Senin, 26 September 2022
30 Safar 1444

Merokok Bisa Hambat Penyembuhan Patah Tulang

Senin, 04 Apr 2022 - 18:44 WIB
patah tulang
Unsplash

Merokok bisa menjadi salah satu faktor penghambat penyembuhan kondisi patah tulang atau fraktur. Hal tersebut karena merokok bisa menyebabkan kerusakan di pembuluh darah.

“Merokok dapat merusak pembuluh darah dan menurunkan sirkulasi darah, ” ujar Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi dari RS Pusat Otak Nasiona, dr. Muhammad Adib Khumaidi, Sp.OT saat temu media virtual, Jakarta, Senin, (4/4/2022).

Hal yang juga menjadi penghambat penyembuhan patah tulang yakni pergerakan tulang yang cedera, kondisi kesehatan karena diabetes, gangguan hormon atau penyakit pembuluh darah, fraktur yang berat, rumit dan terinfeksi, usia lanjut serta usia lanjut.

“Penatalaksanaan kondisi fraktur pada pasien dengan etiologi penyebab ini maka harus ditangani juga hal-hal yang bisa mempengaruhi penyembuhan fraktur ini,” kata Adib.

Baca juga
Ade Rai Ungkap Manfaat Olahraga Jelang Buka Puasa

Dalam penyembuhan, ada risiko gangguan yang bisa dipengaruhi lokasi, jenis fraktur, vaskularisasi, fragmen fraktur, imobilitas, adanya infeksi, penyakit metabolik, nutrisi dan obat-obatan.

Adib mengatakan, sekitar 10 persen fraktur menunjukkan gangguan penyembuhan. Kasus-kasus yang muncul infeksi terjadi paling banyak pada kondisi fraktur tulang tibia terbuka.

Fase penyembuhan fraktur meliputi terbentuknya inflamasi, pembentukan tulang rawan dari sel induk, penggantian tulang rawan menjadi tulang, fase remodelling. Pasien perlu memahami fase ini untuk tahu kapan boleh kembali melakukan mobilisasi.

“Pertanyaan pasien, kapan bisa lepas tongkat, boleh langsung gerak? Sangat dipengaruhi fase penyembuhan fraktur dan ini juga akan berbeda pada kondisi klinis yakni tertutup atau terbuka, usia. Artinya pasien anak-anak dengan orang dewasa berbeda pada lamanya penyembuhan fraktur,” papar Adib.

Baca juga
Masker Kain Tidak Efektif Tangkal Omicron

Dia menambahkan, penyembuhan fraktur yang melambat bisa menyebabkan morbiditas dan menjadi beban ekonomi karena mengurangi produktivitas pasien serta membuat mereka harus kontrol rutin ke rumah sakit.

Tinggalkan Komentar