Rabu, 18 Mei 2022
17 Syawal 1443

Menterinya Korupsi, Presiden Malawi Bubarkan Kabinet

Presiden Malawi Bubarkan Kabinetnya - inilah.com
Presiden Malawi Bubarkan Kabinetnya

Presiden Malawi Lazarus Chakwera membubarkan seluruh kabinetnya karena tuduhan korupsi terhadap beberapa menteri.

Pembubaran itu Chakwera lakukan dalam satu pidato nasional pada Senin (24/1/2022) seperti Al Jazeera melaporkan.

“Saya telah membubarkan seluruh kabinet saya dengan segera. Dan semua fungsi kabinet kembali ke kantor saya sampai saya mengumumkan kabinet yang konfigurasi ulang dalam dua hari,” kata Chakwera.

Chakwera menambahkan bahwa kabinet ulang akan mengecualikan Menteri Pertanahan Kezzie Msukwa, yang tertangkap bulan lalu dalam kasus suap.

Msukwa menghadapi tuduhan mengambil keuntungan dari kesepakatan tanah yang melibatkan pengusaha Malawi yang berbasis di Inggris.

Baca juga
Afsel Kemungkinan Memasuki Gelombang Kelima COVID-19

Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja Ken Kandodo menghadapi tuduhan mengalihkan dana Covid-19 dan Menteri Energi Newton Kambala ikut campur dalam pemberian kesepakatan impor bahan bakar.

Malawi adalah salah satu negara termiskin di dunia, dengan hampir tiga perempat penduduknya hidup dengan kurang dari US$ 2 (Rp 28.641) per hari.

Negara di Afrika Selatan itu adalah salah satu negara terkecil di benua kerap banjir. Musim kemarau berkepanjangan, hama perusak tanaman, dan pandemi virus corona, membuat 15 persen populasi membutuhkan bantuan pangan.

Meskipun ukuran wilayah kecil, Malawi masuk dalam 10 besar di Afrika dalam hal kepadatan penduduk.

Baca juga
Gagal Atasi Lonjakan COVID19, China Pecat Pejabatnya

Chakwera merupakan sebagai ketua Partai Kongres Malawi (MCP), yang tertua dan terbesar di negara itu dalam Aliansi Tonse yang berkuasa. Dia berjanji akan mencari cara untuk mengembalikan kabinet baru dalam 48 jam ke depan.

Chakwera telah menghadapi peningkatan pemberontakan dari dalam koalisi dengan banyak anggotanya menuduh partainya korupsi, nepotisme dan mendorong negara ke jurang krisis ekonomi.

Keputusan presiden nyaris terjadi setelah penangkapan tiga mantan pejabat partai yang memerintah Partai Progresif Demokratik. Termasuk mantan menteri keuangan dan gubernur bank sentral, yang disebut-sebut sebagai penantang utamanya untuk pemilihan yang dijadwalkan pada 2025.

Tinggalkan Komentar