Menyikapi Dampak Belajar Daring pada Anak

Menyikapi Dampak Belajar Daring pada Anak  - inilah.com
Foto: Istimewa

Mengingat saat ini penggunaan terhadap gadget / gawai pada anak semakin tinggi. Terlebih anak-anak kini banyak menatap gawai karena masih menjalankan proses belajar mengajar lewat daring. Bagaimana pengaruh emosi anak saat belajar daring?

Jawaban:

Pemerhati dan sahabat anak Indonesia serta Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto, menjelaskan ada sekitar 13 persen anak mengalami depresi saat belajar daring.

Hal tersebut sesuai dengan survei yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

Selain itu, anak perempuan mengalami gejala depresi sebanyak 14 persen, sementara anak laki-laki sekitar 10 persen.

Sementara, gejala emosi yang sering dialami yaitu, 42 persen merasa sedih, menyalahkan diri sendiri 42 persen, 38 persen mudah marah, tidak berkonsentrasi dengan baik 31 persen, merasa terekan 26 persen, sering menangis 20 persen.

Baca juga  Jangan Takut, Ini Solusi Jika Terlanjur Terjerat Utang Pinjol Ilegal

Anak merupakan sebuah aset kemajuan bangsa yang dapat membawa Indonesia lebih maju ke depannya.

Dukungan kolektif masyarakat untuk tumbuh kembang anak seperti pemenuhan nutrisi yang seimbang dan dukungan akses pendidikan yang berkualitas sejak dini, sangat diperlukan sebagai fondasi dan langkah awal seorang anak untuk melakukan berbagai hal produktif dalam hidupnya.

“Oleh karena itu, mari kita bersama-sama mendukung kemajuan anak-anak Indonesia dengan perannya masing-masing untuk mewujudkan Indonesia maju di masa depan,” kata Seto Mulyadi saat jumpa virtual gerakan sosial #AyoTunjukTangan, Dukung Kemajuan Anak Indonesia bersama SGM Eskplor, Jakarta, baru-baru ini.

Seto menjelaskan, ujung tombak dari pendidikan anak di rumah adalah yang paling sering bertemu yaitu bunda.

Baca juga  Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil Mulai Digelar 

“Saya kira salah satu yang digerakan adalah dari para Bunda ya. jadi para bunda ini sering menjadi ujung tombak pendidikan anak-anak di rumah yang paling sering, yang paling dekat dengan anak adalah para bunda. Jadi, yang pertama adalah para bunda mengubah paradigma keliru bahwa mendidik anak tidak harus dengan cara kekerasan,” paparnya.

Dia menambahkan pentingnya mengelola emosi, senyum dan tidak harus sabar dalam menghadapi anak adalah kunci menemani anak ketika belajar di rumah dan berhadapan dengan gawai.

“Para bunda selalu senyum, lalu mengambil gelar S3 yaitu sangat sabar sekali, kalau perlu S5, sangat sabar sekali selalu senyum, begitu.

Baca juga  Masalah yang Dihadapi Ketika Menyusui

“Jadi kalau itu saja, itu sudah menjadi sisi psikologis anak untuk bisa tumbuh kembang menjadi lebih optimal pada anak. Tapi kalau bunda sudah cemberut, apalagi kalau mohon maaf, kalau sudah ngomel sepanjang hari nah akhirnya anak menjadi pusing kalau begitu,” tambahnya.

Jadi S5 itu perlu sekali untuk para bunda, dan kemudian itu tadi, dengan mengajak semua ramah anak.

“Tidak harus dengan ayo begini, ayo begini, tetapi dengan dua tambah dua berapa dengan lagu. Berapa sayang, dan seterusnya, menggunakan lagu misalnya,” ujarnya.

Tinggalkan Komentar