Jumat, 07 Oktober 2022
11 Rabi'ul Awwal 1444

Mi Instan Dikonsumsi 20 Persen Rakyat Indonesia, DPR Usulkan Ada Subsidi

Kamis, 11 Agu 2022 - 23:18 WIB
Mi Instan Dikonsumsi 20 Persen Rakyat, DPR Usulkan Ada Subsidi
Anggota Komisi XI asal Gerindra, Kamrussamad.

Anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad angkat suara terkait kenaikan harga mi instan. Gara-gara harga gandum impor, bahan baku utama mi instan, melonjak.

Kamrussamad menyampaikan, mahalnya harga mi instan, tidak bisa dipandang remeh. Dalam hal ini, pemerintah harus siapkan subsidi mi instan. Lantaran, jenis makanan ini sering dikonsumsi masyarakat ekonomi lemah.

“Di awal tahun, per bungkus mi instan harganya Rp 2.400. Sekarang di Agustus sudah lebih dari Rp3 ribu per bungkus. Kenaikan ini akan mengurangi daya beli masyarakat,” tuturnya.

Politisi Gerindra ini, mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS), menyebut, mi instan adalah komoditas pangan yang riil dikonsumsi 20 persen penduduk Indonesia, yang berada di atas garis kemiskinan sementara.

Baca juga
Mendag Zulhas Minta Dukungan Percepatan Otorisasi GSP Saat Bertemu USTR

“Jadi, kenaikan harga mi instan akan berdampak bagi rakyat miskin. Apalagi konsumsi mi dari masyarakat Indonesia sangat tinggi. World Instant Noodles Association (WINA), mencatat Indonesia sebagai negara kedua dengan konsumsi mie instan terbanyak di dunia,” papar pendiri KAHMIPreneur itu.

Kata dia, BPS mencatat, konsumsi domestik mi instan seluruh Indonesia, mencapai 13,2 miliar bungkus per tahun. “Karena itu, pemerintah harus mengantisipasi lonjakan harga mie instan dengan menyiapkan subsidi mi instan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mewanti-wanti masyarakat terkait kemungkinan naiknya harga mi instan hingga 3 kali lipat, atau 300 persen. Kenaikan harga mi instan ini disebut gara-gara konflik atau perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. Kedua negara itu termasuk dalam produsen gandum terbesar di dunia.

Baca juga
Neraca Perdagangan RI Surplus, Nilai Ekspor Tembus US$26,50 Miliar

Karenanya, perang akan membuat pasokan gandum, yang merupakan bahan baku mi instan, dari dua negara tersebut terhambat dan membuat harga mi instan dalam negeri naik. Apalagi Indonesia termasuk negara pengimpor gandum terbesar.

Namun, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dan Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Franciscus Welirang punya pandangan berbeda. Keduanya menyatakan, kenaikan harga gandum saat ini, tidak membuat harga mi instan naik hingga 300 persen. Sebab panen gandum di negara produsen, telah membaik. Terlebih lagi dikatakan bahwa Indonesia mengimpor gandum ke banyak negara, jadi bukan hanya Rusia atau Ukraina.

Tinggalkan Komentar