Jumat, 19 Agustus 2022
21 Muharram 1444

Mata-mata Ketahuan Pantau 50 Ribu Pengguna Facebook di 100 Negara Termasuk Indonesia

Senin, 20 Des 2021 - 15:39 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
Facebook Getty Image- inilah.com
Facebook Getty Imag

Meta, perusahaan induk dari Facebook, mengambil tindakan terhadap “industri pengawasan sewaan”. Pengawasan ini menggunakan platform media sosialnya untuk menargetkan pihak oposisi dan jurnalis.

Melansir SCMP, Sekitar 50.000 pengguna Facebook di lebih dari 100 negara di seluruh dunia menerima peringatan dari raksasa media sosial bahwa mereka mungkin telah ditargetkan oleh perusahaan pengawasan atau surveillance.

Perusahaan induk Facebook, Meta, pada hari Kamis (16/12) merilis sebuah laporan yang mengatakan bahwa “tentara bayaran dunia maya” secara teratur memata-matai para pembangkang, kritikus rezim otoriter, jurnalis, keluarga anggota oposisi dan aktivis hak asasi manusia.

Mereka melakukannya setelah dibayar oleh klien tertentu.

“(Ini) tampak seperti penargetan sembarangan atas nama penawar tertinggi,” ujar Nathaniel Gleicher, kepala kebijakan keamanan di Facebook, setelah melakukan penyelidikan selama berbulan-bulan.

Baca juga
Ganti Nama Jadi Meta, Facebook Siap Rilis Jam Pintar Barunya

Meta mengatakan pihknya telah menangguhkan sekitar 1.500 sebagian besar akun palsu yang dijalankan oleh tujuh organisasi di Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Akun tersebut terkait dengan tujuh perusahaan di Israel, India, Makedonia Utara, dan China.

Ada juga puluhan negara lain yang dikatakan telah menggunakan layanan mengawasan ini. “Industri persewaan mata-mata lebih luas dari sekadar satu perusahaan,” kata Gleicher.

Meta mengeluarkan surat penghentian ini dan mengatakan pihaknya telah berbagi informasi tentang hal ini dengan lembaga penegak hukum.

Secara terpisah pada hari Kamis, Citizen Lab menerbitkan laporan yang menghubungkan Cytrox dengan peretasan yang menargetkan dua kritikus terkemuka pemerintah Mesir.

Baca juga
Sejumlah Raksasa Teknologi Bentuk Forum Metaverse

Perusahaan telah mengembangkan spyware bernama Predator yang dapat menembus perangkat seluler iOS dan Android untuk merekam percakapan secara diam-diam dan mencuri data, menurut Citizen Lab.

Analisis digital Citizen Lab mengidentifikasi beberapa server yang terkait dengan pengiriman spyware Cytrox, di negara-negara termasuk Armenia, Mesir, Yunani, Indonesia, Madagaskar, Oman, Arab Saudi, dan Serbia.

Pemerintah di negara-negara tersebut kemungkinan menjadi pelanggan Cytrox, menurut Citizen Lab.

Tinggalkan Komentar