Rabu, 01 Februari 2023
10 Rajab 1444

Meski Ekonomi 2022 Mengilap, Industri Sawit Jalan di Tempat

Rabu, 25 Jan 2023 - 19:47 WIB
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono (kiri); Ketua bidang Komunikasi Gapki, Tofan Mahdi (tengah), Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni), Sahat Sinaga (kanan) dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (25/1/2023). (Foto: Antara).

Di tengah membaiknya perekonomian 2022, industri sawit di tanah air justru jalan di tempat. Produksi dan volume ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) turun tipis.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono mengakui, kinerja industri sawit pada 2022, cenderung stagnan.  “Ini sudah tahun keempat (industri sawit) Indonesia tidak tumbuh, atau stagnan. Padahal, kebutuhan domestik terus meningkat,” kata Joko Supriyono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/1/2023).

Joko menuturkan, stagnanasi yang dialami industri sawit nasional, dicermati dari anjloknya produksi dan volume ekspor. Pada 2022, produksi CPO mencapai 46,28 juta ton. Turun tipis ketimbang 2021 yang mencapai 46,88 juta ton. Sedangkan porsi ekspor pada 2022, sami mawon. Volumenya 30,8 juta ton, anjlok ketimbang 2021 yang mencapai 33,76 juta ton.

Baca juga
Setoran Minimalis, DPR Dukung 3 Gubernur Tolak Perpanjangan Izin Vale

Ada sepuluh negara tujuan ekspor miyak sawit Indonesia yang angkanya cukup besar. Berturut-turut China, India, Amerika Serikat (AS), Pakistan, Malaysia, Belanda, Banglades, Mesir, Rusia dan Italia. Tapi ada yang menarik. Pada 2020, AS berada di posisi 5. Dalam 2 tahun, AS merangsek ke posisi 3 dari barisan negara pengimpor utama produk sawit Indonesia.

Yang bikin menghibur, nilai ekspor naik lumayan. Nilai ekspor CPO, olahan dan turunannya mencapai US$39,28 miliar. Atau setara Rp589,2 triliun (kurs Rp15.000/US$). Tumbuh ketimbang 2021 senilai US$35,3 miliar (Rp529,5 triliun). Tentu saja, kenaikan nilai ekspor lantaran harga CPO dunia, sedang bagus-bagusnya. “Harga produk sawit pada 2022 relatif lebih tinggi ketimbang 2021,” jelas pria yang hobi wayang kulit itu.

Turunnya kinerja industri sawit Indonesia pada 2022, menurut Joko, tak lepas dari cuaca ekstrim basah yang mengganggu aktivitas serangga penyerbuk sawit. Kelangkaan serta mahalnya pupuk ikut menjadi pemicunya. Keputusan Presiden Jokowi melarang ekspor CPO pada 28 April 2022, membuat industri sawit nasional lemas. Mereka pun ramai-ramai mengurangi produksi.

Baca juga
Ekonomi AS Rasa Resesi, PHK Goldman Sachs Disusul Morgan Stanley dan HSBC

Dampaknya, petani tekor besar lantaran harga tandan buah segar (TBS) sawit, terjun bebas. “Tahun ini, mudah-mudahan  bisa kita kelola. Sehingga dinamika yang terlalu bergejolak seperti itu, tidak terjadi lagi di tahun ini. Khususnya ekspor dan produksi,” ujarnya.

Sedangkan konsumsi dalam negeri pada 2022, cenderung naik dibandingkan 2021. Dari 18,42 juta ton menjadi 20,97 juta ton. Kenaikannya disumbang dari melonjaknya permintaan industri pangan sebanyak 9,94 juta ton, sebelumnya 8,9 5juta ton.  Disusul permintaan dari industri oleokimia naik dari 2,13 juta ton (2021) menjadi 2,19 juta ton (2022). Konsumsi biodiesel sebanyak 8,84 juta ton pada 2022, tahun sebelumnya 7,34 juta ton.

Baca juga
Keluarga Rekan Bisnis Kaesang dan Gibran Jadi Korban Mega Skandal Indosurya

Tahun ini bagaimana? Kata Joko, kemungkinan masih sama dengan 2022. “Produksi diperkirakan tidak akan naik. Sementara, konsumsi dalam negeri, diperkirakan meningkat akibat penerapan biodesel B35 mulai 1 Februari 20223,” terang pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur itu.

Tinggalkan Komentar