Jumat, 07 Oktober 2022
11 Rabi'ul Awwal 1444

Mi Instan, Murah dan Nikmat, Namun Ini Risikonya Bagi Kesehatan!

Jumat, 12 Agu 2022 - 11:46 WIB
Mi Instan
(ist)

Beberapa hari terakhir, gencar pemberitaan soal kemungkinan harga mie instan bakal naik bahkan hingga tiga kali lipat. Tentu ini kabar sedih terutama bagi golongan menengah ke bawah. Selama ini mi instan menjadi ‘penyelamat’ warga di tengah tingginya harga bahan pokok. Namun, ada risiko kesehatan yang mengintai jika mengonsumsi secara berlebihan.

Isu soal mi instan menyeruak setelah Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebut harga mi instan di dalam negeri berpotensi naik hingga tiga kali lipat seiring dengan tingginya harga gandum dunia yang disebabkan perang Rusia-Ukraina.

Mentan Syahrul mengatakan keadaan pangan di dunia saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Pasalnya, banyak faktor yang mempengaruhi kondisi di sektor pangan, salah satunya adalah perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina.

“Jadi hati-hati yang makan mi banyak, dari mi banyak dari gandum besok harganya tiga kali lipat itu, maafkan saya bicara ekstrem saja ini, ada gandumnya tapi harganya akan mahal banget. Sementara kita impor terus mi gitu loh,” kata Syahrul dikutip dari YouTube Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Selasa (9/8/2022).

Pernyataan Syahrul Yasin Limpo dibantah Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. Menutur Zulhas, harga gandum justru bakal turun. Sebab negara-negara penghasil gandum seperti Australia, Kanada dan Amerika yang sempat gagal panen, kini sudah kembali panen.

“Enggak (naik), dulu kan gagal panennya seperti Australia, Kanada, Amerika, sekarang panennya sukses. Apalagi sekarang Ukraina sudah boleh jual,” kata Zulhas. Dia mengatakan kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu ke Rusia membawa dampak baik terhadap ketersediaan dan pasokan gandum di Indonesia.

“Presiden pergi ke Rusia dan ternyata berhasil, gandum bebas sekarang. Justru menurut saya, gandum pada September akan turun harganya, trennya akan turun. Jadi kalau tiga kali tidak lah, kalau ada kemarin naik sedikit iya. Sehingga, inflasi kita 4 persen, 5 persen jadi naiknya segitu, tapi cenderung September akan turun,” ujarnya.

Murah dan Mudah Tapi Tidak Sehat

Harga mi instan di pasaran memang terbilang masih terjangkau berada di kisaran harga Rp3.000 per bungkus, tergantung merek, ukuran dan rasa. Mi instan, sejak lama tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat di Tanah Air. Hampir di setiap rumah warga memiliki persediaan mie instan sebagai cara mudah menyajikan makanan murah meriah.

Baca juga
India Setop Ekspor Gandum, Mi Instan Semakin Mahal

Selain itu warga juga dapat dengan mudah mendapatkannya, baik yang masih belum diolah maupun yang sudah dalam keadaan siap makan di warung-warung pinggir jalan. Harga dan rasa yang cocok dengan lidah orang Indonesia inilah yang menjadi daya tariknya.

Hanya saja meskipun harganya masih akan tetap murah, namun mengonsumsi mie instan memiliki risiko kesehatan. Apalagi jika memakannya secara berlebihan. Ini karena kandungannya bisa menimbulkan kemungkinan efek mie instan pada kesehatan.

Sebagian besar mie instan rendah kalori, tetapi juga rendah serat dan protein. Juga terkenal karena tinggi lemak, karbohidrat, dan natrium. Meskipun Anda bisa mendapatkan beberapa mikronutrien dari mi instan, namun bisa mengalami kekurangan nutrisi penting seperti vitamin A, vitamin C, vitamin B12, dan banyak lagi.

Risiko bagi Kesehatan

Banyak yang tidak tahu bahwa ada risiko kesehatan yang mendasarinya ketika mengonsumsi mi instan. Ada beberapa alasan mengapa mie instan buruk untuk Anda, mengutip Healthplus.

Alasan pertama adalah memiliki kandungan natrium yang tinggi. Satu porsi mie instan bisa mengandung antara 1.000-1.400mg natrium, terkadang bahkan lebih ada yang mencapai hingga 3.000 mg pada merek-merek impor. Sementara kebutuhan natrium harian seseorang berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) sekitar 1.500 mg saja. Natrium sebenarnya mineral penting untuk berfungsinya tubuh, tetapi terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan
.
Memiliki asupan tinggi garam telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker perut, penyakit jantung dan stroke. Pada individu yang dianggap sensitif terhadap garam, diet tinggi natrium dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi yang, pada gilirannya, dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung dan ginjal.

Mempertimbangkan rekomendasi asupan natrium, mengonsumsi satu bungkus mi instan saja akan membuat Anda sangat sulit untuk menjaga asupan natrium dalam batas yang disarankan. Dengan demikian, orang yang mengonsumsi beberapa bungkus mi instan per hari pasti akan menyebabkan sejumlah besar natrium yang tertelan.

Baca juga
Jangan Sampai Dehidrasi Saat Isoman

Alasan kedua adalah mie instan memiliki kadar monosodium glutamat (MSG) yang tinggi. Peran utama MSG adalah untuk meningkatkan rasa dan palatabilitas makanan. Meskipun banyak digunakan dalam banyak jenis makanan dan disetujui untuk dikonsumsi oleh FDA, ada kekhawatiran mengenai efek jangka pendek dan jangka panjang MSG pada tubuh.

Laporan anekdotal menunjukkan bahwa konsumsi MSG telah dikaitkan dengan gejala seperti sakit kepala, mual, tekanan darah tinggi, lemah, ketegangan otot, nyeri dada, jantung berdebar, dan kulit memerah. Jika Anda mengalami salah satu dari gejala-gejala ini setelah mengonsumsi MSG, mungkin memiliki kondisi yang dikenal sebagai kompleks gejala MSG.

Meskipun belum ada bukti definitif yang menetapkan hubungan tersebut, diakui bahwa sebagian kecil orang memiliki reaksi jangka pendek terhadap MSG ini.

Beberapa penelitian juga mengaitkan konsumsi MSG yang tinggi dengan obesitas dan peningkatan tekanan darah. Namun sejumlah kecil MSG yang ditemukan dalam mie instan kemungkinan tidak akan menyebabkan efek samping selama dikonsumsi dalam jumlah sedang.

Alasan ketiga adalah rendah serat dan protein. Meskipun merupakan makanan rendah kalori, mie instan rendah serat dan protein yang mungkin bukan menjadi pilihan yang baik untuk menurunkan berat badan. Protein telah terbukti meningkatkan perasaan kenyang dan mengurangi rasa lapar, sementara serat membuat makanan bergerak perlahan melalui saluran pencernaan, sehingga meningkatkan perasaan kenyang.

Mengingat rendahnya kadar protein dan serat dalam mie instan, mengonsumsinya secara teratur kemungkinan besar tidak akan memuaskan rasa lapar atau membuat Anda merasa kenyang. Selain itu, diet rendah serat dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap kondisi pencernaan seperti sembelit dan penyakit divertikular serta pengurangan bakteri usus yang sehat.

Alasan keempat adalah, kualitas diet yang buruk. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi mie instan secara teratur dikaitkan dengan kualitas diet yang buruk secara keseluruhan. Dalam sebuah penelitian, diet yang mengonsumsi mi instan dibandingkan dengan mereka yang tidak. Konsumen mi instan ditemukan mengalami penurunan asupan protein, kalsium, vitamin C, fosfor, zat besi, niasin, dan vitamin A secara signifikan.

Baca juga
Penting, Lakukan Pemeriksaan Tes Darah Tinja untuk Deteksi Dini Kanker Kolorektal

Mereka juga mengalami peningkatan asupan natrium dan kalori. Mi instan juga ditemukan meningkatkan risiko seseorang terkena sindrom metabolik, suatu kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Alasan lainya adalah sulit dicerna sehingga bisa menyebabkan kanker. Selain praktis, mi instan juga salah satu panganan yang cukup awet untuk disimpan berbulan-bulan, tanpa lemari pendingin. Hal itu karena mi instan menggunakan bahan kimia dan pengawet Bulyted hydroxyanisole (BHA) dan Butylhydroquinone (TBHQ). Dua jenis pengawet ini bersifat karsinorgenik atau bisa menyebabkan kanker.

Tidak hanya kanker, bahan kimia yang bersifat karsinorgenik juga menyebabkan asma, kecemasan, dan jika dikonsumsi jangka panjang bisa mengakibatkan diare. Mengonsumsi mi instan dapat membebani sistem pencernaan yang harus bekerja lebih berat untuk mencerna.

Tips Mi Instan Lebih Sehat

Meskipun tidak baik bagi kesehatan ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar mi instan menjadi lebih sehat. Ini dimulai dari cara mengolahnya alias memasaknya. Yang bisa dilakukan di antaranya dengan membuang sebagian bumbu, jangan gunakan semuanya. Bumbu mi instan mengandung kadar natrium yang tinggi. Ganti dengan bahan alami yang bisa memperkaya rasa seperti minyak wijen atau kecap.

Anda juga menambahkan sayuran segar untuk menambah nilai gizinya. Bisa dengan pakchoy, selada, sawi, wortel atau sayuran lainnya. Sayuran selain kaya serat juga mengandung nutrisi penting seperti potasium, folat, vitamin A dan C. Anda juga dapat menambahkan protein agar mi instan lebih menyehatkan. Misalnya dengan menambahkan telur atau irisan daging sapi maupun ayam tanpa lemak.

Jadi Anda bisa menikmati mi instan dan akan baik-baik saja selama mempertahankan cara makan yang lebih sehat dengan memperhatikan pemenuhuan gizi seimbang. Ditambah dengan menjalani gaya hidup sehat serta olahraga secara rutin.

 

Tinggalkan Komentar