Sabtu, 01 Oktober 2022
05 Rabi'ul Awwal 1444

Masyarakat Makassar Lebih Pilih Beli Minyak Goreng Pakai KTP daripada Aplikasi

Kamis, 07 Jul 2022 - 21:23 WIB
Masyarakat Makassar Lebih Pilih Beli Minyak Goreng Pakai KTP daripada Aplikasi
Beli Minyak Goreng Pakai KTP/ist

Pembeli minyak goreng curah seharga Rp14.000 per liter, atau Rp15.500 per kilogram masih dominan menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) ketimbang aplikasi di telepon seluler saat berbelanja di pasar tradisional Makassar, Sulawesi Selatan.

“Masih lebih banyak gunakan fotokopi NIK/KTP, karena banyak pembeli tidak bawa smartphone atau tidak tahu operasikan aplikasi. Untuk satu KTP dibatasi maksimal beli 10 kg saja per hari,” kata Buntong, salah seorang pedagang minyak goreng curah di Pasar Terong, Makassar, Kamis (7/7/2022).

Menurut pemilik Toko Dewi Sumatera ini, pembeli yang umumnya ibu rumah tangga dan pedagang gorengan atau UMKM hanya menggunakan hp jadul atau bukan android, sehingga tidak bisa mengunduh aplikasi yang menjadi kebijakan pemerintah.

Karena itu, lanjut dia, kondisi itu ditoleransi dengan menggunakan fotokopi KTP atau Kartu Keluarga saja. Selanjutnya, toko yang terdaftar menjual minyak goreng curah dan terpantau oleh Dinas Perdagangan setempat, yang memasukkan data NIK pembeli itu ke aplikasi.

Baca juga
Mendag Zulhas Segera Eksekusi Perintah Presiden Turunkan Harga Migor

Kondisi itu diakui salah seorang pembeli, Hasnah yang sehari-hari menjual gorengan di depan Masjid Al Markaz Al Islamy, Makassar.

Dia mengatakan, untuk dua kios gorengannya rata-rata membutuhkan minyak goreng 10 kg per hari, sehingga setiap hari harus datang membeli.

“Sebenarnya sepanjang masih bisa gunakan fotokopi KTP saja, itu tidak masalah. Tapi kalau nanti semua harus pakai aplikasi untuk beli minyak goreng, pasti akan merepotkan kami yang belum tentu punya dan tahu menggunakan handphone,” katanya.

Hal itu diakui Kepala Pasar Terong, Makassar Darwis. Dia mengatakan, jual beli minyak goreng dengan sistem aplikasi bagi pemilik toko sudah dapat beradaptasi, namun pedagang yang hanya berjualan di lapak-lapak atau kios rata-rata belum memiliki dan tahu menggunakan smartphone.

Baca juga
Mendag Zulhas Jamin Warga Belum Punya PeduliLindungi Tetap Bisa Beli Migor

Menurut dia, selain kendala dari penjual, pembeli pun yang ke pasar tradisional belum tentu memiliki smartphone. Karena itu, mungkin masih membutuhkan waktu untuk adaptasi lapangan.[ipe]

Tinggalkan Komentar