Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Mengenal Molnupiravir Obat Covid-19 Cegah Kematian

Senin, 04 Okt 2021 - 16:13 WIB
Mengenal Molnupiravir Obat Covid-19 Cegah Kematian - inilah.com
istimewa

Molnupiravir adalah obat antiviral yang dalam hasil penelitiannya menunjukkan penurunan sebesar 50 persen angka perawatan di rumah sakit.

Obat oral tersebut dianggap juga dapat mencegah kematian akibat Covid-19. Hal ini terjadi pada pasien dengan derajat ringan dan sedang.

Belakangan sangat ramai diperbincangan obat Molnupiravir bersutan Merck dan Ridgeback. Tjandra Yoga Aditama, selaku Guru Besar FK UI mengamati hal ini.

Dia menjelaskan, dari hasil penelitian, data menunjukkan sekitar 7,3 persen pasien atau 28 orang yang mendapatkan Molnupiravir (385 orang) dirawat di rumah sakit sampai hari ke 29 penelitian.

“Sementara itu, pada mereka yang tidak mendapat Molnupiravir, artinya dapat plasebo saja (377 orang) ada 53 orang (14,1 persen) yang harus masuk rumah sakit, jadi sekitar dua kali lipat lebih banyak,” kata Tjandra Yoga mantan Direktur WHO Asia Tenggara itu kepada Inilah.com, Jakarta, Senin, (04/101/2021).

Baca juga
Apa yang Terjadi pada Otak Ketika Anda Sering Membaca?

Selain data masuk rumah sakit, pada mereka yang tidak dapat Molnupiravir ada 8 orang yang meninggal, sementara yang mendapat Molnupiravir memang tidak ada yang meninggal sampai hari ke 29 penelitian tersebut dilakukan.

Sample penelitiannya adalah Covid-19 ringan dan sedang, dengan onset (serangan) gejala paling lama 5 hari (tadinya pernah di rancang untuk 7 hari lalu diturunkan menjadi 5 hari),” tambahnya.

Hasil penelitian tesebut juga menunjukkan data pada sekitar 40 persen sampelnya membawa efikasi Molnupiravir adalah konsisten pada berbagai varian yang ditemukan. Varian tersebut adalah Gamma, Delta, dan Mu.

“Secara umum efek samping adalah seimbang antara yang dapat molnupiravir dan plasebo, yaitu 35 persen dan 40 persen. Sampel penelitian ini mempunyai setidaknya satu faktor risiko, atau yang biasa kita kenal dengan komorbid. Yang paling sering adalah obesitas, diabetes mellitus, penyakit jantung dan juga usia tua lebih dari 60 tahun,” ujar mantan Dirjen P2P dan Ka Balitbangkes Kemenkes RI itu.

Baca juga
Jangan Sepelekan Burnout pada Orang Tua

Tjandra Yoga Aditama juga mengamati, adanya hasil interim uji kinik fase 3 tersebut kabarnya akan diproses untuk kemungkinan izin edar dalam bentuk Emergency Use of Authorization (EUA) ke BPOM Amerika Serikat (US-FDA).

“Yang tentu nanti akan menilai semua data dan kelayakan yang ada,” tambahnya.

Tinggalkan Komentar