Melawan Hoaks yang Mematikan

Melawan Hoaks yang Mematikan  - inilah.com

Sifat manusia umumnya merupakan pendongeng yang kuat. Seperti
dahulu halnya lukisan purba di goa membuktikan itu. Manusia juga lebih
memilih narasi yang gaduh ketimbang akurasi faktual.

Oleh karena itu, dari perpindahan zaman tidak sembarang orang diangkat
menjadi pencerita. Hanya yang bijaklah yang dipilih menjadi pencerita.
Ceritanya tetap memukau tanpa harus mengurang-ngurangi atau
melebih-lebihkan fakta.

Kini, serangan pandemi COVID-19 telah
menyerang bumi, para manusia pencerita pun diuji. Apakah akan
mengembangkan sifat dasar manusia tersebut sebagai keunggulan yang dapat
memberikan banyak warna kehidupan, atau sebaliknya justru menjadi
kelemahan yang membuat lembaran kelam kehidupan.

Sosok jurnalis
adalah pencerita di zaman modern. Untuk mengatasi kelemahan sifat dasar
manusia tersebut, metodologi jurnalisme disusun. Kode etik profesi yang
sangat ketat pun dibuat sebagai kontrol diri. Sementara ruang redaksi
menjadi kontrol eksternal.

Namun, di era yang serba digital,
kini semua pribadi bisa dengan mudah membuat konten dan
menyebarluaskannya sendiri. Implikasinya berita tidak benar atau fake
news dan berita bohong atau hoaks pun menyebar luas bak pandemi.

Ketika seluruh bagian bangsa ini tengah bersusah payah menghadapi
pandemi, masih banyak pula yang dengan sadar memproduksi berita bohong.
Catatan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), dalam periode 1
Januari 2020-16 Juli 2021 ada 1.064 hoaks COVID-19 yang beredar. Bahkan
temuan terbaru lebih banyak ada sepanjang 23 Januari 2020 hingga 23 Juli
2021, menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo),
terdapat 1.791 isu hoaks COVID-19 yang tersebar melalui 3.949 unggahan
di media sosial. Sebanyak 3.529 sudah diturunkan, sementara yang
diajukan ke ranah hukum dari hoaks tersebut berjumlah 767 kasus menurut
data per 23 Juli.

Hoaks itu tersebar di berbagai platform media sosial. Total 3.986
kasus. Paling banyak di Facebook (3.351), Twitter (554), Instagram ( 32
konten), dan Youtube (49 konten).

Baca juga  Inilah 5 Tips Penting PMF untuk Membangun Startup Berbekal Kualitas

Kabar bohong yang beredar
luas, misalnya, menjelaskan orang yang tidak pernah ke luar negeri tidak
akan terinfeksi COVID-19. Banyak juga yang mengaitkannya dengan isu
politik, suku, agama, ras, dan antar-golongan. Kondisi ini tentu
memprihatinkan dan tidak boleh dianggap remeh.

Tingkat literasi
Indonesia terendah kedua di dunia dan 65 persen masyarakat memercayai
hoaks. Kabar bohong akan mengarahkan publik pada tindakan yang salah,
membahayakan kesehatan, bahkan ketahanan nasional. Soal ini menjadi
pekerjaan rumah tambahan pemerintah, khususnya Kominfo ataupun aparat
penegak hukum.

Hoaks Cepat Tersebar

Semudah memainkan jempol dan tombol, seperti itulah penyebaran hoaks di
masyarakat melalui melalui media sosial. Ada beberapa sebab hoaks cepat
menyebar, ternyata salah satunya didasari motivasi sosial, yaitu ingin
berbagi informasi.

Ajakan dan imbauan ”saring sebelum sharing”
kerap selalu didengungkan untuk mencegah penyebaran hoaks atau berita
bohong. Namun, tetap saja hoaks dengan cepat menyebar dan membanjiri di
tengah masyarakat, lebih-lebih pada saat ada peristiwa atau pandemi
seperti saat ini.

Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di
Indonesia, tetapi juga di dunia. Bahkan, saat ini, kata Direktur
Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus,
hoaks lebih cepat dan lebih mudah bertebaran daripada virus SARS-CoV-2
penyebab COVID-19. Dia menyebut kondisi ini sebagai infodemik, yaitu
informasi terkait pandemi COVID-19 yang tidak benar. Secara global, saat
ini ada lebih dari 1 juta hoaks terkait COVID-19.

“Untuk
melawan pandemi, kita membutuhkan kepercayaan dan solidaritas dan ketika
ada ketidakpercayaan, solidaritas jauh berkurang. Informasi palsu
menghalangi respons terhadap pandemi, jadi kita harus bekerja sama untuk
melawannya dan mempromosikan informasi kesehatan masyarakat berbasis
sains,” ujar Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam keterangan
tertulisnya.

Ada banyak faktor mengapa hoaks cepat menyebar,
terutama adalah rendahnya tingkat literasi di masyarakat. Ditambah lagi
adanya fenomena FOMO (fear of missing out) yang mendorong seseorang secepat mungkin menyebarkan informasi untuk menunjukkan bahwa dia juga tahu.

Baca juga  Setengah Tubuh Hangus Terbakar, Tukang Las Masih Semangat Berangkatkan Orang Tua Naik Haji

Salah satu upaya, seperti yang dilakukan WHO melalui tim mythbusters,
adalah bekerja sama dengan perusahaan pencarian dan media sosial,
seperti Facebook, Google, Pinterest, Twitter, TikTok, dan Youtube, untuk
melawan penyebaran hoaks, termasuk informasi keliru (disinformasi).
Facebook dan Twitter, misalnya, akhirnya mencabut (take down) pernyataan
seorang kepala negara yang menyatakan obat tertentu bisa untuk melawan
COVID-19.

Hoaks dan informasi salah bisa menghambat respons
kesehatan masyarakat yang efektif untuk mengatasi pandemi COVID-19 serta
menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan di masyarakat. Pemerintah
pun harus memberikan informasi penting dan akurat terkait COVID-19.

Dari dokumen yang diterima INILAHCOM,
sepanjang 4 Juli hingga 23 Juli 2021, telah ditemukan 32 isu hoaks PPKM
Darurat pada 209 postingan media sosial, di mana 136 postingan
diantaranya telah ditangani atau di-takedown. Temuan isu hoaks ini
utamanya menyangkut informasi keliru tentang penolakan PPKM Darurat di
berbagai daerah serta pemahaman yang salah mengenai perpanjangan PPKM
Darurat.

Beberapa hoaks yang kini banyak tersebar di masyarakat
antara lain rumah sakit meng-COVID-kan pasien, dan pasien meninggal
karena keracunan interaksi obat yang diresepkan dokter. Hoaks tersebut
membuat orang yang sakit baik COVID-19 maupun bukan menjadi takut untuk
pergi ke rumah sakit dan bertemu dokter. Akibatnya, tercatat beberapa
kasus warga meninggal karena terlambat ditangani di rumah sakit.

Hoaks ambulans kosong yang berputar-putar sekeliling kota untuk
menakut-nakuti warga, dipercaya sebagian orang sehingga terjadi beberapa
insiden perusakan ambulans, tercatat pelemparan batu dan kaca pecah di
Jogja dan Solo pada minggu kedua Juli 2021. Hal ini sangat meresahkan
para petugas ambulans yang masih harus tetap bekerja di tengah tekanan
tinggi akibat antrian pasien atau jenazah yang membutuhkan ambulans.

Baca juga  Pemerintah Minta Warga Tetap Waspada Ancaman Gelombang COVID-19 saat Nataru

Dorong Literasi Digital

Penyebaran hoaks di masyarakat dipengaruhi faktor oleh minimnya
literasi atau budaya membaca, sehingga mudah sekali percaya terhadap
informasi yang beredar melalui media sosial dan grup percakapan.

“Diperlukan juga dukungan yang besar dari platform media sosial untuk
proaktif menangani hoaks dan secara agresif mendorong literasi digital
di masyarakat. Masyarakat juga dapat memanfaatkan kanal-kanal informasi
untuk melakukan pemeriksaan hoaks secara mandiri dan melakukan pengaduan
konten hoaks melalui kanal aduan yang tersedia,” ujar Menteri
Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate dalam keterangan tertulis,
Kamis (22/7/2021).

Upaya dalam memerangi konten kebohongan ini
juga jadi fokus Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo)
Harry Sufehmi mengatakan bahwa upaya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan
Masyarakat (PPKM) Darurat ini harus disertai dengan upaya serius untuk
menekan lajur penyebaran hoaks pandemi.

“Harus ada upaya
pendekatan terhadap masyarakat dengan klarifikasi atas hoaks yang
beredar melalui tokoh masyarakat dan tokoh agama. dan perlunya kantor
desa, kelurahan, kecamatan, puskesmas, rumah sakit, perlu secara berkala
memajang poster yang berisi klarifikasi atas hoaks terkini yang dinilai
paling meresahkan masyarakat.” kata Harry ketika dihubungi INILAHCOM, Jumat (23/07/2021).

Ia melanjutkan semua hoaks perlu segera ditelusuri jejak digitalnya dan
pelakunya ditindak. Penyedia platform yang tidak segera mengeblok
konten hoaks harus diberi sanksi. Seperti halnya memerangi COVID-19,
selain mengobati yang terinfeksi, terutama memutus mata rantai
penularan.

“Kini, saatnya pemerintah pusat maupun daerah dan
masyarakat bahu-membahu menangani hoaks yang bergerak lebih cepat dan
sama membahayakannya dengan virus korona.” sambung Harry.

Kolaborasi negara dengan media arus utama perlu terus dioptimalkan untuk
memastikan sekitar 270 juta penduduk mendapatkan informasi berkualitas.
Edukasi harus terus digalakkan. Jangan mudah terpukau cerita memukau.
Pilihlah informasi akurat faktual. Ini bukan perkara mudah karena
menyangkut sifat dasar manusia. [rok]

Tinggalkan Komentar