Kamis, 26 Mei 2022
25 Syawal 1443

Mengenal Perbedaan Zakat Mal dan Zakat Penghasilan

Zakat Mal - inilah.com
Zakat (istock)

Terdengar serupa, nyatanya berbeda, itulah zakat mal dan penghasilan atau profesi yang seringkali tertukar. Menunaikan zakat merupakan rukun Islam yang keempat. Di Indonesia, aturan tentang zakat tercantum dalam Undang-Undang tentang pengelolaan zakat. Secara garis besar, zakat terbagi dalam dua jenis, yaitu zakat maal atau harta dan zakat fitrah. Lalu apa perbedaan zakat maal dan penghasilan?

Pakar ekonomi syariah Irfan Syauqi Beik mengatakan zakat pendapatan dan jasa atau dikenal zakat penghasilan merupakan bagian dari zakat maal. “Zakat penghasilan adalah penghasilan yang diperoleh karena keahlian seseorang,” kata Irfan webinar Sharia Financial Planing, Praktis dan Mudah Menghitung Zakat, Rabu (20/4/2022).

Baca juga
Zakat Picu Daya Beli Masyarakat Prasejahtera Saat Ramadan

Perhitungan zakat penghasilan telah Muktamar Internasional sepakati tentang zakat di Kuwait pada 30 April 1984 dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.3 tahun 2003. Zakat penghasilan juga penetapan sebagai salah satu sumber zakat dalam Pasal 4 ayat 2 UU Nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat.

Penetapan hukum

Untuk qiyasnya di Indonesia dengan zakat emas atau perak atau beras. Irfan menjelaskan, dalil tentang zakat penghasilan juga tercantum dalam sejumlah kitab, di antaranya kitab Al-Amwal karya Abu Ubaid.

“Pendapat Ibnu Abbas r.a., yaitu ketika menanggapi seseorang yang mendapatkan manfaat harta dari pekerjaannya, maka ia mengatakan hendaknya orang tersebut mengeluarkan zakatnya pada hari ia mendapatkannya,” ujarnya.

Baca juga
Hikmah Ramadan- 01 

Dalil lain tercantum dalam kitab Al-Muwattha karya Imam Malik dari Ibnu Syihab Az-Zuhri. Ia mengatakan orang pertama yang mengambil zakat dari pendapatan yang Baytul Maal berikan adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan r.a. dalam kapasitasnya sebagai khalifah dan para sahabatnya yang masih hidup tidak menentang keputusan tersebut.

Irfan melanjutkan, mengacu pada aturan BAZNAS Nomor 34 tahun 2020, zakat penghasilan peroleh dari penghasilan yang melebihi nishab kurang dengan pendapatan tidak kena zakat (PTKZ). BAZNAS menetapkan PTKZ saat ini nilainya Rp 1 juta.

“Nishabnya bisa 85 gram emas per tahun, 595 gram perak per tahun, atau 524 kilogram beras per bulan,” ucapnya.

Baca juga
Foto: Umat Muslim Tunaikan Zakat Fitrah di Masjid Darussalam

Untuk cara menghitungnya mudah. Total pendapatan yang dapat dalam satu bulan kurang dengan PTKZ lalu kali dengan 2,5 persen.

Misal, A berpenghasilan Rp 10 juta per bulan (sudah melewati nishab). Maka perhitungan zakatnya adalah (Rp 10 juta – Rp 1 juta) x 2,5 persen = Rp 225 ribu.

Tinggalkan Komentar