Selasa, 07 Februari 2023
16 Rajab 1444

Menunggu Hasil Autopsi Kakak-Beradik Korban Tragedi Kanjuruhan

Senin, 07 Nov 2022 - 10:12 WIB
Penulis : Ivan Setyadhi
Menunggu Hasil Autopsi Kakak-Beradik Korban Tragedi Kanjuruhan
Proses Autopsi Korban Tragedi Kanjuruhan (Ist.)

Proses autopsi terhadap dua korban tragedi Kanjuruhan berinisial NBR (16) dan NDA (13) dilakukan enam dokter forensik yang tergabung dalam Persatuan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Cabang Jawa Timur, Sabtu (5/11/2022) lalu.

Dua korban tragedi Kanjuruhan yang di autopsi merupakan kakak-beradik anak dari Devi Athok. Sang ayah yang sempat mengawal proses autopsi, tak kuasa menahan tangis saat makam kedua putrinya di TPU Dusun Patuk, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang dibongkar petugas.

“Sepurane (mohon maaf), nak,” teriaknya sambil menangis. Devi Athok tampak mengenakan kaos hitam bergambar dua putrinya.

Proses autopsi dua jenazah kakak-beradik itu berlangsung selama tujuh jam. Devi sempat menceritakan bagaimana kondisi anaknya sesaat setelah dinyatakan meninggal dunia usai menonton sepak bola.

“Anak saya yang Natasya itu dari dada sampai ke atas (wajah) itu biru sampai hitam, keluar darah. Terus yang Nayla adiknya itu dari tenggorokan sampai ke atas (wajah) menghitam. Tidak ada luka sama sekali di badan, si Nayla di hidungnya keluar busa,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Baca juga
PSSI Komunikasi dengan FIFA Demi Hindari Sanksi Akibat Tragedi Kanjuruhan

Bahkan saat memandikan jenazah putrinya untuk kali terakhir, ia memastikan jika tidak ditemukan luka lecet di jasad anaknya.”Waktu saya mandikan jenazah terakhir kalinya, tidak ada sama sekali dari bawah sampai atas gak ada luka lecet atau apapun dan memang dari itu keluar di sini (mulut dan hidung) seperti racun,” katanya.

Namun saat memeluk dan mencium anaknya untuk kali terakhir, Devi merasakan sakit dan perih seperti terkena gas air mata.”Di bajunya itu baunya nggak enak, menyengat. Sampai tujuh hari gatal-gatal muka saya, karena mencium dan memeluk mereka (kedua putrinya),” tuturnya.

Ketua tim PDFI Jawa Timur, Nabil Bahasuan menyebut perlu waktu berminggu-minggu untuk menyimpulkan hasil autopsi.”Paling lama delapan minggu,” terangnya.

Nabil juga mengungkap proses autopsi membutuhkan waktu serta dilakukan secara hati-hati sebab jenazah korban sudah mulai membusuk.”Kami sudah melaksanakan serangkaian pemeriksaan luar, dalam, dan penunjang, kami mohon doa buat masyarakat kepada tim PDFI Jatim untuk bisa memberikan laporan hasil autopsi,” ujarnya.

Baca juga
The New York Times: Sepak Bola, Kematian dan Impunitas Polisi

Sementara Polri bakal menggunakan hasil autopsi jasa korban tragedi Kanjuruhan untuk memastikan tindak lanjut penyidikan peristiwa yang menyebabkan 135 korban jiwa tersebut.”Tunggu ketua tim dan pemeriksaan laboratoris. Nanti hasilnya dari PDFI akan sampaikan ke penyidik,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo, Minggu (6/11/2022).

“Untuk proses sidik masih berjalan untuk memenuhi petunjuk dari JPU,” sambungnya.

Sebelumnya, Devi Athok sempat membatalkan tindakan autopsi kepada kedua anaknya. Saat itu, Polda Jawa Timur menyatakan pihak keluarga korban tidak menyetujui proses autopsi.

Sejauh ini, polisi sudah menetapkan enam orang sebagai tersangka tragedi Kanjuruhan. Keenam tersangka itu masing-masing berinisial AHL (Dirut LIB), AH (Ketua Panpel), SS (Security Officer), Wahyu SS (Kabag Ops Polres Malang), H (Deputi 3 Danyon Brimob Polda Jatim), BSA (Kasat Samapta Polres Malang).

Sabtu malam, 1 Oktober 2022, kericuhan pecah usai pertandingan antara Arema vs Persebaya dengan skor akhir 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Kekalahan itu membuat sejumlah suporter tuan rumah turun dari tribun dan masuk area lapangan.

Baca juga
Eks Kabareskrim Prediksi Tersangka Tragedi Kanjuruhan Bertambah, Termasuk Oknum Suporter

Kerusuhan tersebut semakin membesar dan sejumlah flare dilemparkan, termasuk benda-benda lainnya. Petugas keamanan gabungan dari kepolisian dan TNI berusaha menghalau para suporter tersebut dan hingga pada akhirnya aparat menggunakan gas air mata.

Dari sinilah horor di Kanjuruhan mulai terjadi, ribuan penonton berdesakan berusaha kabur ke pintu keluar yang terkunci, hingga saling dorong dan berdesakan, hingga kehabisan oksigen.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, korban meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan sebanyak 135 orang dan ratusan orang mengalami luka berat dan ringan.

Tinggalkan Komentar