Selasa, 29 November 2022
05 Jumadil Awwal 1444

Masalah Besar Jokowi Naikkan BBM, Indef Prediksi Kemiskinan Melejit 10,3 Persen

Rabu, 21 Sep 2022 - 21:15 WIB
Presiden Joko Widodo. (Foto: Antara)
Presiden Joko Widodo. (Foto: Antara)

Kenaikan harga BBM yang diputuskan Presiden Jokowi pada 3 September lalu, benar-benar memukul ekonomi rakyat. Jangan heran kalau kemiskinan melejit dua digit.

Ihwal tingkat kemiskinan, peneliti Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus memperkirakan, bakal naik menjadi 10,3 persen pada September 2022. Pemicunya, ya itu tadi, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Setelah dianalisis, potensi kemiskinan itu bisa melebihi tingkat kemiskinan di saat pandemi COVID-19, mungkin bisa mencapai 10,3 persen di September 2022 sehingga harus ditambah bantuan sosialnya,” kata Ahmad Heri dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Baca juga
Jokowi Singgung Kriteria Calon Pj Gubernur DKI, Tunggu Mendagri Setor 3 Nama

Ia memperkirakan, kenaikan harga BBM akan membuat inflasi secara tahunan pada September 2022, mencapai 1,86 persen. Sedangkan inflasi tahunan sepanjang 2022, mencapai 7,7 persen.

“Pertumbuhan ekonomi juga akan berkurang, minus 0,02 persen dengan kenaikan harga BBM. Sedangkan konsumsi rumah tangga berkurang 0,65 persen dan investasi 1,7 persen,” katanya.

Ia memprediksi pendapatan riil masyarakat di pedesaan bisa menurun 1,28 persen sampai 1,63 persen akibat kenaikan harga BBM, sementara pendapatan riil masyarakat di perkotaan bisa menurun 1,15 persen sampai 2,58 persen.

“Program hilirisasi Ini juga tantangannya akan semakin besar karena meningkatnya biaya energi, ya karena biaya energi itu kan menjadi salah satu struktur cost dari struktur biaya produksi,” kata Ahmad Heri.

Baca juga
Presiden Jokowi: Masyarakat Diperbolehkan untuk Tidak Menggunakan Masker

Untuk itu pemerintah perlu membuat program bantuan bagi pelaku usaha di sektor riil yang mengalami kenaikan biaya produksi. Pemerintah juga dinilai perlu menambah anggaran bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat untuk menekan angka kemiskinan.

“Jadi dampaknya cukup luas dan beragam, bukan hanya masyarakat menengah ke bawah yang terdampak langsung dan mereka diberikan bansos, tapi dari sisi produksi ini tentu akan mengalami tekanan,” ucapnya.

Tinggalkan Komentar