Sabtu, 01 Oktober 2022
05 Rabi'ul Awwal 1444

Menguji Konsistensi Minyak Goreng di Bawah HET

Kamis, 07 Jul 2022 - 17:56 WIB
Minyak Goreng HET
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (foto: Inilah.com/Mia Umi Kartikawati)

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan membuktikan janjinya untuk menurunkan harga minyak goreng. Pada Rabu (6/7/2022) harga minyak goreng curah di pulau Jawa dan Bali terpantau sudah sesuai harga eceran tertinggi (HET). Masyarakat kini masih menguji konsistensi harganya di masa mendatang.

HET minyak goreng sudah berada di bawah Rp14.000 per liter atau Rp15.500 per kilogram. Berdasarkan data di Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP), per 6 Juli 2022 harga minyak goreng curah di seluruh wilayah Jawa-Bali sudah di bawah HET, kecuali DI Yogyakarta dan Bali dengan harga tepat sesuai HET.

Harga minyak goreng curah di Jakarta berada di Rp13.911 per liter. Di Banten, minyak goreng curah rata-rata Rp13.225 per liter, di Jawa Barat seharga Rp13.608 per liter, Jawa Tengah sebesar Rp13.467 per liter, dan Jawa Timur sebesar Rp13.578 per liter.

Sementara secara rata-rata nasional di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga minyak goreng curah pada hari yang sama naik Rp100 dibandingkan hari sebelumnya menjadi Rp17.050 per kilogram. Berbeda kondisi di Jakarta, minyak goreng kuning atau curah per hari ini turun Rp102 dibandingkan kemarin menjadi Rp15.544 per kilogram. Artinya harga tersebut sudah hampir dikatakan sesuai HET, yaitu Rp15.500 per kilogram.

Meski demikian harga minyak goreng kemasan di Alfamart dan Indomaret tidak banyak terpengaruh. Harga minyak goreng kemasan seperti Tropical, Bimoli hingga Sania berbeda di Alfamart dan Indomaret. Setiap ritel akan memberikan harga minyak goreng yang berbeda-beda, tergantung dari merek hingga ukuran kemasan. Beberapa memang mengalami penurunan harga karena pemberian diskon.

Baca juga
Irjen Ferdy Sambo Ambil Rekaman CCTV Penembakan Brigadir J

Turunnya HET minyak goreng ini tentu saja menggembirakan mengingat sudah sejak akhir 2021 silam, harganya minyak goreng terus bergejolak di berbagai daerah. Berbagai kebijakan dari sektor hulu seperti larangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya hingga operasi pasar masih belum mampu menurunkan harga minyak goreng di pasaran.

Penurunan HET minyak minyak goreng juga menjadi bukti ucapan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yang baru dilantik pada 15 Juli 2022. “Tidak ada bulan madu, langsung tancap gas. Insya Allah, kita ingin cepat selesaikan masalah minyak goreng. Ini pekerjaan besar, saya akan belajar cepat. Minta waktu sehari untuk menemukan formulasinya,” tutur Mendag di Istana Presiden, seusai dilantik.

Pria kelahiran Lampung 31 Agustus 1962 ini sangat menginginkan ketersediaan minyak goreng bisa terjaga hingga pelosok negeri. Tentunya dengan harga yang terjangkau kocek masyarakat. “Kasihan rakyat di daerah yang kesulitan mendapatkan minyak goreng. Dan soal harga, ini akan menjadi fokus,” ungkapnya. Mendag Zulhas pun hampir setiap hari menyambangi pasar-pasar di berbagai daerah untuk memantau stabilitas harga pangan.

Insentif untuk Minyakita

Turunnya harga minyak goreng hingga di bawah HET seiring dengan peluncuran minyak kemasan sederhana Minyakita yang didistribusikan ke seluruh Indonesia sesuai HET yakni Rp14.000 per liter. Pemerintah pun akan memberi insentif pada produsen minyak goreng agar Minyakita harganya bisa sesuai HET hingga ke pelosok Papua.

Zulhas menjelaskan skema insentif bagi produsen dan distributor minyak goreng kemasan sederhana merek Minyakita. Bagi produsen yang memproduksi dan mendistribusikan Minyakita memiliki komposisi hak ekspor CPO lebih banyak dibandingkan dengan hanya memproduksi minyak goreng curah.

Baca juga
Soal Penodaan Agama, Ketua MUI: Tak Perlu Menanyakan Muallaf atau Tidak

“Kalau pakai kemasan itu 1 banding 2. Misalnya kalau dia ngasih DMO (domestic market obligation) 1.000 ton maka dia 1 banding 2 jadi 1.200 itu kali 7, berarti 8.400 jatah ekspor CPO-nya. Kalau distribusi yang curah 1,7 jadinya 1.000×7, jadi 7.000 ton ekspornya,” ujar Zulhas di Kantor Kemendag, Rabu (6/7/2022).

Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) terkait dengan hak insentif tersebut sudah keluar. Tak hanya itu, insentif tambahan juga akan diberikan apabila produsen memasok Minyakita untuk wilayah-wilayah tertentu, seperti Bengkulu, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Gorontali, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat. Di wilayah tersebut memang harga minyak goreng curah masih di kisaran Rp20.000 per liter.

Konsistensi HET

Minyakita seharga Rp14.000 bakal membanjiri pasar tradisional dalam 2 pekan ke depan. ini. Semua berharap agar minyak kemasan sederhana ini bisa terserap pasar secara cepat serta tidak ada lagi para pemain apalagi mafia mengambil keuntungan dari penjualannya. Hal ini mengingat berbagai kebijakan menurunkan harga minyak goreng ini selalu mentok tanpa hasil.

Banyak faktor dan pihak-pihak yang terkait dengan harga komoditas ini dari sektor hulu hingga ke pengecer. Setidaknya melibatkan 4 sisi, yaitu masyarakat, produsen, distributor, dan pengecer melalui kebijakan yang sedang berjalan. Yang juga tengah berjalan adalah mensosialisasikan sistem pembelian minyak goreng curah menggunakan aplikasi PeduliLindungi sejak 27 Juni 2022.

Baca juga
24 Tahun Berkarir, Roger Federer Siap Akhiri Mentas di Dunia Tenis

Namun masih ada nada keraguan terhadap keberhasilan harga minyak goreng di bawah HET ini. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga masih skeptis terhadap kesuksesan brand tersebut. Menurut dia, seharusnya produk Minyakita bisa dijual jauh lebih murah dibanding harga minyak goreng curah yang kini banyak beredar di tengah masyarakat.

“Jadi bagaimana produk ini segera diterima market? Caranya adalah harga lebih murah dari curah. Harus lebih murah supaya orang pindah,” ujar Sahat di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Supaya itu bisa terlaksana, Sahat meminta pemerintah membebaskan pengenaan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk setiap produknya. “Strateginya gimana? Pemerintah ikut. Caranya gimana? PPN-nya dinolkan. Langsung jomplang (harganya), dan orang langsung serbu ke mari,” ucap Sahat.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk menjaga harga minyak goreng stabil di bawah HET. Jika ingin sukses, tentu tidak hanya sampai pada membuat aturan dan tata niaga saja. Tidak hanya berakhir di atas kertas tetapi bergotong royong dengan melibatkan banyak pihak. Salah yang penting adalah edukasi, sosialisasi pengawasan dan menjunjung tinggi prinsip keadilan antara konsumen minyak goreng dengan para produsen.

Tinggalkan Komentar