Jumat, 01 Juli 2022
02 Dzul Hijjah 1443

Menyorot Peta Koalisi Parpol Menuju Pilpres 2024

Rabu, 08 Jun 2022 - 12:14 WIB
Koalisi Indonesia Baru (KIB).
Koalisi Indonesia Baru (KIB). (Foto: Inilah.com/ Agus Priatna)

Terbangunnya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas tiga partai politik, yaitu Golkar, PAN, dan PPP baru-baru ini telah membawa perubahan dinamika politik terkini. Langkah strategis yang ditempuh ketiga parpol itu memantik terjadinya gelombang manuver politik dari partai-partai lain.

Seakan-akan tidak mau ketinggalan gerbong, sejumlah parpol di luar KIB pun mengambil langkah penjajakan konsolidasi pendahuluan. Ada politik ambil ancang-ancang, tidak mau kalah start dari partai yang lain.

Menyusul terbentuknya KIB, penjajakan yang disebut-sebut sebagai awal untuk pembentukan koalisi juga terbaca dari pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh pada Rabu (1/6/2022) lalu.

Termutakhir, terjadinya pertemuan petinggi Partai Demokrat dengan NasDem pada Minggu malam 6 Juni 2022. Pertemuan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono itu berlangsung sekitar dua jam.

Di luar ajang pertemuan para petinggi parpol itu, gagasan membentuk poros koalisi partai disampaikan Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Pada awal Juni lalu, Cak Imin mengungkap peluang membuat koalisi baru. Alasannya, koalisi yang ada belum matang dan semuanya masih mungkin.

Baca juga
Vietnam vs Indonesia, Garuda Muda Diberondong Tiga Gol Tanpa Balas

Penawaran Cak Imin itu setidaknya direspons positif PKS yang menyatakan siap membuka komunikasi ihwal poros baru koalisi tersebut. Segala kemungkinan betul-betul dicermati oleh masing-masing parpol untuk melangkah bersama-sama dalam satu gerbong menuju pertarungan Pilpres 2024. Di sini setiap parpol akan terus saling lirik dan melihat daya tawar.

Peta koalisi parpol memang masih sangat dinamis dan cair, terlalu subuh kalau publik membacanya hari ini. Sebab, pergerakan peta koalisi ini baru mulai menggeliat, terutama mesin koalisi mulai dipanaskan petanya oleh KIB. Jadi ke depannya, bongkar-pasang, jodoh-menjodohkan, cocoklogi akan terus berkembang.

Tentunya, konstelasi politik menuju Pilpres 2034 bakal semakin dinamis. Langkah awal pembentukan poros koalisi sudah dimulai melalui KIB. Pengamat politik sekaligus pendiri Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago dalam perbincangan dengan Inilah.com, Selasa (7/6/2022), mencermati ke depannya KIB ini bisa makin kuat dan punya nilai jual apabila punya jagoan calon presiden yang cukup kuat elektoralnya.

Baca juga
Bernama Muhammad dan Maryam, Masjid Jogokariyan Siapkan Hadiah Salat Subuh Berjemaah

Dengan begitu, jika KIB memiliki figur capres yang elektabilitasnya tinggi dan kemungkinan besar bisa menang, maka bakal banyak partai lain berpotensi bergabung ke KIB. Begitupun sebaliknya, apabila KIB gagal menemukan atau menyeleksi capres yang potensial menang “bandwagon effect” maka ada potensi koalisi ini akan mengalami pecahan di tengah jalan, sebab tidak ada daya rekatnya.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto juga sudah terang-terangan menyebut KIB sangat terbuka bagi parpol lainnya yang hendak bergabung dengan mereka, bersama-sama dalam satu perahu.

Airlangga pun menekankan bahwa dalam membangun bangsa ini tidaklah dapat dilakukan hanya oleh satu golongan atau sendiri-sendiri. Komitmen serupa juga telah disampaikan oleh Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan.

Bahkan Zulkifli Hasan menyebut semua pihak memiliki kesempatan yang sama untuk diusung sebagai calon presiden ataupun calon wakil presiden oleh KIB. Begitu pun dengan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa yang bilang KIB membuka diri bagi seluruh pihak dalam menghadirkan capres dan cawapres terbaik bagi Indonesia pada Pemilu 2024.

Baca juga
Status Juara Bertahan Tak Jadi Beban untuk Ginting

Bagi Pangi, misalnya nanti, anggaplah KIB bakal mengusung capres seperti Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan –seperti yang banyak disebut-sebut publik– maka ada kemungkinan roh koalisi ini makin berkelas, makin dilirik dan diperhitungkan.

Namun sebaliknya, kalau KIB menjagokan Ketum Golkar atau Ketum PAN atau Ketum PPP maka jelas KIB kehilangan pesona dan mulai ditinggalkan karena ketum parpol KIB tidak cukup memadai modal racikan elektoralnya, dan kemungkinan menang masih jauh kansnya.

Tinggalkan Komentar