Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Menunggu Godot ‘Eliot Ness’ di Trunojoyo

Sabtu, 10 Sep 2022 - 15:05 WIB
The untochables
Ilustrasi (Foto: ist)

Keterangan bekas Kapolres OKU Timur, AKBP Dalizon, di Pengadilin Tipikor Palembang itu mengejutkan Majelis Hakim. Dalizon yang duduk di kursi terdakwa dalam kasus pidana suap proyek Dinas PUPR Kabupaten Muba pada 2019 itu mengungkap fakta mencengangkan.

“Dua bulan pertama saya wajib setor 300 juta ke Pak Dir. Bulan-bulan setelahnya, saya setor 500 juta sampai jadi Kapolres. Itu jatuh temponya setiap tanggal 5,” ujar Dalizon di persidangan, pada Rabu (7/9/2022). Majelis hakim yang terkejut, lantas bertanya asal-muasal uang sogok bulanan itu. Dalizon mengaku lupa. Dia hanya menyebut itu sebagai ‘dana pendampingan’. Tak ada penjelasan detil apa maksud dana pendampingan itu.

***

Pengakuan Dalizon ini mengingatkan saya pada Film The Untouchables (1987). Film yang sempat meraih peghargaan Oscar ini diangkat dari kisah nyata Kepolisian Chicago tahun 1930-an. Saat itu Kepolisian Chicago digerogoti kanker korupsi yang parah. Amerika, yang saat itu masih dikuasai kaum konservatif, melarang peredaran minuman keras. Tapi bagi Al Capone, diperankan Robert de Niro, itu peluang bisnis yang gurih. Al Capone berani berbisnis miras karena bersekongkol dengan Kepala Polisi, dan mayoritas anggota polisi di kota itu. Kongkalikong Capone dan polisi mengerogoti seluruh kota Chicago.

Pemerintah Federal yang mencium kebobrokan Kota Chicago menunjuk agen muda Eliot Ness, diperankan oleh Kevin Costner, untuk membereskan masalah. Di Amerika kejahatan yang menyangkut keuangan dan pajak merupakan kewenangan Pemerintah Federal. Agen Elliot Ness dikenal sangat jujur, berani dan cerdas. Dia datang ke Chicago seorang diri untuk mempelajari situasi. Eliot Ness memetakan lapangan secara detil. Dia sadar bahwa mayoritas polisi Chicago, termasuk Kepala Polisi, sudah dalam genggaman Capone.

Baca juga
Jadi Tersangka Korupsi Pembangunan IPDN Minahasa, Dono Ditahan KPK

Langkah pertama Eliot Ness membentuk team kecil yang bisa dia percaya. Selain berani dan jagoan, syarat yang dutetapkan Ness anggotanya harus tahan terhadap sogokan. Ness memilih sendiri tiap anggota skuad pemburu Capone itu. Selain polisi miskin yang ada di jalanan, Ness juga merekrut polisi terbaik yang baru lulus dari akademi. Polisi-polisi pilihan itu diyakini belum terkontaminasi uang sogok dari Capone.

Dalam The Untouchables itu, ada beberapa dialog yang patut menjadi pelajaran. Jimmy Malone, salah satu anggota skuad, pada awalnya mempertanyakan keseriusan Eliot Ness untuk menangkap Capone. Sebab, dibutuhkan keteguhan hati untuk menjalankan tugas itu. “You said wanted to get Capone. Do you really wanna get him?” ujar Malone. Eliot Ness mejawab singkat, tapi tegas: “Anything within the law.” Dan jawaban singkat itu dibuktikan di lapangan. Saat mendatangi Capone, Eliot Ness bicara lantang tanpa rasa gentar sedikit pun. “Come on here, Capone. You want to fight? You and me, right here? That’s it, come on!”

Setelah melalui berondongan ribuan peluru, dan kematian demi kematian, Eliot Ness berhasil membekuk Al Capone. Penjahat berdarah Italia itu pada 1931 divonis sebelas tahun atas pidana penggelapan pajak. Di dalam penjara Alcatraz Capone didiagnosis terkena sifilis akut, yang sudah menjalar menginfeksi otak. Tubuhnya melemah. Dia mati tak lama setelah bebas dari penjara.

***

Tahun 2018 saya, dan Darmawan Sepriyossa, dijebloskan Rezim Jokowi ke Penjara Cipinang. Kami masuk penjara karena menerbitkan Tabloid Obor Rakyat. Di penjara yang dihuni lebih dari 4000 napi itu saya bertemu banyak tokoh. Salah satunya, Aiptu Labora Sitorus. Anggota polisi Polres Sorong Papua itu memiliki catatan transaksi mencapai Rp1,6 trilun di rekeningnya. Pengadilan memvonis Labora 15 tahun dalam kasus pembalakan hutan dan pencucian uang. Hari-hari pertama di Penjara Cipinang, saya mengamati keadaan. Salah satu kegiatan rutin yang saya jalani adalah jogging, atau sekadar jalan cepat, mengelilingi lapangan yang berada di tengah penjara. Saya kerap melihat Labora Sitorus saat jalan cepat memutari lapangan.

Baca juga
Foto: Edy Mulyadi Penuhi Panggilan Bareskrim Polri

Ada perbedaan mencolok antara Labora Sitorus dengan napi lainnya. Labora Sitorus rajin berolah raga mengelilingi lapangan. Dia selalu mengenakan kaus, celana pendek dan sepatu sport. Sekitar lima, atau enam, napi terlihat ‘mengawal’ di samping dan di belakang Labora. Selalu begitu. Entah seperti itu. Di penjara yang 80 persen penghuninya terkait kasus narkoba itu, ada cerita soal Labora. Cerita dengan berbisik-bisik di kalangan para narapidana. Tapi saya tak bisa menuliskannya di sini. Tak berani.

Selain Labora Sitorus, cukup banyak polisi yang terjerat kasus korupsi. Publik sempat dihebohkan dengan berita ‘rekening gendut’ para jenderal polisi. Salah satu kasus yang fenomenal adalah megakorupsi Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo. Djoko, yang dikenal flamboyan dan memiliki beberapa istri ini, terbukti mengentit uang negara senilai Rp196 miliar dari proyek simulator untuk ujian mendapat Surat Ijin Mengemudi (SIM). Media mengungkap ketiga istri Djoko mendapat rumah yang masing-masing bernilai miliaran rupiah.

Kita tentu masih mengingat beberapa nama — yang mungkin menjadi representasi (?), untuk tak kita lupakan. Mereka terjerat kasus korupsi, suap dalam perkara yang ditanganinya. Sebut saja AKBP Brotoseno, Brigjen Samuel Ismoko, Brigjen Edmond Ilyas, Irjen Raja Erizman, Irjen Napoleon Bonaparte, Komjen Suyitno Landung, Komjen Susno Duaji, dan entah berapa lagi.

Baca juga
KPK: Mardani H Maming Tak Kooperatif, Pelindungnya Terancam Bui 12 Tahun

Tak heran jika survey terhadap Polri hasilnya masih kurang menggembirakan. Lembaga Survei Indonesia (LSI), pada Juli 2022 merilis hasil survei yang menyebut 46% responden meyakini korupsi di polisi masih buruk. Senada dengan LSI, Indikator Politik Indonesia pada Juni 2022 menyebut 44% reponden meyakini tingkat korupsi di kepolisian masih tinggi. Belum ada lembaga survei yang merilis tingkat kepercayaan pada Polri setelah kasus Ferdy Sambo meledak.

***

Rakyat Indonesia kini menantikan sosok seperti Eliot Ness, polisi jagoan yang tak bisa disuap, untuk mempimpin Polri dari markas besar di Jalan Tronojoyo, Jakarta. Itu satu-satunya cara untuk membuat institusi Polri bersinar terang. Kita tentu tak ingin joke Presiden ke-4 RI, KH Abdurahman Wahid menjadi kenyataan. Suatu Ketika Gus Dur dengan enteng berujar, “Hanya ada tiga polisi yang jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur dan (mantan Kapolri) Hoegeng.” Bagaimana yang lainya? Gus Dur tak menjawab, tapi hanya tersenyum.

Setiyardi Budiono

Tinggalkan Komentar