Sabtu, 26 November 2022
02 Jumadil Awwal 1444

Mata Uang Garuda Babak Belur, Orang BI Masih Tenang-tenang di Bali

Sabtu, 01 Okt 2022 - 14:44 WIB
Bank Indonesia (BI).

Meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$) babak belur, Bank Indonesia (BI) tetap saja bilang optimis bagus. Intinya, meski anjlok yang penting stabil.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Wahyu Agung Nugroho mengatakan, tekanan yang terjadi pada Rupiah saat ini tidak terlepas dari ketidakpastian pasar keuangan global. Namun, dengan kinerja ekspor yang kuat serta langkah-langkah stabilisasi BI melalui intervensi di spot market ataupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), depresiasi Rupiah dinilai relatif lebih aman dibandingkan negara berkembang lain.

“Ke depan, memang kita meyakini dengan kebijakan intervensi valas dan intervensi DNDF serta kebijakan pre-emptive dan didukung kenaikan suku bunga BI-7 Days Reverse Repo Rate kemarin, insya Allah ke depan rupiah akan lebih stabil lagi,” ujar Wahyu dalam diskusi dengan awak media di Bali, Sabtu (1/10/2022).

Baca juga
Rupiah Jadi Rp15.655 per Dolar AS Jelang Rilis Data Inflasi Amerika

Asal tahu saja, nilai tukar mata uang Garuda terhadap dolar AS per akhir pekan ini, tersungkur melebihi Rp15 ribu per US$. Tepatnya, berdasarkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, mencapai
Rp15.232/US$.

Nilai tukar rupiah pada 30 September 2022 terdepresiasi 2,24 persen (ptp) dibandingkan dengan akhir Agustus 2022 dan terdepresiasi 6,4 persen (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021. Depresiasi rupiah itu relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 8,65 persen, Malaysia 10,16 persen, dan Thailand 11,36 persen.

Perkembangan nilai tukar yang tetap terjaga tersebut ditopang oleh pasokan valas domestik dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, serta langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia.

Baca juga
Satgas Setorkan Uang Rp2,45 M dan 7,64 Juta Dolar Kasus BLBI ke Kas Negara

Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makro ekonomi.

“Harapannya memang walau tekanan masih akan cukup tinggi, rupiah bisa lebih stabil. Tekanan saat ini lebih cenderung karena adanya kebijakan moneter yang agresif baik The Fed maupun ECB. Ada ketidakpastian mengenai kapan sih The Fed akan selesai naikkan suku bunga dan berapa besar,” kata Wahyu.

BI memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai bagian untuk pengendalian inflasi dengan intervensi di pasar valas baik melalui transaksi spot, DNDF, serta pembelian atau penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Bank sentral turut melanjutkan penjualan atau pembelian SBN di pasar sekunder (operation twist) untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan daya tarik imbal hasil SBN bagi masuknya investasi portofolio asing melalui kenaikan imbal hasil (yield) SBN tenor jangka pendek, sejalan dengan kenaikan suku bunga BI7DRR dan kenaikan struktur yield SBN jangka panjang yang lebih rendah.

Baca juga
BI Ingatkan Risiko Besar Investasi dalam Aset Kripto

Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan tekanan inflasi lebih bersifat jangka pendek dan akan menurun kembali ke sasarannya dalam jangka menengah panjang.

 

Tinggalkan Komentar