Minggu, 25 September 2022
29 Safar 1444

Menkeu Sebut Modal Asing yang Keluar RI Mencapai US$1,3 Miliar

Rabu, 13 Apr 2022 - 13:55 WIB
Menkeu Sebut Modal Asing yang Keluar RI Mencapai 1,3 Miliar Dolar AS
Menteri Keuangan Sri Mulyani

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan modal asing yang keluar dari Indonesia mencapai US$1,3 miliar. Modal asing yang keluar ini bisa terlihat dari aliran modal asing di pasar keuangan domestik atau net outflow per 31 Maret 2022.

Keluarnya moda asing ini dampak dari konflik antara Rusia dan Ukraina yang hingga saat ini masih belum selesai.

“Aliran modal asing ke pasar keuangan domestik mengalami tekanan dengan investasi portofolio mengalami net outflow US$1,3 miliar sampai 31 Maret 2022,” katanya dalam Konferensi Pers KSSK di Jakarta, Rabu (13/4/2022).

Sri Mulyani menjelaskan eskalasi perang Ukraina dan Rusia telah menambah volatilitas pasar keuangan global yang berdampak pada pasar keuangan domestik termasuk adanya net outflow US$1,3 miliar itu.

Baca juga
APBN Hingga Maret 2022 Surplus Rp10,3 Triliun

Meski demikian, ia menuturkan tekanan net outflow ini bila dibandingkan dengan emerging market lain yang juga mengalami net outflow masih relatif lebih rendah dan lebih baik.

Sementara untuk cadangan devisa Indonesia pada posisi Maret 2022 tetap di tingkat yang tinggi yaitu mencapai 139,1 miliar dolar AS.

Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah.

Standar itu pun berada di atas standar kecukupan internasional yang biasanya dihitung pada sekitar tiga bulan kebutuhan impor.

“Jadi lebih dari dua kali lipat dari standar kecukupan internasional,” ujar Sri Mulyani.

Baca juga
Sri Mulyani Gelontorkan Rp34,3 Triliun untuk THR ASN, Ini Rinciannya

Selanjutnya, untuk nilai tukar rupiah masih terjaga di tengah ketidakpastian pasar keuangan global meski sempat mengalami depresiasi 0,33 persen pada triwulan I-2022.

Di sisi lain, depresiasi sebesar 0,33 persen terhadap rupiah ini lebih rendah dibandingkan mata uang sejumlah negara berkembang lainnya.

Jika rupiah Indonesia mengalami depresiasi 0,33 persen, ringgit Malaysia lebih tinggi yaitu 1,15 persen (ytd), rupee India 1,73 persen (ytd) bahkan baht Thailand mencapai 3,15 persen (ytd).

Tinggalkan Komentar