Selasa, 17 Mei 2022
16 Syawal 1443

Masker Kain Tidak Efektif Tangkal Omicron

Masker Kain - inilah.com
foto pixabay

Varian COVID-19 terbaru, Omicron menjadi yang paling cepat penularannya daripada Delta. Salah satu upaya untuk mencegah penularan Omicron adalah dengan menggunakan masker. Rekomendasi masker lebih kepada medis tidak lagi masker kain.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut masker kain sudah tidak efektif menangkal virus corona varian Omicron, daripada masker bedah atau respirator.

“Masker respirator dapat dipertimbangkan dalam situasi tertentu dan oleh orang-orang tertentu ketika perlindungan yang lebih besar diperlukan atau diinginkan,” kata laman CDC mengutip dari New York Times pada Selasa, (18/01/2022).

Sebelumnya, CDC merekomendasikan individu dapat memilih untuk menggunakan respirator N95 sekali pakai ketika persediaan tersedia.

Baca juga
7 Tips Tidur Nyenyak Berkualitas

Respirator N95 karena masker jenis itu dapat menyaring 95 persen dari semua partikel di udara bila digunakan dengan benar.

Masker bedah lebih baik dari masker kain

CDC juga mengatakan masker bedah biasa adalah alternatif yang dapat diterima bagi dokter dan perawat ketika berinteraksi dengan pasien yang terinfeksi virus corona.

Butuh waktu berbulan-bulan lebih bagi CDC dan WHO untuk mengakui bahwa virus corona dapat dibawa oleh tetesan kecil yang disebut aerosol, yang dapat bertahan di dalam ruangan selama berjam-jam.

Menurut deskripsi baru, produk masker dari kain tenunan longgar memberikan perlindungan paling sedikit dan produk tenunan halus berlapis menawarkan lebih banyak.

Baca juga
Penyakit Pernapasan Kian Kronis di Masa Pandemi, Saatnya Beri Perhatian Ekstra

Masker bedah sekali pakai yang pas dan KN95,  jenis masker respirator lainnya, lebih protektif daripada semua masker kain, dan respirator yang pas, termasuk N95, menawarkan tingkat perlindungan tertinggi.

Badan tersebut mendesak orang Amerika untuk mengenakan masker paling protektif yang Anda bisa yang pas dan akan Anda kenakan secara konsisten.

Sementara itu, pengamat COVID-19 dr Ali Alkatiri dalam siaran pers pada Selasa menyarankan penggunaan nose sanitizer sebagai tindakan pencegahan untuk membersihkan hidung dari virus.

“Masyarakat harus lebih menjaga diri dengan melakukan tindakan preventif yang lebih baik. Masyarakat harus paham bahwa manusia bisa terinfeksi virus COVID-19 karena virus masuk salah satunya melalui saluran pernapasan. Cara preventif yang harus dilakukan adalah memastikan virus tidak masuk ke paru-paru, atau membunuh virus yang sudah masuk di saluran pernapasan,” paparnya.

Baca juga
PPKM Dilonggarkan, Tetap Perhatikan Prokes dan Hal-hal Berikut Ini

“Virus yang masuk akan berada selama beberapa hari di saluran pernapasan kita yaitu rongga hidung dan nasofaring, di saat itulah kita harus membunuh virus tersebut sebelum masuk ke paru-paru… Nose sanitizer dapat membunuh virus 95 persen dalam waktu 24 jam,” kata dia.

Ali Alkatiri menyebutkan bahwa sejumlah negara sudah mulai menggunakan nose sanitizer seperti Inggris, Korea, Bahrain, dan Thailand.

Tinggalkan Komentar