Senin, 16 Mei 2022
15 Syawal 1443

Meski Gejala Ringan, Tetap Waspada dengan Serangan Varian Omicron

Varian Omicron
Dokumentasi Dinas Kesehatan

Varian Omicron memiliki gejala lebih ringan dibandingkan dengan Delta. Varian COVID-19 terbaru itu, meski menimbulkan gejala ringan, namun masyarakat tetap harus waspada terhadap serangannya.

Hal tersebut terungkap oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), Jakarta, ditulis, Senin, (14/02/2022).

“Karena tingkat penularannya tinggi sekali, tetap bisa membuat rumah sakit terbebani karena jumlah kasusnya tinggi, bukan karena beratnya,” papar Tjandra Yoga.

Hingga kini, Omicron masih terus menular di berbagai negara. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam kurun 10 pekan, ditemukan sekitar 90 juta kasus varian Omicron.

Baca juga
Hanya 6 Hari, Box Office China Raup Rp13,6 T, Biangnya 'The Battle at Lake Changjin II'

“Kurang lebih sama seperti kasus tahun 2020,” tambah mantan Direktur WHO Asia Tenggara itu.

Kasus reinfeksi timbul

Terlihat, kasus reinfeksi kerap timbul pada varian Omicron ini. Hal ini menjadi bukti, Omicron bisa menyerang imunitas pada seseorang yang sebelumnya pernah terinfeksi COVID-19.

Karena itu, Tjandra Yoga mengingatkan kapada masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin penuh untuk segera menerima dosis penguat atau booster. Hal ini agar efikasi vaksin kembali naik.

Varian Omicron di Indonesia awalnya timbul dari Pelaku Perjalanan Luar Negeri. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah kasus di Indonesia semakin banyak terjadi dari penularan lokal.

Baca juga
Masyarakat Patuh jadi Kunci Atasi Gelombang Kedua

Sejak awal Februari 2022, kasus Omicron di Indonesia terus bertambah. Melihat keadaan saat ini, mantan Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI itu berharap kasus Omicron juga akan cepat turun.

“Kita berharap kalau naik tidak terlalu tinggi kasusnya dan bisa segera turun,” ujar dia.

Dilihat dari kasus Omicron di RSUP Persahabatan, gejala yang banyak terlihat adalah batuk kering (63 persen), nyeri tenggorokan (54 persen), pilek (27 persen), sakit kepala (36 persen), letih dan nyeri otot (60 persen), nyeri perut (5 persen) dan demam (18 persen).

“Dulu orang-orang ke RS dalam keadaan menggigil, sekarang keluhannya lebih ke saluran napas atas,” katanya.

Baca juga
Sahur jadi Kunci Ibu Lancar Menyusui Saat Berpuasa

Dia juga menambahkan dulu gejala yang lebih dominan adalah demam.

Prokes ketat hadapi varian Omicron

Dia mengingatkan masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes), segera memeriksakan diri saat bergejala atau kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.

Bila terbukti positif, segera beritahu orang-orang yang pernah kontak dekat. Pemerintah pun diharapkan untuk meningkatkan serta mempermudah tes, serta menggiatkan telusur (trace).

Vaksinasi juga penting dalam menghadapi COVID-19.

Masyarakat diharap agar mau diberi vaksin yang tersedia, sementara pemerintah diharapkan mempermudah vaksinasi dan meningkatkan vaksinasi lansia.

Tinggalkan Komentar