebanyak 73 persen natrium yang dikonsumsi berasal dari makanan yang dimasak di rumah dan 23 persen dari makanan yang dibeli di luar rumah.

Tubuh memang membutuhkan garam namun tidak berlebihan. Sayangnya, kebanyakan orang mengonsumsi garam bahkan 10 kali lebih banyak dari jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Konsumsi garam untuk penderita hipertensi sebaiknya dibatasi tidak boleh lebih dari 1.500 mg garam per hari atau setara dengan sepertiga sendok teh garam dapur.

Gejala Umum

Ada beberapa gejala hipertensi yang sering terlihat di antaranya pusing, sakit kepala, sesak napas, mimisan, sakit dada, perubahan visual seperti penglihatan tampak buram hingga adanya darah dalam urine. Juga irama jantung tidak teratur dan telinga berdengung. Hipertensi berat dapat menyebabkan kelelahan, mual, muntah, kebingungan, kecemasan, nyeri dada, dan tremor otot.

Anda juga dapat mewaspadai beberapa faktor risiko hipertensi. Ada yang dapat dimodifikasi seperti diet tidak sehat di antaranya konsumsi garam berlebihan, diet tinggi lemak jenuh dan lemak trans, rendahnya asupan buah dan sayuran. Juga kurangnya aktivitas fisik, konsumsi tembakau dan alkohol, dan kelebihan berat badan atau obesitas.

Baca juga
Semangat Vanesha Prescilla Dukung Remaja Vaksin Covid-19

Sementara faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi termasuk riwayat keluarga hipertensi, usia di atas 65 tahun dan penyakit penyerta seperti diabetes atau penyakit ginjal.

Menjaga Tekanan Darah Normal

Yang tidak boleh dilupakan dalam menjaga tekanan darah adalah rutin memeriksa tekanan darah. Ada beberapa saran bagi Anda untuk menjaga tekanan darah agar tetap normal:

– Makanan sehat. Bagi penderita hipertensi penting menjaga asupan makanan dengan mengurangi konsumsi lemak, daging merah, makanan tinggi garam, maupun tinggi gula.

– Hindari kegemukan. Anda harus berusaha untuk menjaga berat badan tetap ideal. Ini dilakukan untuk mencegah obesitas yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.

– Lakukan olahraga. Rutin melakukan olahraga dapat membantu memperkuat otot jantung, membantu pembuluh darah lebih elastis, mengurangi stres, dan membakar kalori sehingga menjaga berat badan tubuh tetap ideal.

– Jauhi rokok dan alkohol. Rokok mengandung nikotin yang berpengaruh buruk terhadap kesehatan. Demikian pula alkohol. Keduanya dapat menyebabkan pembuluh darah mengerut, kaku, sehingga meningkatkan tekanan darah.

Sebenarnya tekanan darah tinggi tidak bisa disembuhkan tapi hanya bisa kita kontrol. Sehingga tekanan darah normal dan terhindar dari komplikasi-komplikasi.

Jadi segera jalani pola hidup sehat, pengobatan yang rutin hingga penggunaan herbal. Agar Anda terhindar dari marah-marah dan efek lebih lanjut dari hipertensi. [ikh]

Tinggalkan Komentar