Jumat, 07 Oktober 2022
11 Rabi'ul Awwal 1444

Menulis Ulang Masa Depan Indonesia

Kamis, 11 Agu 2022 - 10:13 WIB
15 Pemimpin muda Indonesia bersama Wakil Menteri Luar Negeri Australia, Tim Watts (Foto Dok.Pri)
15 Pemimpin muda Indonesia bersama Wakil Menteri Luar Negeri Australia, Tim Watts (Foto Dok.pri)

15 pemimpin muda Indonesia melakukan ‘perjalanan’ ke Australia untuk melihat kemungkinan masa depan Indonesia. Dalam perjalanan itu, mereka merelevansikan pengalaman satu sama lain untuk menggambar sebuah pengalaman baru yang akan ikut menentukan bulat-lonjong sejarah Indonesia masa depan. 15 pemimpin muda itu terdiri dari politisi, akademisi, entrepreneur, birokrat, ekonom, jurnalis hingga aktivis pergerakan. Mereka berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Saya beruntung menjadi salah satu di antara 15 orang itu, sekadar jadi tukang cerita.

Sejarawan David Carr dalam bukunya Historical Experience: Essays on the Phenomenology of History (2021) menulis tentang hubungan antara pengalaman dan sejarah. Kita bisa membacanya dari dua arah yang berbeda, sejarah sebagai sebuah pengalaman (history as an experience) atau pengalaman sebagai sejarah (experience as history). Carr berpandangan bahwa sejarah seharusnya memang menjadi sesuatu yang ‘hidup’ dalam pengalaman masing-masing orang yang bersentuhan dengannya. Sejarah harus menemukan konteks personal pada diri setiap orang.

Anak-anak muda Indonesia yang membaca sejarah, misalnya sejak kebangkitan Nasional 1901, Sumpah Pemuda 1928, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 1945, hingga reformasi 1998, seharusnya bisa menemukan elemen ‘pengalaman pemimpin muda’ di dalamnya. Elemen itulah yang akan membuat kita merasa relevan dengan pengalaman kita saat ini–pengalaman hari ini yang pada saatnya kelak akan menjadi sejarah di masa depan.

Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan nama-nama anak muda lain yang kita baca dalam sejarah waktu itu bukanlah anak-anak muda yang sibuk dengan dirinya sendiri, puas menjadi katak dalam tempurung, pesimis membayangkan Indonesia sebagai negara yang akan hancur. Sebaliknya, mereka berkumpul, berdialog, berkolaborasi, melakukan perjalanan, memperluas cakrawala berpikir hingga ke level global, melihat Indonesia dengan penuh optimisme–bahwa bangsa ini akan jadi bangsa yang besar dan berjaya. “Beri aku tujuh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Kata Soekarno.

Teori Soekarno untuk ‘mengguncang dunia’ itu bukanlah retorika belaka. Soekarno muda pada saat itu bukanlah anak muda ‘jago kandang’ yang hanya berani berkoar-koar di Indonesia saja. Mindset dan mentalitasnya melintasi ruang, mejelajah dimensi, bahkan tak lekang waktu. Kita hari ini masih merasakan getarannya dan seharusnya kita juga bisa membaca ‘sejarah’ itu dengan merefleksikannya pada ‘pengalaman’ kita hari ini. Apakah kita juga berpikir melampaui kepentingan dan urusan diri kita sendiri, tidak jadi katak di tempurung digital, hanya bisa sok jago di kotak sendiri, tak sedikitpun berpikir tentang orang lain, umat, bangsa?

Baca juga
Rossa Siap Kembalikan Honor Nyanyi dari DNA Pro

Sejarah adalah apa yang kita tulis hari ini untuk orang lain baca di masa depan. Pikiran inilah yang melatarbelakangi Francois Gautier ketika menulis Rewriting Indian History (1996). Ia memotret bagaimana para pemikir, ilmuwan, akademisi, politikus, dan anak-anak muda India dari berbagai bidang dan latar belakang memahami sejarah India di masa lalu untuk memetakan sejarah India di masa depan–berdasarkan pengalaman hari ini. Kata Gautier, sejarah (India) tersusun dari hal-hal yang bersifat politis, spiritual, kultural, dan sosial. Semua aspek harus diramu untuk menemukan gambar besar yang ingin kita lihat di masa depan.

Bersama Indonesianis dari The Australia National University (Foto: dok.pri)
Mengunjungi Australia Parliament House, Canberra (Foto: Dok.pri)

Kembali pada konteks Indonesia, pertanyaannya, gambar apa yang ingin kita lukis untuk Indonesia masa depan? Sejarah seperti apa yang akan kita tulis? Kita bisa memulainya dengan jargon, misalnya, ‘Indonesia Emas 2045’. Atau dengan keyakinan seperti pernah disampaikan Presiden Jokowi tentang ‘Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia’. Juga bisa dengan niat untuk melakukan ‘Revolusi Mental’. Artinya, kita bisa memulainya dengan apapun saja sebenarnya. Yang penting anak-anak muda sebagai aktor utama yang bertugas merakit masa depan benar-benar ‘mengalami’ semua itu. Sebab pengalaman itulah yang akan menyejarah, menulis berbagai kemungkinan dan arah baru yang seringkali tak terduga-duga.

Segala pengalaman yang datang punya efek untuk menentukan arah sejarah berikutnya, bukan? Mulai dari perubahan geopolitik sampai turbulensi ekonomi global. Maka yang penting sebenarnya bukanlah keputusan apa yang kita ambil sebagai respons atas perubahan-perubahan yang terjadi. Tetapi mindset dan mentalitas seperti apa yang kita miliki, sebab itulah yang akan menentukan karakter kita di tengah situasi dan kompetisi global yang ada. Nusantara harus menjadi titik tengah bagi empat penjuru mata angin perubahan global. Saat angin Utara berembus kencang, kita menghadap ke Selatan. Saat Barat tidak lagi menjadi tempat berpaling yang baik, menghadaplah ke Timur. Jadilah Nusantara yang menjadi titik tengah untuk berpijak.

Baca juga
Inilah Saham-saham Pilihan Senin, 25 Juli 2022

Konon, kata Nusantara berasal dari empat kata dalam bahasa Sansakerta: Nuswa, swa, anta, dan tara. Karena ada hukum ‘sasandi’ dalam bahasa Sansakerta, di mana setiap suku kata yang berbunyi sama bisa digabung (seperti hukum tasydid dalam Bahasa Arab) maka empat kata itu bisa digabung menjadi satu: Nusantara. Nuswa berati kepulauan, swa berarti mandiri, anta berarti ksatria, tara berati suci. Konon kata Nusantara menggambarkan karakter bangsa ini, kepulauan yang mandiri yang dihuni oleh para ksatria dan (keturunan) orang-orang suci. Seperti kata Gautier tentang apa yang menyusun sejarah (India), ada berbagai dimensi di dalam Nusantara: Dimensi sosial, politik, kebudayaan, hingga spiritual. Nusantara adalah gabungan dari semua elemen itu, tak bisa dipisah-pisahkan, apalagi dicerai-ceraikan.

Whatsapp Image 2022 08 11 At 10.01.52 - inilah.com
Bersama Para Indonesianis The Australia National University, Ed Aspinall, Marcus Mietzner, dan Greg Fealy (Foto: Dok.pri)

Semua pihak, orang pulau maupun orang laut, desa maupun kota, ksatria atau orang suci, ulama atau umara, birokrat atau politisi, akademisi atau aktivis, pengusaha atau pekerja, semua harus bisa bersatu dan berkolaborasi dengan prinsip hukum ‘sasandi’ untuk membangun Nusantara. Hari ini kita menyebutnya ‘kolaborasi’. Semangat inilah yang harus kita alami bersama-sama, agar pengalaman itu menjadi sejarah yang kita tulis sendiri. Jika sudah terjadi kolaborasi antara pihak-pihak itu, perasaan yang setara di antara para pejuang ide (intellectuals), para pejuang modal (entrepreneurs), dan para pejuang politik (activists), maka akan terbentuk apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai the historical bloc atau blok kesejarahan (Prison Notebooks, 1926).

Saya kira tugas pemimpin-pemimpin muda hari ini adalah membangun blok kesejarahan itu. Dengan atau melalui blok kesejarahan itulah kita bisa ‘menulis ulang masa depan Indonesia’ dengan pengalaman kita hari ini, bukan berdasarkan pengalaman orang-orang tua di masa lalu. Inilah tugas para pemimpin anak muda Nusantara.

Baca juga
Usai Panen Kritik Pebalap MotoGP, Sirkuit Mandalika Bakal Diaspal Ulang

Selama satu minggu, 7-14 Agustus 2022, saya menyaksikan bagaimana pemimpin anak-anak muda Nusantara melakukan ‘kerja sejarah’ ini. Dalam program Indonesia Young Leaders Exchange Program (IYLEP), Perkumpulan Kader Bangsa mengajak 15 pemimpin muda Indonesia bertualang ke Canberra dan Sydney, Australia. Saya kira bukan untuk belajar dari Australia, tetapi untuk belajar pada satu sama lain, untuk merelevansikan pengalaman satu sama lain, melihat Indonesia dari jauh, menggambar masa depan Indonesia dalam sebuah perjalanan–menuju masa depan.

Whatsapp Image 2022 08 11 At 10.11.25 - inilah.com
15 pemimpin muda Indonesia dalam program Indonesia Young Leaders Exchange Program (IYLEP) (Foto: Dok.pri)

Ke-15 anak muda itu adalah Dimas Oky Nugroho (Pendiri Perkumpulan Kader Bangsa), Abdullah Syukri (Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Dirgayuza Setiawan (Kepala Tim Ahli Kementerian KKP RI), Diana Sasa (Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Fraksi PDIP), Edwin Khadafi (Ketua KNPI Kota Bandung), Fahd Pahdepie (CEO Inilahcom), Fandy Akhmad Yani (Bupati Gresik), Gamal Albinsaid (Ketua Bidang Pemuda DPP PKS), Gracia Paramitha (Co-Founder Indonesia Youth Diplomacy dan Y20), Kevin Valentino (Ketua Departemen DPP Partai Nasdem), Ni Nyoman Clara Listya Dewi (Co-Founder BasaBali Wiki), Puteri Anetta Komarudin (Anggota Komisi XI DPR RI, Fraksi Partai Golkar), Reno Ranggi Koconegoro (Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi), Revolusi Riza Zulverdi (Pemimpin Redaksi CNN Indonesia), Sahat Martin Philip (Sekjen Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia/GAMKI) dan Wisnu Nugroho (Pemimpin Redaksi Kompas.com).

Senang bisa membersamai mereka. Berbagi cerita. Menemukan pengalaman baru. Menulis ulang (sejarah) masa depan Indonesia. [inu]

FAHD PAHDEPIE, storyteller, delegasi IYLEP Australia 2022.

Tinggalkan Komentar