Senin, 23 Mei 2022
22 Syawal 1443

Militer Rusia Izinkan Warga Sipil Tinggalkan Kota Mariupol Ukraina

Militer Rusia Izinkan Warga Sipil Tinggalkan Kota Mariupol Ukraina
Mariupol Apartment Buildings

Militer Rusia izinkan warga sipil Kota Mariupol, Ukraina untuk meninggalkan kota tersebut. Militer Rusia izinkan warga dan memberi waktu lima jam pada Sabtu (5/3) pukul 12.00 hingga 17.00 waktu Moskow (16.00-21.00 WIB) untuk meninggalkan kota.

Hal ini berdasarkan laporan dari kantor berita Rusia RIA pada hari ini terkait kondisi terakhir serangan Rusia ke Ukraina.

Sebelumnya, Rusia mengatakan bahwa pasukannya, yang telah mengepung kota pelabuhan di tepi Laut Azov itu, akan menghentikan serangan dan mengizinkan warga sipil untuk melintas.

Wali kota Mariupol Vadym Boychenko pada Jumat meminta bantuan militer karena kota itu kehabisan air minum, listrik dan bahan bakar untuk pemanas, sementara persediaan makanan juga mulai menipis.

Baca juga
Cakupan Vaksin Covid-19 Dosis Pertama Indonesia Capai 130,3 Juta Orang

Dia juga meminta adanya “koridor kemanusiaan” agar dapat mengevakuasi 400.000 penduduk setelah pasukan Rusia membombardir kota itu selama lima hari.

Dia menggambarkan serangan Rusia sebagai aksi tak pandang bulu karena menyerang kawasan permukiman dan rumah sakit.

“Mereka ingin melenyapkan Mariupol dan penduduk Mariupol dari muka bumi,” katanya.

Rusia sendiri telah mengatakan bahwa aksi militernya tidak untuk menduduki Ukraina tapi menghancurkan kemampuan militer negara tetangganya. Rusia juga menangkap orang-orang “nasionalis berbahaya”. Selain itu pihak Moskow membantah membidik warga sipil.

Wakil komandan unit militer Azov, bagian dari Garda Nasional Ukraina mengatakan hingga saat ini pihaknya masih terus mempertahankan Mariupol. Namun mereka juga sangat membutuhkan bantuan yang cukup untuk mempertahankan ini.

Baca juga
Walt Disney Akan Tangguhkan Semua Bisnis di Rusia

“Ini adalah kota terakhir yang mencegah terbentuknya koridor darat dari Rusia ke Krimea,” kata dia di kanal resmi Azov di Telegram, seraya mengenalkan dirinya dengan nama panggilan “Kalyna”.

“Mariupol tidak boleh jatuh,” katanya.

Tinggalkan Komentar