inilah.comnewsinternasionalMeski Terdampak Kenaikan Harga Minyak, Menlu Rubio Klaim Ekonomi AS Tetap Tangguh

Meski Terdampak Kenaikan Harga Minyak, Menlu Rubio Klaim Ekonomi AS Tetap Tangguh

Ikhsan Medium.jpeg
Rabu, 6 Mei 2026 - 16:17 WIB
Share
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio. (Foto: Anadolu Agency)

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio. (Foto: Anadolu Agency)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung
KecilBesar

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengakui bahwa negaranya tidak sepenuhnya kebal terhadap lonjakan harga minyak global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan dengan Iran. Meski demikian, Rubio menegaskan bahwa posisi ekonomi dan cadangan energi Negeri Paman Sam masih jauh lebih stabil dibandingkan negara-negara lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Rubio dalam sebuah pengarahan resmi pada Selasa (5/5/2026) waktu setempat. Ia menyoroti dinamika pasar energi yang kian tidak menentu sejak eskalasi militer di Timur Tengah memanas.

Ketahanan Energi di Tengah Kerentanan Global

Rubio tidak menampik bahwa keterhubungan pasar global membuat Amerika Serikat ikut merasakan imbas dari fluktuasi harga komoditas energi. Namun, ia menekankan adanya perlindungan struktural yang membuat dampak tersebut tetap terkendali.

“Kami tentu masih rentan dalam batas tertentu terhadap harga global, tetapi pada akhirnya, kami lebih terlindungi dibandingkan negara lain,” tegas Rubio di hadapan awak media.

Senada dengan itu, Presiden AS Donald Trump pada Senin (4/5/2026) melontarkan nada optimisme. Trump mengklaim mulai melihat adanya tren penurunan harga energi di pasar domestik dan memproyeksikan harga akan merosot tajam begitu konflik bersenjata tersebut dinyatakan berakhir.

Dampak Blokade Selat Hormuz

Ketegangan ini bermula pada 28 Februari 2026, saat pasukan AS dan Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap sejumlah titik strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut memicu kerusakan infrastruktur yang masif dan jatuhnya korban sipil.

Teheran merespons cepat dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta berbagai fasilitas militer Amerika Serikat yang tersebar di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.

Konfrontasi langsung ini secara otomatis menciptakan blokade de facto di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi vital bagi distribusi minyak bumi dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia ke pasar dunia.

Kemacetan logistik di jalur ini menjadi faktor utama yang mendorong meroketnya harga minyak dunia serta memberikan tekanan inflasi di berbagai belahan bumi.

Upaya Meredam Tekanan Ekonomi

Langkah Washington saat ini berfokus pada pengamanan pelayaran komersial sekaligus menjaga sentimen pasar agar tetap tenang. 

Meskipun Trump menjanjikan harga akan turun 'signifikan' setelah perang, publik global masih menantikan langkah diplomatik nyata untuk mengakhiri kebuntuan di jalur Hormuz.

Bagi AS, menjaga stabilitas harga energi menjadi krusial untuk mencegah perlambatan ekonomi domestik, terutama di tengah biaya kampanye militer yang terus membengkak di kawasan Teluk.

0 suka
0 bookmark
Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com