Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Mengatasi Tuberkulosis, Negara G20 Didorong Bertindak Cepat

Kamis, 27 Okt 2022 - 15:16 WIB
tuberkulosis Negara G20
Tangkapan layar dari YouTube Kemenkes RI

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sebagai Ketua Health Working Group (HWG) menyelenggarakan The 2nd Health Ministers Meeting (HMM) bertajuk Strengthening Global Health Architecture di Bali, Kamis (27/10/2022).

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari berbagai persoalan penting dalam mengatasi kesehatan global, khususnya soal perkembangan tuberkulosis (TBC).

Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) Nurul Nadia Luntungan mengatakan, kemitraan dan kolaborasi berbagai pihak adalah hal yang sangat penting dalam menangani pasien tuberkulosis.

“Karena ketika pasien didiagnosis, kami bekerja dengan tokoh masyarakat. Hal itu akan membuka akses bagi mereka yang mungkin tidak menyadari bahwa mereka terkena tuberkulosis,” ungkapnya melalui temu media “Progress of G20 Side Event Tuberculosis” secara virtual, di Jakarta, Kamis (27/10/2022).

TBC ini merupakan penyakit yang amat berbahaya, bahkan sebelum munculnya pandemi COVID-19. Hadirnya penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang bersembunyi di dalam tubuh seseorang. Sehingga orang tersebut nampak tidak memiliki penyakit TBC. Hal inilah yang membuat penyakit TBC masih dianggap terus mengintai masyarakat dan merupakan penyakit yang mengkhawatirkan.

Baca juga
Kasus KDRT Venna Melinda-Ferry Irawan, Apa Efek Terlalu Rajin Berhubungan Intim?

Oleh sebab itu, Nurul juga mendorong para anggota negara dalam G20 supaya punya berbagai pendekatan taktis atau cepat untuk menangani pasien tuberkulosis. Mulai dari bekerja sama dengan fasilitas kesehatan swasta hingga di tingkatan yang paling dekat dengan masyarakat, yakni Puskesmas.

Apalagi, agenda Pertemuan Kedua Tingkat Menteri Kesehatan  atau 2nd Health Ministers Meeting (HMM) yang dilaksanakan pada 27-28 Oktober 2022 di Bali ini menjadi pertemuan terakhir dari rangkaian Presidensi G20 di Bidang Kesehatan. Alhasil, berbagai negara anggota G20, lanjut Nurul, mesti segera bertindak cepat.

“Itu sebabnya kita perlu bertindak cepat dan bertindak sekarang,” paparnya.

Baca juga
Pakar Ungkap Situasi Pandemi Transisi Menjadi Endemi

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pertemuan selama 10 bulan terakhir itu merupakan upaya seluruh negara G20 untuk bersama-sama menguatkan arsitektur kesehatan dunia.

“Pertemuan ini merupakan puncak dari kerja keras selama 10 bulan terakhir antara seluruh negara G20. Seluruh mitra pemerintah, dan organisasi internasional berupaya membahas bagaimana dapat menguatkan arsitektur kesehatan dunia,” kata Menkes Budi Gunadi di Jakarta, Rabu (26/10/2022).

Fokus pembahasan dalam pertemuan tersebut di antaranya ada lima aspek.

Pertama, terkait pembentukan komitmen miliaran dolar AS untuk Dana Perantara Keuangan (Financial Intermediary Fund/FIF). Kedua, G20 bidang kesehatan mendorong upaya mobilisasi penanggulangan media yang lebih baik di masa kedaruratan kesehatan global.

Baca juga
Bayi Ngopi Sachetan, Ini Bahaya Kafein bagi Balita!

Ketiga, mengeksplorasi sekaligus memperkuat jaringan pengawasan patogen global sehingga dapat mendeteksi patogen dengan lebih optimal sebelum virus berkembang menjadi pandemi global.

Keempat, uji coba protokol internasional baru untuk mempermudah laju pergerakan manusia dan barang, serta jasa antar perbatasan di masa kedaruratan kesehatan global. Kelima, upaya menghadirkan jaringan penelitian dan pengembangan secara global terkait vaksin dan diagnostik yang lebih adil.

 

Tinggalkan Komentar