Selasa, 27 September 2022
01 Rabi'ul Awwal 1444

Masuk Bursa Capres, Panglima TNI Disarankan Undur Diri

Minggu, 24 Jul 2022 - 18:09 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Jenderal Andika Perkasa (foto Istimewa) - inilah.com
Jenderal Andika Perkasa (foto Istimewa)

Sejak nama Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa diumumkan sebagai satu dari tiga calon presiden 2024 yang akan diusung oleh Partai Nasdem pimpinan Suryo Paloh, kinerjanya sebagai panglima TNI dinilai sarat dengan kepentingan politik. Penilaian tersebut datang dari Pengamat Pertahanan dan Keamanan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara.

Dua calon lainnya yang akan diusung oleh Nasdem adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Robi menyebut ada dua alasan kinerja Andika sebagai Panglima TNI berpotensi ganda dengan kepentingan politik pribadinya. Pertama, pengumuman akhir pengusungan calon presiden secara definitif dari Nasdem kemungkinan akhir tahun ini.

“Andika dengan jabatan yang dipimpinnya akan memanfaatkan power tersebut untuk mempengaruhi Nasdem mengusungnya. Sebab, secara personal Andika seperti membiarkan usulan dari Nasdem tersebut dan ini berpotensi abuse of power,” ungkap pengajar pengkajian stratejik FISIP UIN Syarif Hidatullah Jakarta ini di Jakarta, Minggu (24/7/2022).

Baca juga
Autopsi Brigadir J, TNI Perbantukan Dokter Forensik

Lebih lanjut, Robi melihat beda sikap antara Andika dengan Panglima TNI periode 2015-2017 Gatot Nurmantyo. Gatot secara tegas ketika menjabat sebagai panglima mengatakan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan atau tidak bersedia dicalonkan sebagai presiden selagi dirinya menjabat sebagai Panglima TNI.

“Jadi pilihan buat Andika ada dua, yaitu mengundurkan diri atau dirinya mengatakan bahwa dirinya tidak bersedia dicalonkan,” saran Robi.

Alasan kedua, menurut Robi ketika tidak ada sikap yang jelas oleh Andika, maka pekerjaannya sebagai Panglima TNI berpotensi menjadi tidak professional.

“Sebab, apapun yang akan dilakukaannya saat ini pasti sarat ditunggangi  dengan pencitraan dirinya untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas,” kata Robi.

Baca juga
Disebut sebagai Panglima TNI oleh Wapres, Laksamana Yudo: Siap

Secara regulasi, Robi mengakui bahwa tidak ada yang dilanggar oleh Andika dalam tindakannya ini tetapi secara etika ini menciderai profesionalitas TNI di kemudian hari.

“Sebab ketika nama Andika masuk ke bursa capres, itu sudah pasti ditarik pada kepentingan politik sementara dirinya masih menjabat sebagai panglima TNI dan ini tentu berbeda dengan kasus Anies dan Ganjar yang keduanya menempati jabatan politik,” ujar Robi.

Tinggalkan Komentar