Kamis, 11 Agustus 2022
13 Muharram 1444

Mengkhawatirkan, Delapan Bulan Jeda Menuju Pelantikan Hasil Pilpres 2024

Minggu, 26 Jun 2022 - 21:54 WIB
Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah. (Foto/ Ant)
Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah. (Foto/ Ant)

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah mencermati jeda waktu antara pengumuman hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 menuju pelantikan presiden yang berdurasi delapan bulan dan mengkhawatirkan kemungkinan munculnya dualisme kepemimpinan nasional.

Fahri mengatakan, Presiden terpilih dari Pilpres 2024 akan menjadi magnet bagi semua kekuatan politik. “Sebaiknya kita berikan kesempatan yang baik dan penuh bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bekerja sampai masa jabatannya berakhir,” kata Fahri dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/6/2022).

Fahri mengkhawatirkan durasi jeda waktu yang cukup panjang dari pengumuman hasil Pilpres 2024 hingga pelantikan presiden pada Oktober 2024 akan membuyarkan konsentrasi pemerintahan Presiden Jokowi.

Baca juga
Drakor Juvenile Justice Rangsang Diskusi Sosial Kriminalitas Remaja

“Adanya jeda waktu selama delapan bulan sebelum pelantikan presiden terpilih diselenggarakan akan mengakibatkan semacam dualisme kepemimpinan nasional,” ujar mantan elite PKS ini.

Oleh karena itu, ia berharap publik dan seluruh jajaran pemerintahan agar dapat memastikan pemerintahan Presiden Jokowi dapat berjalan dengan baik hingga masa jabatannya berakhir.

Fahri menyampaikan pernyataan tersebut di dalam webinar Moya Institute bertajuk Pemisahan Pilpres dengan Pileg: Tinjauan Strategis yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (24/6/2022).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojuddin Abbas menilai adanya jeda waktu yang panjang antara munculnya hasil Pilpres dengan pelantikan Presiden terpilih, dalam dunia politik di berbagai negara, akan melahirkan periode lame duck atau periode ‘bebek lumpuh’.

Baca juga
Lepas Kontingen SEA Games, Presiden Jokowi Targetkan RI Masuk 3 Besar

Sirojudin mengatakan, periode lame duck juga bisa menimbulkan konsekuensi lunturnya pengaruh Presiden petahana di kalangan birokrasi. Dengan demikian,menurut  Sirojudin, ide untuk memperpendek periode tersebut patut dipertimbangkan.

Senada dengan Fahri Hamzah dan Sirojudin, Direktur Eksekutif Moya Institute Hery Sucipto juga berpandangan bahwa jeda antara pengumuman hasil Pilpres 2024 dengan pelantikan presiden akan berdampak pada efektivitas jalannya pemerintahan Presiden Jokowi.

Hery menuturkan, hasil pilpres dan pileg akan membuat siapa pun peserta kontestasi, baik partai politik maupun politisi, akan sibuk mengamankan keberlangsungan jejak politik mereka.” Terbuka juga kemungkinan bahwa hasil pileg akan memunculkan situasi riil yang berbeda dari konstelasi politik yang terbentuk pra-pemilu 2024,” ujar dia.

Tinggalkan Komentar