Meraba Perdamaian Wajah Pemerintahan Taliban Jilid II

Meraba Perdamaian Wajah Pemerintahan Taliban Jilid II - inilah.com

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam poin-poin publikasi terbarunya mengatakan akan berusaha membantu Afghanistan mencapai perdamaian. Menyikapi perkembangan terbaru di Afghanistan di mana Taliban menguasai ibukota Kabul dan mengambil alih kekuasaan di Afghanistan.

Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Sekjen OKI, Yousef Al-Othaimeen dan Wakil Tetap Arab Saudi untuk OKI, Saleh Al-Suhaibani dihadiri 42 dari 57 negara anggota OKI tersebut pihaknya menyeru agar para pemimpin di masa mendatang tetap waspada agar tak membiarkan Afghanistan dimanfaatkan sebagai tempat berlindung kelompok teroris.

“Kami mengharapkan dialog komprehensif dan rekonsiliasi nasional dari pihak-pihak berwenang di Afghanistan,” kata Sekretaris Jenderal OKI Dr. Yousef Al-Othaimeen dalam pertemuan luar biasa OKI untuk membahas situasi di Afghanistan pada Ahad (22/8) di kantor pusat Sekretariat Jenderal OKI di Jeddah.

Dia menyerukan kepada pihak yang saat ini menguasai Afghanistan untuk menghormati hukum humaniter internasional. Penduduk Afghanistan punya hak untuk hidup dan merasa aman.

Dalam komunike yang dirilis setelah pertemuan luar biasa itu, OKI mendesak kepemimpinan Afghanistan masa depan dan masyarakat internasional bekerja sama guna memastikan negara tersebut tak lagi digunakan sebagai “markas” militan internasional. “ Organisasi teroris tidak diizinkan memiliki pijakan di Afghanistan,” kata OKI.

Baca juga  Bersama Suami Pejabat Wanita ini Hanya Pasrah Tunggu Dibunuh Taliban

Wakil Tetap (Watap) Afghanistan untuk OKI, Duta Besar Shafiq Samim, menyampaikan apresiasi kepada OKI dan negara anggota atas dukungan dan solidaritasnya kepada Afghanistan di tengah masa sulit ini. Selanjutnya, Watap Afghanistan melaporkan perkembangan terakhir di negaranya, yaitu Taliban telah memasuki Kabul dengan damai dan keamanan ibukota dan wilayah lain sudah stabil.

Dubes Shafiq juga menyampaikan komitmen Taliban, antara lain berjanji menjaga keselamatan orang asing dan misi diplomatik untuk meninggalkan Afghanistan melalui Bandara Kabul; syariah Islam ditegakkan; perempuan dan anak dilindungi untuk bersekolah dan bekerja; kebebasan media dijamin selama tidak bertentangan dengan prinsip Islam; dan membutuhkan pengakuan internasional dengan menjaga hubungan diplomatik.

Sementara itu pada pertemuan luar biasa OKI itu, Delegasi RI juga memberikan dorongan dengan inisiasi menekan tiga hal kunci, yaitu masa depan Afghanistan harus diupayakan melalui penyelesaian damai melalui proses rekonsiliasi nasional yang dipimpin dan dimiliki oleh bangsa Afghanistan (Afghan-led and Afghan-owned). Kedua, proses rekonsiliasi nasional Afghanistan hanya dapat diraih dengan persatuan dan solidaritas seluruh pihak di Afghanistan. Ketiga, tidak akan ada perdamaian atau stabilitas di Afghanistan tanpa partisipasi penuh, setara, dan berarti dari kaum perempuan.

Baca juga  Temui Perwakilan Taliban, Ini Penjelasan Menlu Retno

Pertemuan mengamanatkan Sekjen OKI untuk membentuk high-level delegation untuk menyampaikan dukungan dan bantuan untuk perdamaian, stabilitas dan rekonsiliasi nasional di Afghanistan. Pertemuan juga menyepakati Final Communique secara mufakat.

Rekonsiliasi Indonesia

Indonesia turut berperan untuk menjadi fasilitator pertemuan  tripartit, antara Pemerintah Afghanistan, Taliban, dan ulama se-Asia beberapa waktu lalu. Pertemuan itu juga dianggap penting untuk menyatukan persepsi mengenai hukum Islam, terutama terkait kekerasan yang menjadi sumber konflik tahunan di Afghanistan.

Hal itu disampaikan A.M. Sidqi Pelaksana Fungsi Politik II KBRI Riyadh dalam wawancara dengan INILAHCOM lewat sambungan WhatsApp, Senin malam (23/08).

Ia mengatakan Indonesia berharap Taliban memegang sikap terbuka yang selama ini mereka tunjukkan ketika berhubungan dengan Indonesia. Sejumlah program yang telah dijalankan ialah pertukaran ustaz, mahasiswa, dan pengembangan peran perempuan. Ulama Afghanistan, baik dari kelompok Taliban maupun di luar kelompok Taliban, telah dua kali datang ke Indonesia untuk berdiskusi di kantor Majelis Ulama Indonesia.

Alhasil dalam pertemuan untuk memulihkan hubungan itu, Sidqi mengungkapkan semakin optimistis akan masa depan perubahan wajah dari perdamaian di Afghanistan. Rekonsiliasi bersama sejumlah ulama itu menunjukkan bahwa Pemerintah Afghanistan tidak sendirian dalam mengupayakan perdamaian.

Baca juga  Pemerintah Klaim Kasus Aktif Covid-19 Turun Signifikan

“Semoga pelibatan ulama untuk perdamaian dapat menghadirkan damai di Afghanistan,” ujar Alumni Master of International Relations dari Universitas Monash tersebut.

Sidqi juga menekankan di tengah polemik antara kubu optimis dan pesimis saat era kekuasaan taliban, memang terlalu dini menilai dan memberi kesimpulan atas sikap Taliban dan corak kehidupan di Afghanistan saat ini dan mendatang.

“Taliban pun harus bijak melihat realitas bahwa Afghanistan dan geopolitik kawasan saat ini sangat berbeda dari 25 tahun lalu. Tantangan Taliban sangat berat dalam mengelola negeri Afghanistan, baik ekonomi, politik, dan keamanan,” jelasnya.

Berbagai pernyatan yang disampaikan Taliban saat ini cukup positif dan adaptif atas perubahan di Afghanistan dan dunia saat ini. Sikap positif Taliban itu, misalnya akan membentuk pemerintah inklusif, membangun hubungan baik dengan internasional, melindungi kelompok minoritas dan menjaga hak-hak kaum perempuan. Tetapi, dunia menunggu pernyataan tersebut tetap harus dibuktikan di lapangan.

Ada baiknya menunggu beberapa pekan lagi atau menunggu 100 hari kekuasaan Taliban di Afghanistan, baru kemudian menilai apa yang sesungguhnya terjadi di Afghanistan pada era kekuasaan Taliban jilid II.

Tinggalkan Komentar