Marwan: Solar Langka, Skenario Pertamina Mengganti dengan Dexlite

Marwan: Solar Langka, Skenario Pertamina Mengganti dengan Dexlite - inilah.com
Marwan Batubara, Direktur Indonesia Resources Studies (IRRES)

Kelangkaan solar di sejumlah daerah di Indonesia, bisa jadi merupakan skenario besar dari PT Pertamina (Persero). Tujuannya menghapus solar dan menggantikannya dengan Dexlite yang harganya lebih mahal.

Marwan Batubara, Direktur Indonesia Resources Studies (IRRES) menyampaikan analisanya itu kepada INILAHCOM, Jakarta, Sabtu (23/10/2021). “Jelas, Pertamina sudah mulai membatasi BBM jenis solar. Bisa saja ada skenario itu,” tuturnya.

Namun, lanjut Marwan, kelangkaan solar yangh terjadi sejak akhir September 2021, merupakan dampak dari kenaikan harga minyak dunia. Mau tak mau, PT Pertamina (Persero) membatasi kuota solar di Indonesia.

“Saat ini harga minyak dunia sudah hampir 85 dolar AS per barel. Ini tinggi lho. Seharusnya pemeintah atau Pertamina naikkan harga. Kalau tidak ya kejadiannya begini. Pemerintah dan Pertamina tak mau rugi, dipilihkan membatasi persediaan solar di mana-mana,” ungkap Marwan Batubara, Direktur Indonesia Resources Studies (IRRES) kepada INILAHCOM, Jakarta, Sabtu (23/10/2021).

Pilihan ini, kata Marwan, dampaknya kepada wong cilik. Lihat saja, petani dan nelayan dari seluruh penjuru negeri teriak. Kegiatan bertani dan mencari ikan terhambat gara-gara solar menghilang.  “Lalu di mana yang digemborkan Pak Jokowi selalu dekat dengan wong cilik. Kelangkaan solar saja sudah hampir sebulan tak bisa diatasi,” tuturnya.

Baca juga  Tujuh Negara Afrika Hadapi Gelombang Keempat COVID-19

Berdasarkan Perpres 191 Tahun 2014  tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM menyatakan, kata Marwan, pemerintah punya wewenang penuh untuk mengatur harga BBM. Acuannya sua saja yakni harga minyak dunia dan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS.

“Sekarang harga minyak dunia tinggi, harusnya harga BBM naik. Tapi kan gak naik. Pada 2020 harga BBM harusnya turun tetapi kan enggak turun. Ini bukti pemerintahan Jokowi selalu bikin sulit rakyat,” katanya.

Sebaliknya, kalau harga minyak dunia turun seharusnya harga BBM di dalam negeri turun. Pada Februari-September 2020, harga minyak dunia cenderung rendah, namun pertamina tak kunjnung turunkan harga.

“Kala itu saya bersama teman-teman gugat pemerintahan Jokowi yang tidak menurunkan harga BBM meski harga minya dunia pada Februari-Maret 2020 anjlok hingga US$20 dolar per barel. Konsumen rugi Rp30-Rp40 triliun,” tuturnya.

Ditegaskan Marwan, Menteri ESDM Arifin Tasrif maupun Pertamina seharusnya bersikap kstaria. Beri penjelasan kepada masyarakat secara jujur. Jangan hanya mengeluarkan pernyataan normatif.

“Alasan klasik selalu disampaikan bahwa terjadi lonjakan permintaan. Ya, sekarang seberapa besar sih lonjakannya? Melonjak itu karena ada apa? ayo coba Pertamina atau Menteri ESDM Arifin jelaskan ke publik. Berani enggak,” tegasnya.

Baca juga  Gegara Kilang Cilacap Terbakar, Nasib Direksi Pertamina di Ujung Tanduk

Pertamina Klaim BBM Aman
Terkait kelangkaan solar, Pjs Senior Vice President Corporate Communications and Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman bilang, stok BBM Pertamina mencukupi alias tidak ada masalah. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dan tetap diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan.

Termasuk solar, persediaannya, kata Fajriyah, mencukupi. “Stok untuk produk yang meningkat signifikan yaitu Solar mencapai 17 hari dan Pertamax mencapai 18 hari. Pengiriman dari Terminal BBM juga terus dilakukan setiap hari ke seluruh SPBU dan kilang juga terus berproduksi sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” jelas Fajriyah.

Khusus untuk Solar, Pertamina telah melakukan penambahan volume penyaluran ke beberapa wilayah yang mengalami peningkatan konsumsi secara signifikan, seperti Sumatera Barat sebesar 10%, Riau 15%, dan Sumatera Utara 3,5%.

Dia mengatakan, peningkatan permintaan ini seiring dengan pulihnya kegiatan perekonomian masyarakat.

Pertamina mencatat peningkatan konsumsi di gasoil (Solar) didominasi oleh Solar subsidi di mana konsumsi pada Semester I 2021 tercatat sebesar 37.813 kilo liter (kl) per bulan dan terus meningkat hingga mencapai 44.439 kl pada September atau naik sekitar 17%.

Baca juga  Erick Thohir Sambut Baik Kerja Sama Pertamina-ExxonMobil

Sedangkan di sektor gasoline (bensin), peningkatan mencolok terjadi di produk Pertamax, di mana pada periode Semester I 2021 rerata bulanan sebesar 12.586 kl dan terus merangkak naik hingga mencapai kenaikan 49% pada September sebesar 18.840 kl. “Mengingat Solar adalah BBM bersubsidi, kami sangat cermat dalam melakukan penambahan penyaluran agar bisa tetap tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oknum-oknum tertentu,” tuturnya.

Selain penambahan penyaluran di wilayah yang mengalami peningkatan signifikan, Pertamina juga melakukan koordinasi dengan BPH Migas untuk fleksibilitas pengalihan kuota BBM Subsidi di wilayah yang realisasinya masih di bawah target, ke wilayah lain yang berpotensi over kuota.

“Alhamdulillah sudah ada persetujuan dari BPH Migas, sehingga pengaturan kuota antar wilayah dapat dilakukan selama tidak melebihi pagu kuota nasional tahun 2021 yang ditetapkan BPH Migas,” tuturnya.

Untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan aman, Pertamina terus meningkatkan pengawasan di lapangan bekerja sama dengan aparat penegak hukum, berkoordinasi secara intensif dengan Pemda dan instansi terkait, hingga pemberian sanksi tegas kepada SPBU yang menyalurkan BBM tidak sesuai dengan ketentuan.

Tinggalkan Komentar